Bagaimana Nasib Liga 1?
20
Jan
2021
0 Comment Share Likes 428 View

“Intinya kompetisi lanjutan tahun 2020 ini akan diteruskan. Apakah mulai 1 November, 1 Desember, atau 1 Januari 2021.”

Demikian cuitan dari akun twitter resmi Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan, pasca extraordinary club meeting pada 13 Oktober 2020 lalu di Yogyakarta. Sayangnya, hingga tulisan ini disusun pada pekan ketiga Januari 2021, tak satupun isi cuitan tersebut yang jadi kenyataan. Penyelenggaraan Liga 1 yang sempat terhenti karena pandemi sejak awal 2020 tak juga menemui titik terang.

Nasib ketidakjelasan kompetisi hingga saat ini

Senin, 16 Maret 2020, Liga 1 2020 resmi dihentikan akibat penyebaran virus corona yang mulai meningkat di Indonesia. Keputusan tersebut diambil bersama oleh PT. Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai penyelenggara, PSSI, dan Kemenpora. Awalnya, status penghentian liga hanya sementara selama periode dua pekan. Akan tetapi, kondisi pandemi yang masih belum kunjung membaik membuat para stakeholder menghentikan liga secara resmi pada 22 Maret. Situasi pandemi dianggap memenuhi kriteria darurat bencana dalam manual penghentian liga.

Sejak saat itu, belum ada kepastian kapan Liga 1 akan dimulai kembali. Meski beberapa kali ‘menjanjikan’ restart Liga 1, seperti di cuitan ketua umum yang sama-sama kita lihat di atas, faktanya sampai saat ini belum ada proposal terkait kembalinya Liga 1 yang betul-betul komprehensif. Alhasil sejauh ini, insan sepakbola lokal masih harus menebak-nebak dan menunggu dalam ketidakpastian.

PSSI dan PT. LIB sebetulnya kerap mengadakan pertemuan dengan klub, bahkan beberapa kali dengan pihak kepolisian dan Satgas Covid-19 untuk membahas mekanisme penyelenggaraan liga. Hasilnya seperti yang sudah kita lihat, masih nihil hingga saat ini.

Pada bulan Juli-Agustus sebetulnya harapan sempat ada dengan keputusan akan dimulainya Liga 1 dan Liga 2 kembali di awal Oktober. PSSI sudah menyiapkan protokol kesehatan mulai dari latihan, sebelum, selama, dan setelah pertandingan. Penyesuaian kompetisi juga sudah dilakukan. Beberapa klub mulai menyediakan homebase baru sebagai antisipasi tidak bisa digunakannya stadion di kota asalnya. Pemain-pemain dikumpulkan kembali untuk latihan. Liga 2 bahkan sudah melakukan drawing ulang menyusul perubahan format kompetisi. Sayangnya hal tersebut urung dilaksanakan.

Sempat ‘nyaris’ digelar Oktober 2020, Liga 1 kembali tertunda karena alasan keamanan (Detik)

 

Dalam beberapa momen, pihak-pihak terkait cenderung terlihat melempar tanggung jawab. PSSI dan PT. LIB masih menyayangkan belum keluarnya izin pertandingan dari pihak kepolisian. Begitu juga dengan Kemenpora yang tidak bisa mengintervensi keputusan tersebut. Situasi ini tentu dipandang cukup janggal. Andai liga tidak mendapat izin karena berpotensi menghadirkan keramaian, acara-acara lain yang jelas mendatangkan keramaian justru diberi izin. Bahkan penyelenggaraan sepakbola amatir yang terlaksana tanpa protokol kesehatan juga berjalan seperti biasanya.

Di sisi lain, pertemuan-pertemuan antara PT. LIB dengan klub juga jarang mendapatkan hasil yang komprehensif. Seringkali hasil pertemuan hanya berbentuk poin-poin usulan tanpa ada gerakan yang nyata terkait kelanjutan kompetisi. Kalau sudah begini, proses perumusan kelanjutan Liga 1 terlihat seperti lingkaran setan yang tidak ada ujungnya. Klub, federasi, dan liga menekan polisi agar mengeluarkan izin, sementara keputusan yang mereka ambil juga tidak begitu memberikan solusi.

Liga negara lain bisa, kenapa kita tidak?

Kondisi Liga 1 yang masih berantakan tentu menimbulkan banyak pertanyaan. Ungkapan ‘rumput tetangga selalu lebih hijau’ jelas terbukti. Adalah fakta bahwa Indonesia merupakan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang gagal menggelar kompetisi sepakbola kasta tertingginya di musim 2020. Negara-negara tetangga, termasuk yang animo sepak bolanya tidak sebesar Indonesia sekalipun bisa menyelesaikan musim 2020 dengan aman meski harus melakukan beberapa penyesuaian.

Vietnam merupakan liga yang tidak banyak terdampak di masa pandemi ini. Angka infeksi Covid-19 di negara tersebut memang cenderung kecil. Liga sepakbola mereka, V.League, masih bisa berjalan normal bahkan dengan dihadiri penonton sesuai dengan kapasitas stadion. Akan tetapi, ketika ada peningkatan kasus, mereka dengan cepat menyiasatinya dengan protokol kesehatan dan kompetisi yang baik.

