Arsenal Vs Chelsea, Mencari Kado Natal Terbaik di Boxing Day
26
Dec
2020
0 Comment Share Likes 124 View

Sekarang mari kita bersepakat dulu, bahwa partai Boxing Day paling menarik sehabis malam Natal tahun ini adalah pertemuan Arsenal vs Chelsea.

Laga Arsenal vs Chelsea menjadi tontonan paling ditunggu buat para pecinta Premier League. Bagaimana tidak, kedua tim memenuhi semua syarat untuk bisa menjadikan perayaan Natal bersama keluarga penuh dengan atmosfer yang seru.

Sumber Foto: Twitter Livescore

 

Terlepas Pria Intersport bukan fans Arsenal dan Chelsea, partai yang dijadwalkan berlangsung di Emirates Stadium, Sabtu 26 Desember 2020 malam waktu setempat atau Minggu 27 Desember 2020 dini hari WIB mendatang, sangat sayang kalau dilewatkan.

Benar, Arsenal sekarang sedang terpuruk. Mereka ada di papan bawah, sedikit mengintip papan tengah. Chelsea juga begitu. Tampil positif di awal musim, saat ini memasuki pertengahan putaran pertama Premier League mulai melorot.

Namun pertemuan di Boxing Day nanti sudah pasti tidak terpengaruh dengan posisi mereka di klasemen. Semua ingin memberikan kado Natal terbaik dan terindah buat para penggemarnya, terutama di masa pandemi COVID-19 ini.

Jelang Boxing Day Arsenal vs Chelsea tentu menarik untuk mengupas bagaimana nanti jalannya pertandingan. Berikut analisisnya, Pria Intersport...

Arsenal FC – Sumber Foto: Twitter Arsenal FC

 

Tren Hasil Pertandingan

Karena ini ajang Premier League kita batasi mengambil sampel hasil pertandingan Arsenal dan Chelsea di kompetisi domestik. Sebab kalau melibatkan catatan hasil pertandingan di kompetisi Eropa, Arsenal dan Chelsea seperti anomali. Karena Chelsea secara gemilang lolos ke 16 besar Liga Champions. Pun dengan Arsenal yang mampu melewati fase grup untuk tiba di babak 32 besar Liga Europa.

Dari kubu Arsenal tidak bisa dipungkiri krisis hebat sedang terjadi. Terlepas dari apapun hasil melawan Everton pada Minggu 20 Desember 2020, sejak mengamankan poin penuh atas Manchester United pada 1 November 2020, Arsenal belum lagi mampu meraih kemenangan. Deretan hasil pertandingannya mengerikan: Kalah dari Wolves, Tottenham Hotspur, dan Burnley. Kemudian paling bagus seri menghadapi Leeds United dan Southampton.

Rangkaian hasil pertandingan itu menjadi sinyal buat Arsenal supaya lebih berhati-hati menghadapi Chelsea. Paling tidak jangan sampai kalah dari Chelsea, karena taruhannya sangat mahal. Selain posisi bisa melorot lagi, gengsi sebagai sesama tim London bisa tercoreng. Boleh kalah dari tim lain, tapi kalau kalah dari tim sekota itu rasanya malu.

Melihat tren hasil pertandingan Arsenal bisa jadi, angka imbang menjadi prediksi yang realistis. Jika pertandingan nanti bisa menang, anggap itu adalah bonus.

Sementara catatan hasil pertandingan Chelsea sedikit lebih baik. Mulanya mereka memang stabil di papan atas. Tapi memasuki Desember mulai tersendat. Terlepas dari hasil partai melawan West Ham United pada Selasa 22 Desember 2020 dini hari WIB, Chelsea sepanjang bulan terakhir tahun ini sempat mendapatkan dua kekalahan beruntun. Momen itu terjadi saat kalah dari Everton dan Wolves. Dua laga itu dijalani The Blues di kandang lawan. Yang paling ditakutkan adalah bayang-bayang hasil buruk di kandang lawan itu berlanjut saat tandang ke markas Arsenal. Maka dari itu paling bagus Chelsea berusaha saja agar tidak kebobolan. Minimal dengan tidak kebobolan, masih lumayan bisa membawa pulang 1 poin. Tapi itu target minimal. Sesekali Chelsea boleh menyerbu memberi kejutan kepada Arsenal, demi mendapatkan gol dan meraih kemenangan.

