Atalanta Nyaris Bikin Real Madrid Frustasi
25
Feb
2021
1 Comment Share Likes 277 View

Real Madrid akhirnya bisa membawa pulang kemenangan dari Gewiss Stadium, markas Atalanta dalam leg pertama babak 16 besar Liga Champions, Kamis dini hari WIB 25 Februari 2021. Skuad asuhan Zinedine Zidane berhasil memenangkan pertandingan dengan skor tipis 1-0. Hasil yang penting bagi Real Madrid untuk menatap leg kedua yang berlangsung di kandang sendiri.

Tidak mudah bagi tim berjuluk Los Blancos untuk memenangkan pertandingan ini. Mereka mesti berjuang ekstra keras hingga menit ke-86 sampai akhirnya tendangan dari luar kotak penalti yang dilepaskan Ferland Mendy bisa membuat bola bersarang mulus ke gawang tuan rumah. Dari bangku cadangan, Zinedine Zidane akhirnya bisa tersenyum lega.

Mengutip Sofascore.com, statistik penguasaan bola Real Madrid mencapai 69 persen. Raphaël Varane dan kawan-kawan juga harus melakukan 19 kali percobaan ke arah gawang Atalanta, tapi cuma empat di antaranya yang mengarah tepat ke sasaran. Sisanya enam kali melenceng, dan sembilan kali berhasil diblok oleh pemain tuan rumah.

Pelatih Atalanta, Gian Piero Gasperini menerapkan formasi 3-4-1-2 untuk menghadapi Real Madrid yang tampil pincang. Zinedine Zidane mesti melakukan banyak perubahan starting XI. Isco berperan sebagai second striker dengan formasi 4-3-3. Dia ditemani Vinícius Júnior dan Marco Asensio sebagai penyerang sayap kiri dan kanan.

 

Ferland Mendy pencetak gol kemenangan Real Madrid atas Atalanta. Foto: Twitter.com/realmadriden

 

Beruntungnya Real Madrid, tiga gelandang andalan mereka, Toni Kroos, Luka Modrić, dan Casemiro bisa diturunkan secara bersamaan. Sedangkan di lini belakang, Lucas Vázquez diplot sebagai bek sayap kanan, lalu ada Ferland Mendy di sisi kiri. Sedangkan duet bek tengah jadi milik Raphaël Varane dan Nacho Fernandez.

Dari sini sisi menarik adu cerdik dua pelatih diuji. Atalanta memberikan pressing agresif kepada para pemain Real Madrid setiap kali menguasai bola. Dua gelandang bertahan mereka, Remo Freuler dan Marten de Roon dibantu oleh Matteo Pessina sebagai gelandang serang bertugas mengunci para pemain tengah Real Madrid.

Tiga bek yang berdiri sejajar, Rafael Tolói, Cristian Romero, dan Berat Djimsiti juga tak kalah agresif. Mereka berani melakukan pressing agresif sampai ke daerah permainan Real Madrid. Meski maju terlalu jauh, tapi Atalanta masih bisa seimbang. Dua gelandang sayapnya, Robin Gosens dan Joakim Mæhle disiplin dalam mengisi ruang kosong yang ditinggalkan para bek.

Sepanjang 10 menit awal pertandingan, Real Madrid benar-benar dibuat kewalahan oleh Atalanta. Terlebih tuan rumah begitu cerdik dalam melakukan serangan balasan. Mengandalkan umpan panjang langsung ke depan, Duván Zapata dan Luis Muriel siap untuk berduel dengan bek lawan. Dengan kecepatan dan kekuatan tubuh, keduanya beberapa kali membuat barisan pertahanan Real Madrid jatuh bangun saat melakukan intervensi serangan.

Kartu Merah Mengubah Atalanta

Kesulitan menghadapi Atalanta yang menerapkan pressing agresif membuat Toni Kroos dan Luka Modrić harus lebih kreatif lagi. Dibantu oleh Isco yang aktif bergerak mundur ke belakang, mereka secara bergantian memanfaatkan lebar lapangan untuk membuka ruang. Tujuannya cuma satu, mencari kesempatan untuk mengkreasikan serangan guna menciptakan peluang.

 

Heatmaps Isco dalam pertandingan Real Madrid melawan Atalanta. Foto: Sofascore.com

 

Sebuah momen yang pada akhirnya mengubah situasi Atalanta terjadi pada menit 17. Penguasaan bola simpel yang dilakukan Real Madrid berhasil membuat sang lawan melakukan kesalahan. Pressing agresif dihindari dan berakhir dengan umpan kepada Vinícius Júnior yang merangsek di depan kotak penalti. Remo Freuler tak punya pilihan lain. Dia langsung menghadang Vinícius Júnior, tapi wasit mengeluarkan keputusan tegas berupa kartu merah.

Kalah jumlah pemain membuat Atalanta lebih berhati-hati dalam melakukan pressing. Mereka tidak lagi agresif. Dua gelandang bertahan cuma menanti di area pertahanan. Situasi yang menguntungkan pemain tengah Real Madrid karena bisa leluasa menguasai bola di kakinya. Dominasi atas penguasaan bola bisa terus mereka jaga.

