AS Roma Vs Inter Milan: Tajam di Depan, Rapuh di Belakang
10
Jan
2021
0 Comment Share Likes 96 View

Tren delapan kemenangan beruntun Inter Milan baru saja terputus. Mereka dikalahkan Sampdoria dalam pekan ke-16 Serie A ketika melawat ke stadion Luigi Ferraris, markas Sampdoria dengan skor 3-1 pada 6 Januari 2021. Tantangan tidak berhenti sampai di sana. Sebab, lawan berat akan kembali menanti skuad asuhan Antonio Conte.

Minggu malam WIB 10 Januari 2021, Inter Milan menjalani laga tandang ke Stadio Olimpico, kandang AS Roma. Tim yang sedang dalam performa terbaiknya belakangan ini. I Lupi dalam tiga pertandingan terakhirnya selalu bisa memetik kemenangan. Total ada tujuh gol yang telah mereka cetak ke gawang lawan-lawannya.

Pertandingan ini juga akan menentukan persaingan perburuan gelar juara Serie A kedepannya. AS Roma menginginkan kemenangan karena dengan tambahan tiga poin, perolehan poin mereka dengan Inter Milan yang ada di urutan kedua klasemen sementara menjadi sama, yakni 36 angka. AC Milan yang ada di posisi puncak pun akan tidak nyaman karena pesaingnya bertambah.

Status Inter Milan sekarang ini adalah tim Serie A yang paling terdepan dalam urusan membobol gawang lawan. Sejauh ini sudah 41 gol yang disarangkan skuad asuhan Antonio Conte ke gawang lawan. Tapi, masih ada keluhan dari sang juru taktik yang menganggap anak asuhnya masih lemah di lini pertahanan. Karena gawang mereka sudah kebobolan 21 kali.

 

Pertandingan AS Roma vs Inter Milan musim lalu. Foto: Asroma.com

 

"Yang mungkin menjadi kekurangan kami di musim ini adalah sedikit keseimbangan antara lini depan dan belakang. Di mana kami kebobolan terlalu banyak gol. Tapi saya tidak memiliki keluhan tentang permainan menyerang dan juga cara kami menempatkan diri di dalam area penalti," kata Conte, dikutip dari Sky Sports Italia.

Rapuhnya lini belakang sebenarnya juga dialami oleh AS Roma. Gawang mereka sudah 24 kali dibobol oleh lawan. Ketika mereka melawan Napoli dan Atalanta, empat kali mereka kena bobol. Itu jadi jumlah terbanyak lawan mencetak gol ke gawang skuad asuhan Paulo Fonseca dalam satu pertandingan musim ini.

Meski begitu, tetap I Lupi jadi ancaman Inter Milan, mengingat mereka ada dalam urutan kedua tim produktif Serie A dengan 35 gol, sama seperti AC Milan. Melihat situasi tersebut, kesiapan pemain yang diturunkan tidak menjadi satu-satunya hal penting. Adu cerdik kedua juru taktik dalam meramu strategi juga jadi salah satu yang menarik untuk diamati. Mari kita telaah lebih dalam, Pria Intersport.

Paulo Fonseca Vs Antonio Conte

Pada Juni 2019, AS Roma mendatangkan Paulo Fonseca sebagai pelatih. Rekam jejaknya yang terbilang gemilang membuat manajemen I Lupi tertarik dengannya. Namanya mencuat ketika masih membesut C.D. Pinhalnovense. Dengan status wakil dari kompetisi kasta ketiga, tapi mereka berhasil dua musim beruntun lolos ke perempat final Taca de Portugal.

Malang melintang di kompetisi Portugal, akhirnya pada 2012 Paulo Fonseca menangani tim kompetisi kasta tertinggi Primeira Liga, yakni F.C. Paços de Ferreira. Dia membawa klub tersebut finis pada urutan ketiga di akhir musim sekaligus mendapat tiket ke play-off Liga Champions. Sayangnya langkah mereka terhenti oleh Zenit Saint Petersburg dengan agregat 3-8

Gelar juara pertama yang diperoleh Paulo Fonseca diraih pada 2013 bersama FC Porto di ajang Supertaça Cândido de Oliveira. Lalu di musim 2015/2016 ketika membesut Sporting Braga, trofi Taça de Portugal yang berhasil dia sumbangkan. Dengan pengalaman itu, dia merantau ke Ukraina untuk membesut Shakhtar Donetsk dan sukses mempersembahkan tujuh gelar juara domestik.