Malaysia juga terbilang sukses dalam menyiasati pandemi. Sempat terhenti di waktu yang sama dengan Liga 1, mereka kembali menggulirkan Malaysia Super League (MSL) pada Agustus dan selesai tepat waktu di penghujung tahun. Penyelenggaraan MSL dilakukan dengan memangkas penyelenggaraan menjadi hanya satu putaran. Penyelenggaraan juga dilakukan dengan protokol ketat. Misalnya, di dua minggu awal tim berlatih kembali, latihan hanya boleh dilakukan dengan drill tanpa kontak fisik.

Malaysia Super League 2020 digelar dengan protokol Covid-19 (Goal)

 

Selain dua negara di atas masih ada Thai League yang berjalan dengan kompetisi penuh dan pergantian kalender kompetisi menjadi 2020-2021 dan Philippines Football League yang menerapkan sistem bubble dalam home tournament. Malaysia dan Vietnam bahkan sudah bersiap menyongsong musim 2021, membuat sepakbola kita makin tertinggal dua tahun.

Kondisi pandemi yang tidak terkendali di Indonesia memang menjadi tantangan terbesar. Hingga pertengahan Januari kasus Covid-19 di Indonesia terus meningkat mendekati angka 1 juta kasus. Begitu juga dengan kasus harian yang sudah mencapai angka 11 ribu kasus per hari. Penyelenggaraan liga tentu sangat terkait dengan keseriusan pemerintah menangani pandemi. Pemerintah Malaysia dan Vietnam, misalnya sudah menerapkan lockdown sejak awal tahun. 

Klub, pemain, dan industri sepakbola profesional menjadi korban

Ketidakpastian status kompetisi tentu berdampak bagi para pelaku di dalamnya. Peserta liga, seperti klub, pemain, pelatih, ofisial, dan industri sepakbola profesional secara umum termasuk tv dan sponsor harus menanggung kerugian tersebut.

Klub menjadi salah satu pihak yang harus menerima kerugian tersebut. Tanpa adanya kompetisi, klub tidak bisa menerima pemasukan. Banyak klub yang masih mengandalkan pemasukan dari tiket penonton, yang dipastikan nihil selama pandemi. Belum lagi nilai sponsor yang nominalnya mengalami renegosiasi.

Dalam kondisi tersebut klub masih harus menggaji pemain. PSSI memang memberikan kelonggaran untuk memberikan gaji sebesar 25% dari nilai kontrak awal. Akan tetapi, tanpa adanya pemasukan klub tentu sulit bertahan. Beberapa klub mengambil keputusan yang sulit, seperti Persipura dan Madura United yang membubarkan tim sampai ada kejelasan kompetisi.

Pemain, pelatih, hingga ofisial tim menjadi pihak yang turut dirugikan. Sumber pendapatan mereka dari sepakbola jelas harus berkurang. Apalagi tidak sedikit dari mereka yang diputus kontraknya. Beberapa pemain asing yang kontraknya tinggi harus rela dilepas dan pindah ke negara yang liganya berjalan. Situasi serupa juga terjadi bagi beberapa pemain lokal yang mencoba peruntungan di negara-negara tetangga.

Madura United menjadi salah satu tim yang membubarkan diri (Bola.net)

 

Sayangnya tak semua pemain punya akses dan level yang bisa membuatnya tampil di luar negeri. Alhasil banyak dari mereka yang tetap berada di kondisi tak mengenakan ini. Beberapa akhirnya mesti bermain di turnamen tarkam yang jelas tak menguntungkan dan cenderung berbahaya bagi karir mereka. Akan tetapi, keputusan tersebut mau tidak mau diambil sebagian pemain demi tetap memperoleh pemasukan.

Dampak secara masifnya bisa dilihat pada perkembangan kompetisi kita yang setidaknya bisa berdampak pada tiga hal, yaitu perkembangan pemain muda, prestasi tim nasional, dan keikutsertaan klub Indonesia di kompetisi Asia. Tidak adanya kompetisi berarti tidak ada wadah bagi pemain untuk meningkatkan level permainannya. Tidak adanya pemain yang kompeten bisa berdampak pada turunnya level permainan tim nasional. Tidak adanya kompetisi juga bisa mempersulit keikutsertaan tim-tim Indonesia di kompetisi Asia.

Tidak berjalannya liga memiliki dampak buruk yang multidimensional, mulai dari aspek sepakbola hingga industri. Tanpa adanya tindakan konkrit dari semua pemangku kebijakan, sepakbola Indonesia bisa mundur jauh di tengah pandemi seperti ini.

Pandemi tentu bukan situasi yang diinginkan semua pihak.  Meski begitu, bukan berarti kita menyerah dengan keadaan. Besar harapannya para pemangku kebijakan mampu dengan segera mendapatkan solusi untuk permasalahan ini. Mungkin bagi banyak orang sepakbola bukan sekedar hiburan di kala senggang, tetapi juga tempat menyambung hidup. Semoga kasta tertinggi sepak bola di Indonesia cepat kembali berkompetisi, Pria Intersport.

SAMPAIKAN KOMENTAR