 

Chelsea FC – Sumber Foto: Twitter Chelsea FC

 

Pemain Kunci

Arsenal sudah bermain dalam 13 pertandingan. Dari jumlah laga itu menit bermain terbanyak dikoleksi Bernd Leno, kiper dari Jerman, yang memiliki 1.170 menit bermain. Selain Bernd Leno, anggota menit bermain di atas 1.000 sampai pekan 13 kemarin adalah Pierre-Emerick Aubameyang, Kieran Tierney, Gabriel Magalhães, dan Héctor Bellerín. Dari lima pemain itu menariknya tidak ada yang berperan sebagai gelandang. Lima pemain itu ada di posisi kiper 1, penyerang 1, dan 3 pemain belakang. Ini barangkali menandakan manajer Mikel Arteta belum punya pemain yang dipercaya penuh untuk menjadi jenderal lapangan tengah. Dugaan itu menguat dengan melihat menit bermain pemain tengah paling banyak sejauh ini baru terekam di 759 menit atas nama Dani Ceballos. Di bawahnya adalah Granit Xhaka dengan 726 menit.

Maka komposisi paten untuk poros pertahanan dan kiper adalah pilar Mikel Arteta dalam menyusun sistem permainan. Sedangkan untuk lapisan tengah, materi pemain yang diturunkan cenderung variatif. Barangkali selalu disesuaikan dengan lawan yang dihadapi. Terutama mau menaruh dua pivot atau satu pivot. Dua gelandang serang, atau cukup cukup satu gelandang serang. Di tengah komposisi lapangan tengah yang masih berubah-ubah, apakah Arsenal merindukan sosok Mesut Özil?

Dari pihak Chelsea justru berkebalikan. Manajer Frank Lampard tampak sudah menemukan pemain kepercayan di tiap lini. Ini terlihat dari menit bermain di atas 1.000 yang dikumpulkan tiga pemain sejauh ini dalam 13 pertandingan Chelsea. Menit terbanyak menjadi milik N'Golo Kanté dengan 1.163 menit bermain sebagai gelandang metronom. Lalu Timo Werner sebagai komando serangan dengan 1.118 menit bermain. Kemudian Kurt Zouma di lini belakang yang punya catatan 1.080 menit bermain. Mereka adalah pemain kunci Chelsea. Untuk posisi kiper utama dari Kepa sudah berganti menjadi milik Edouard Mendy.

 

Mikel Arteta dan Frank Lampard – Sumber Foto: Getty Images

 

Taktik Arteta vs Lampard

Saat ini Arsenal terus menjadi sorotan karena di bawah manajer Mikel Arteta mencatat sejarah terburuk start kompetisi. Fakta itu membuat banyak orang mempertanyakan pilihan taktik yang diambil manajer asal Spanyol itu. Pada dasar Mikel Arteta adalah pengusung strategi 4-3-3. Ia pernah mengatakan bila formasi itu bisa membuat timnya menjadi lebih agresif dan efektif. Sampai detik ini mantan asisten manajer Pep Guardiola di Man City itu masih percaya dengan pilihannya. Walaupun posisi Arsenal ada di papan tengah ke bawah. Arteta berdalih tinggal mencari operan kunci dari tiap pemain, untuk menghasilkan permainan yang stabil. Kalau permainan sudah stabil, maka hasil pertandingan akan mengikuti.

Dengan konsep 4-3-3 ini Mikel Arteta banyak mengeksploitasi permainan di lapangan tengah, sayap, dan naluri membunuh dari striker utama. Sedangkan bek sayap akan naik dan turun, untuk menyuplai bola dari samping. Materi pemain Arsenal sangat mendukung buat menerjemahkan keinginan Mikel Arteta. Sayangnya sampai pekan ke-13, hasilnya belum terlalu pas. Mungkin memang butuh waktu buat para pemain Arsenal beradaptasi dengan keinginan Mikel Arteta.