Paulo Fonseca kini dianggap sebagai salah satu jajaran atas pelatih asal Portugal yang siap membuktikan kemampuan di level internasional. Filosofi permainan yang dibentuk untuk tim besutannya sudah diakui oleh banyak pihak. Mengutip Outsideoftheboot.com, pria berusia 47 tahun tersebut itu lebih menyukai formasi 4-2-3-1. Strategi yang diterapkan di musim pertama membesut AS Roma.

Dua bek sayap memiliki karakter yang agresif akan didorong jauh lebih ke depan ketika tim sedang menguasai bola. Dengan begitu, tiga gelandang serang yang menopang ujung tombak bisa leluasa melakukan rotasi guna mengisi ruang kosong. Sedangkan dua gelandang bertahan bertugas untuk membuka ruang untuk meminta bola.

Transformasi formasi AS Roma ketika menguasai bola saat bermain dengan formasi 4-2-3-1. Foto: Totalfootballanalysis.com

 

Akan tetapi, di musim keduanya bersama AS Roma, Paulo Fonseca memilih untuk melakukan perubahan ke 3-4-2-1. Tapi itu tak membuat cara mereka melancarkan tekanan ke pertahanan lawan jadi berbeda, karena transformasi ke 3-2-4-1 tetap jadi andalan. Yang mencolok justru transisi dari menyerang ke bertahan lebih cepat lagi.

Ini yang akan jadi menarik ketika AS Roma akan bertemu dengan Inter Milan besutan Antonio Conte. Juru taktik yang terkenal dengan sistem bermain 3-5-2 yang lebih sering membangun serangan melalui tiga pemain tengah yang dituntut cepat mencari cara membangun serangan yang efektif. Dua gelandang sayap yang memiliki kecepatan akan didorong ke depan untuk menambah daya tekan.

Dua striker yang diplot oleh Antonio Conte memiliki tugas yang sama. Sehingga mereka akan saling mengisi kekosong dan tak henti mencari celah kosong untuk menerima umpan. Cara ini membuat bek lawan akan kesulitan dalam mengantisipasi. Tak heran mereka jadi tim paling agresif di Serie A musim ini.

Pekerjaan paling penting yang mesti dibenahi oleh Antonio Conte sekarang adalah menutup celah yang ditinggalkan pemain belakang Inter Milan. Sejatinya itu bukan tugas berat bagi pelatih berusia 51 tahun itu, karena ketika masih melatih Juventus, lini pertahanannya sangat diakui begitu kokoh dan sulit untuk ditembus lawan.

Saling Uji Lini Pertahanan 

Sektor pertahanan kedua tim yang menentukan pada pertandingan nanti. Sebab, jika dibandingkan dengan lini depan, kinerja mereka masih diragukan. Itu tak terlepas dari statistik jumlah gol yang bersarang ke gawang masing-masing tim sejauh ini. Apalagi yang akan dihadapi adalah pemain depan dengan tingkat produktivitas tinggi.

Inter Milan memiliki duet Romelu Lukaku dan Lautaro Martínez yang bakal jadi andalan di lini depan saat melawan AS Roma. Total kedua pemain tersebut telah menyumbangkan 21 gol di Serie A. Itu artinya mereka mencatatkan setengahnya gol La Beneamata hingga memasuki pekan ke-16 Serie A musim ini.

Fakta itu tentu jadi tantangan bagi pertahanan AS Roma. Dengan total 24 gol yang sudah bersarang ke gawang mereka, Paulo Fonseca harus menemukan cara menghentikan pergerakan Romelu Lukaku dan Lautaro Martínez. Bagusnya, trio Gianluca Mancini, Chris Smalling, dan Roger Ibañez siap dimainkan untuk membantu serangan Inter Milan tidak langsung merepotkan Pau López sebagai penjaga gawang.

