Arsenal yang Dinamis, Rusak Laga ke-100 Solskjær Bersama MU
02
Nov
2020
0 Comment Share Likes 351 View

Pertandingan ke-100 Ole Gunnar Solskjær sebagai manajer Manchester United berakhir dengan kekalahan. Menjamu Arsenal di Old Trafford Stadium, Minggu 1 November 2020, tim berjuluk The Red Devils ini takluk dengan skor tipis 0-1. Eksekusi penalti Pierre-Emerick Aubameyang yang membuat tuan rumah bertekuk lutut.

Kehilangan Anthony Martial yang masih dalam masa hukuman akumulasi kartu merah, Solskjær menurunkan formasi 4-4-2. Dia menduetkan Mason Greenwood dengan Marcus Rashford sebagai ujung tombak. Padahal kedua pemain ini sering kali ditugaskan menjadi penyerang sayap.

 

Pemain Arsenal merayakan kemenangan atas Manchester United di Premier League. Foto: Twitter.com/Arsenal

 

Bruno Fernandes di plot sebagai gelandang serang. Dia ditopang tiga pemain tengah lainnya, Paul Pogba, Scott McTominay, dan Fred yang bertugas lebih kepada menjaga keseimbangan tim berjuluk The Red Devils ketika sedang menyerang maupun bertahan.

Sedangkan Arsenal menggunakan formasi 3-4-3. Pola empat pemain belakang yang mereka terapkan dalam empat pertandingan sebelumnya ditinggalkan. Pilihan Mikel Arteta terbilang tepat jika melihat jalannya pertandingan di babak pertama.

Meski terkesan kurang “greget”, tapi secara penguasaan lapangan, Arsenal lebih unggul dari MU. Tiga pemain belakang yang diisi oleh Kieran Tierney, Gabriel Magalhães, dan Rob Holding tidak terlihat kaku. Karena ketika menyerang, Tierney ikut maju untuk mendorong sisi penyerangan sayap kiri The Gunners.

Dia membantu Bukayo Saka yang berperan sebagai gelandang sayap kiri. Tekanan kepada sisi kanan pertahanan MU betul-betul terasa, karena juga ada Aubameyang di sana. Kombinasi serangan tersebut, membuat bek kanan MU, Aaron Wan-Bissaka harus bekerja ekstra keras.

 

Heatmap babak pertama MU vs Arsenal. Foto: Whoscored.com

 

Berbeda dengan skema permainan untuk sisi kanan penyerangan. Arsenal cuma butuh dua pemain, yaitu Héctor Bellerín sebagai gelandang sayap yang membantu Willian. Keduanya mengandalkan kecepatan untuk melakukan akselerasi, dan coba mengakhirinya dengan umpan silang.

Tapi, upaya tersebut kerap menemui tembok tebal. Bola yang diarahkan kepada Alexandre Lacazette sebagai ujung tombak mampu dihalau pemain MU. Solskjær mengantisipasi pola penyerangan Arsenal dengan menerapkan compact defense.

Wan-Bissaka, Victor Lindelöf, Harry Maguire, dan Luke Shaw begitu disiplin menjaga kotak 16 besar agar tak bisa dimasuki secara bebas oleh pemain Arsenal. Dengan cara itu, mereka meminimalisir gawang yang dikawal David De Gea mendapatkan ancaman serius.

Sepanjang 45 menit babak pertama, ada sembilan upaya sapuan (clearances) yang dilakukan pemain MU dari dalam kotak penalti sendiri. Mereka memang tak mau mengambil risiko, karena Arsenal selalu memulai tekanan dari lini depan ketika sudah kehilangan bola. The Gunners juga punya dua gelandang yang kuat ketika berduel di lini tengah, yaitu Thomas Partey dan Mohamed Elneny.

 

Sapuan pemain MU ketika menghalau serangan dari Arsenal. Foto - Whoscored.com

 

Minimnya Peran Bruno Fernandes

Memulai babak kedua, MU bermain lebih baik. Mereka berani membalas tekanan dari Arsenal dengan permainan cepat. Tak ada lagi taktik melambatkan tempo seperti di paruh pertama pertandingan. Cara itu bisa membuat pemain Arsenal berhati-hati dalam bergerak meninggalkan area pertahanan.

Saat The Red Devils mulai mendapatkan ritme permainan yang tepat, petaka justru datang pada menit 69. Pelanggaran Pogba terhadap Bellerín berujung hukuman penalti. Gelandang asal Prancis itu berupaya merebut bola dari Bellerín yang dikirimkan umpan terobosan dari Willian.