Penerapan strategi bertahan lebih ke dalam ini turut mempengaruhi rotasi penyerangan Atalanta. Mereka tidak lagi bisa membuat pertahanan Real Madrid kewalahan, karena dukungan dari lini kedua yang ditempati Matteo Pessina menjadi lebih lambat. Duván Zapata yang sendirian di depan sulit memenangkan duel dengan bek Los Blancos.

Terbentur Compact Defense

Unggul jumlah pemain sejak pertengahan babak pertama dan bisa menguasai permainan tak lantas membuat Real Madrid mudah menciptakan gol. Mereka kerap terbentur oleh kesigapan pemain Atalanta dalam menutup celah di lini pertahanan. Bahkan untuk sekedar melepaskan tembakan ke arah gawang pun menjadi tidak mudah bagi tim tamu.

Gian Piero Gasperini memutuskan untuk membuat garis pertahanan dalam di babak kedua. Compact defense menjadi pilihan juru taktik berusia 63 tahun tersebut. 20 menit pertandingan berjalan, apa yang diterapkan tim berjuluk La Dea benar-benar ampuh membuat upaya Real Madrid menciptakan ancaman menjadi begitu sulit.

Zinedine Zidane melakukan kontra strategi setelah melihat anak asuhnya kesulitan mengandalkan operan pendek di pertahanan lawan. Dia memasukkan Mariano Diaz untuk menggantikan Vinícius Júnior pada menit 57. Tujuannya jelas, yakni menempatkan seorang striker yang kuat berduel udara di area kotak penalti. Suplai bola datang dari Toni Kroos dan Luka Modrić yang kualitas umpan silangnya di atas rata-rata.

 

Pertandingan Atalanta vs Real Madrid dalam leg pertama babak 16 besar Liga Champions. Foto: Twitter.com/realmadriden

 

Apa yang dibayangkan Zinedine Zidane tak berlangsung mulus dalam kenyataannya. Karena di area kotak penalti, minimal ada lima pemain Atalanta yang siap untuk menghalau umpan silang. Pemain bertahan tuan rumah juga tangguh dalam berduel memperebutkan bola, sehingga membuat Mariano Diaz menjadi tidak efektif perannya.

Statistik mencatat Mariano Diaz terlibat tiga kali dalam perebutan bola sepanjang 33 menit bermain. Tapi tidak sekalipun pemain asal Brasil tersebut bisa memenangkannya. Dia bahkan tercatat tujuh kali kehilangan bola dan itu jelas membuat upaya serangan yang dilakukan Real Madrid menjadi sia-sia.

Dua Jempol untuk Trio Bek Atalanta

Di luar gol Ferland Mendy, trio bek Atalanta layak mendapat acungan dua jempol. Sebab, mereka tampil begitu luar biasa disiplin dan tak kenal lelah dalam menghalau serangan dari Real Madrid. Berkat kejelian mereka dalam menutup celah pula yang membuat lawan nyaris frustasi dan tidak kunjung mencetak gol walau terlihat cuma tinggal menunggu waktu saja.

Rafael Tolói, Cristian Romero, dan Berat Djimsiti pula yang membuat kiper Atalanta, Pierluigi Gollini tak perlu langsung menghadapi bahaya besar. Blok-blok yang dilakukan ketiga bek tersebut sangat luar biasa dan tepat akan momentumnya. Ditambah lagi kejelian mereka dalam menyergap pemain Real Madrid dan berhasil melakukan pencurian terhadap bola. Itu mengapa statistik kemenangan mereka dalam perebutan bola bawah berada di atas 50 persen.

 

Bek Atalanta, Rafael Tolói memberi kawalan ketat terhadap Isco. Foto:Twitter.com/realmadriden

 

Rafael Tolói sepanjang 90 menit bermain berhasil mencatatkan tujuh sapuan, satu blok terhadap tendangan ke arah gawang, satu intersep, dan empat kali melakukan tekel. Sedangkan Cristian Romero melakukan satu sapuan, dua blok, lima intersep, dan tiga tekel. Lalu ada Berat Djimsiti dengan catatan statistik lima sapuan, satu blok, tiga intersep, dan sekali tekel.

Menarik untuk menanti bagaimana mereka bisa mempertahankan performa pada leg kedua nanti. Apakah ada tugas tambahan dari Gian Piero Gasperini kepada ketiga pemain tersebut, mengingat bisa jadi skuad utama Real Madrid pada laga di Alfredo di Stefano mendatang sudah lengkap.

Zinedine Zidane juga tentunya sudah belajar dari kesulitan yang dialami anak asuhnya pada pertandingan kali ini. Evaluasi yang dilakukan akan berdampak kepada pendekatan strategi yang tepat. Real Madrid melaju mulus, atau malah Atalanta yang bakal menyuguhkan kejutan di leg kedua? Mari kita tunggu, Pria Intersport.

SAMPAIKAN KOMENTAR