Pertarungan di lini tengah juga bakalan menarik. AS Roma yang dalam upaya membangun serangan dari bawah mengandalkan pergerakan pemain tengah akan menghadapi tekanan garis pertahanan tinggi dari Inter Milan. Kecerdikan dua pivot I Lupi, Jordan Veretout dan Gonzalo Villar jadi kuncinya. Mereka harus cerdik membuka ruang untuk meminta bola atau sekadar menarik perhatian lawan.

Dalam momen seperti itu, Bruno Peres sebagai gelandang sayap kiri dan Rick Karsdorp di sisi kanan akan bergerak memanfaatkan lebar lapangan. Mereka maju hingga daerah pertahanan lawan. Lalu dua gelandang serang, Henrikh Mkhitaryan dan Lorenzo Pellegrini akan merapat ke tengah agar jarak dengan Edin Džeko sebagai ujung tombak tidak jauh.

Umpan satu dua sentuhan biasanya jadi andalan ketiga pemain tersebut dalam melakukan kreasi serangan. Atau ketika penjagaan kepada Edin Džeko terlalu rapat, Henrikh Mkhitaryan dan Lorenzo Pellegrini akan melakukan aksi individu. Tujuan mereka tentu saja membuat fokus para bek Inter Milan terpecah sehingga opsi untuk menciptakan peluang bisa lebih banyak lagi.

Namun, komposisi itu bisa saja berubah. Mengutip Footballitalia.com, Pedro sudah terlihat gabung latihan bersama tim dan biasanya dia lebih dipercaya oleh Paulo Fonseca untuk bermain sejak menit awal ketimbang Lorenzo Pellegrini. Dengan kecepatan berlarinya, Pedro bisa diandalkan untuk menerima umpan panjang yang diarahkan langsung ke pertahanan Inter Milan ketika AS Roma melancarkan serangan balik.

Cara AS Roma dalam melancarkan serangan sudah pasti ada di tangan Antonio Conte. Ashley Young, Arturo Vidal, Marcelo Brozović, Nicolò Barella, dan Achraf Hakimi dapat dipastikan memiliki tugas spesifik untuk mengamankan area masing-masing. Biasanya Inter Milan memilih cara untuk melakukan isolasi terhadap pemain lawan yang menguasai bola.

Dengan cara seperti itu, tidak mudah bagi lawan untuk mengoper bola ke rekan setimnya. Compact defense yang menjadi pilihan Antonio Conte adalah identitas La Beneamata sejak musim lalu. Mereka akan menumpuk lima hingga enam pemain sekaligus untuk mencegah lawan menciptakan peluang hingga jaraknya dekat dengan Samir Handanović sebagai kiper.

Pertandingan antara Juventus vs Inter Milan di Serie A 2019/2020. Foto: Serieaanalysis.com.

 

Situasi tersebut sejatinya akan membuat tiga bek Inter Milan yang biasa ditempati Milan Škriniar, Stefan de Vrij, dan Alessandro Bastoni tinggal fokus membaca rencana dan pergerakan lawan saja. Jika mereka bisa melakukannya dengan konsisten sepanjang 90 menit, sudah pasti Edin Džeko yang dibantu Henrikh Mkhitaryan dan Lorenzo Pellegrini/Pedro kesulitan untuk bergerak hingga ke dalam kotak penalti.

Ini adalah pertandingan penting untuk dimaksimalkan kedua tim. Serie A memang masih panjang, tapi terpeleset dalam laga seperti ini bisa merugikan langkah mereka ke depannya. Persaingan kompetisi kasta tertinggi Italia musim ini amat sengit. Karena tim seperti Juventus, Sassuolo, Napoli, dan Atalanta sudah siap mengancam untuk merebut posisi tiga besar klasemen. Mari kita lihat apakah strategi Antonio Conte atau Paulo Fonseca yang akan berhasil membawa timnya meraih 3 poin di laga sengit kali ini.

SAMPAIKAN KOMENTAR