Umpan yang brilian dari Willian. Dia tahu Bellerín punya kecepatan berlari di atas rata-rata. Benar saja, datang dari titik buta, Bellerín bisa menyambar bola lebih dulu. Pogba sudah kadung menyodorkan kaki dan tak bisa lagi menghindari terjadinya pelanggaran

Aubameyang dipercaya oleh Arteta untuk menjadi eksekutor. Tendangannya ke sisi kiri gawang gagal ditebak oleh David De Gea. Gol yang kemudian membuat pertandingan berjalan semakin berat untuk The Red Devils.

 

Gelandang serang MU, Bruno Fernandes. Foto: Twitter.com/ManUtd

 

Dalam keadaan tertinggal, lini tengah yang sebelumnya sudah ada pergantian, Nemanja Matić masuk dan Fred keluar, dirombak lagi oleh Solskjær. Dia memilih untuk memainkan Donny van de Beek untuk menggantikan Fernandes pada menit 75, bersamaan dengan Greenwood yang diganti oleh Edinson Cavani.

Menarik keluar Fernandes jadi beralasan jika melihat statistiknya selama berada di atas lapangan hijau. Peran sebagai gelandang serang yang bergantian mengisi posisi sayap kiri dan kanan tak bisa dijalani dengan sempurna oleh pemain asal Portugal itu.

Merujuk Sofascore.com, sejak babak pertama Fernandes sudah menunjukkan tanda-tanda tak bisa memberi kontribusi siginifikan untuk MU dalam pertandingan ini. Karena pemain berusia 26 tahun itu tercatat tujuh kali kehilangan bola (possession lost).

Fernandes juga cuma punya satu kesempatan melakukan dribel, dan itu juga tidak terhitung sukses. Karena dia mengakhirinya dengan mengirimkan umpan terobosan ke arah Greenwood yang sudah berdiri dalam posisi offside.

Komposisi pemain yang lebih segar, MU coba mengurung pertahanan Arsenal di 15 menit terakhir pertandingan. Namun, Arteta tak tinggal diam. Dia coba mengamankan keunggulan dengan melakukan kontra strategi.

Pertama Eddie Nketiah dimainkan sebagai pengganti Lacazette pada menit 76. Tujuannya tak lain sebagai pelari yang akan menyambut umpan panjang dari lini belakang ketika berhasil merebut bola dari MU. Tak ada lagi membangun serangan dengan umpan pendek.

10 menit kemudian Arteta menarik keluar Willian dan memasukkan Ainsley Maitland-Niles yang bertugas sebagai gelandang sayap kanan. Dengan begitu Arsenal bermain menggunakan empat bek, karena Bellerín ditarik mundur ke belakang.

Semenit kemudian, tembok kokoh coba dibangun oleh Arteta. Skhodran Mustafi dimasukkan sebagai pengganti Aubameyang. Menggunakan lima bek di sisa waktu yang ada jadi pilihan juru taktik asal Spanyol tersebut, dan terbukti berakhir dengan sukses.

No Thomas No Partey

 

Gelandang Arsenal, Thomas Partey di laga melawan MU. Foto: Twitter.com/Arsenal

 

No Thomas No Partey menjadi jargon baru bagi pendukung Arsenal untuk sang gelandang. Pemain yang baru dibeli dari Atlético Madrid dengan banderol 50 juta euro (Rp852 miliar) itu berhasil mencuri perhatian lewat performanya yang apik.

Melawan MU adalah pertandingan ketiga Thomas Partey bersama Arsenal di Premier League. Pemain asal Ghana itu tampil selama 90 menit penuh dan mencatatkan statistik yang luar biasa untuk seorang pemain tengah.

Mengutip Whoscored.com, Partey mencatatkan 100 persen kemenangan saat duel di udara dalam posisi 50-50 (aerial duels) dengan pemain MU. 11 kali pula dia membuat Arsenal berhasil mendapatkan penguasaan bola (ball recoveries). Belum lagi ada catatan tiga kali tekelnya berhasil membuat lawan kehilangan kontrol atas bola.

Duetnya dengan Elneny untuk memotong aliran bola MU berjalan dengan sangat baik. Partey juga tenang dalam mengatur alur permainan dari kakinya. Tingkat kesuksesan passing-nya mencapai 93 persen. Lalu, lima kali dia melepaskan umpan panjang, dan semuanya tepat sasaran.

Tak heran jika kemudian Arteta mulai memberi kepercayaan penuh kepadanya. Posisi yang biasanya jadi milik Granit Xhaka kini sudah beralih kepada Thomas Partey. Dengan mobilitasnya yang tinggi, lawan menjadi tidak mudah untuk melakukan serangan ke lini pertahanan The Gunners.

SAMPAIKAN KOMENTAR