Namun bisa jadi Mikel Arteta akan sedikit mengubah pakem yang ada. Hal itu karena tuntutan kemenangan atas Chelsea. Bagaimana taktiknya? Karena kewajiban menang itu Arsenal akan keluar menyerang. Opsi bertahan tidak ada di kantong Arteta. Jadi lebih baik mengubah pakem 4-3-3 dengan lebih agresif lagi, yaitu 3-4-3. Kiper diisi Bernd Leno, dengan tiga bek tengah Rob Holding, Gabriel Magalhães, dan Kieran Tierney. Untuk empat pemain tengah bisa ditempati Ainsley Maitland-Niles, Bukayo Saka, dan Daniel Ceballos. Sedangkan tiga pemain depan adalah Nicolas Pépé, Edward Nketiah, dan Pierre-Emerick Aubameyang.

Dari pihak Chelsea, Frank Lampard agaknya tidak terlalu pusing memikirkan taktik. Frank Lampard dikenal sebagai manajer yang gemar menjaga penguasaan bola. Dengan tidak mudah kehilangan bola, apapun pilihan taktik yang dipakai, Frank Lampard percaya hasil positif akan didapatkan. Namun berbicara soal formasi, Frank Lampard mirip dengan Mikel Arteta, gemar memakai 4-3-3.

Poros yang diandalkan Frank Lampard adalah kiper Edouard Mendy, empat bek sejajar Thiago Silva, Kurt Zouma, Benjamin Chilwell, dan Reece James. Tiga pemain tengah N'Golo Kanté, Mason Mount, dan Kai Havertz. Lalu tiga penyerang dipercayakan kepada Olivier Giroud, Timo Werner, dan Christian Pulisic.

Tambahan lagi Frank Lampard ini sangat menyukai permainan menyerang. Meski opsi bertahan mungkin akan dipakai di menit-menit awal, untuk mempelajari bagaimana Arsenal akan menyerang dan memperagakan pola permainan. Dari situ Chelsea bisa mengeluarkan strategi tandingan untuk meredam permainan Arsenal sekaligus mengejar kemenangan.

 

Arsenal vs Chelsea 2017/2018 – Sumber Foto: premierleague.com

 

Head To Head Kedua Tim

Catatan head to head kadang tidak menjadi jaminan gambaran hasil pertandingan. Namun pendekatan head to head bisa dijadikan patokan, untuk memulai pertandingan kedua tim. Maksudnya setiap tim harus memiliki pemahaman misalnya dalam lima laga terakhir tidak pernah menang menghadapi calon lawan, atau sebaliknya mudah menang. Atau malah kebanyakan seri? Hal seperti itu kadang bisa mempengaruhi jalan pikiran pemain di lapangan.

Dalam lima laga terakhir Arsenal dan Chelsea di berbagai ajang, ternyata posisinya imbang. Arsenal menang dua kali, Chelsea menang dua kali, satu laga berakhir seri. Lima laga itu ada di Premier League, Liga Europa, hingga Piala FA.

Lima Pertemuan Terakhir:

20/01/2019 Arsenal 2-0 Chelsea, Premier League

30/05/2019 Chelsea 4-1 Arsenal, Liga Europa

29/12/2019 Arsenal 1-2 Chelsea, Premier League

22/01/2020 Arsenal 2-1 Chelsea, Premier League

01/08/2020 Arsenal 2-1 Chelsea, Piala FA

Melihat kondisi yang seimbang itu, membuat pertemuan Arsenal vs Chelsea jadi berisiko untuk menjagokan salah satu tim bakal menang mudah. Kalau ada pemenang, angkanya bakal tipis. Tapi sepertinya pertandingan akan berakhir imbang, misalnya 1-1. Setuju, Pria Intersport?

SAMPAIKAN KOMENTAR