Arjen Robben, Manusia Kaca Pemotong Bola
23
Jan
2021
1 Comment Share Likes 261 View

Tiba-tiba bola ditekuk ke dalam. Posisi badan sudah mencapai titik sentral. Di sana ada ruang tembak. Sepersekian detik bola diarahkan ke gawang. Gol!

Semudah dan sesederhana itu mencetak gol. Tidak perlu rumit mengutak-atik bola. Sampai memindah-mindahkan posisi badan lalu kehilangan bola. Cukup sekali lari, potong ke dalam, begitu dapat ruang tembak ideal, lepaskan ke gawang.

 

Arjen Robben menikmati perannya di FC Groningen pada masa sekarang ini - Foto: Twitter Arjen Robben

 

Gambaran ini melekat dalam diri Arjen Robben, maestro penyerang sayap dari Belanda. Tumpuannya adalah kaki kiri, tapi ia lebih fasih bermain di posisi kanan.

Ternyata di situlah letak kepiawaiannya. Dengan "melawan" kodrat kaki kidalnya, Arjen Robben tiba-tiba bisa menghadirkan kejutan untuk kiper lawan, lewat tekukan bola dan tembakan ke tiang dekat atau tiang jauh. Tinggal memilih bola mau dibidik ke arah mana.

Tidak bisa dibantah Arjen Robben merupakan salah seorang sayap terbaik yang pernah lahir di bumi. Kecepatan lari, jitu membidik ruang tembak, hingga gocekan nan lihai, menjadi satu dalam diri Arjen Robben.

Pria ini sekarang sudah melewati masa emasnya sebagai pemain sepak bola, bahkan mungkin sudah terlalu tua untuk beradu cepat dan liat dengan fullback lawan. Karena cut inside yang menjadi senjata andalannya butuh fisik yang prima. Di atas rata-rata.

Apalagi kita tahu Arjen Robben begitu ringkih, dari julukannya sudah ketahuan: Manusia Kaca. Statistik transfermarkt pernah mencatat sejak bermain untuk Groningen sampai FC Bayern, dari seharusnya maksimal bisa bermain 813 pertandingan, beling ini hanya mampu turun lapangan 602 kali.

Penyebabnya tidak lain karena cedera. Jadi total ia tidak bisa bermain dalam 211 laga dari maksimal potensi 813 pertandingan. Angka yang tidak sedikit, apalagi statusnya adalah pemain yang sangat-sangat diandalkan sebagai sayap atau gelandang sayap.

Beragam cedera pernah menghantam Arjen Robben, itu membuatnya sudah seperti khatam menjalani operasi atau perawatan cedera. Mulai cedera tendon, hamstring, otot, paha, betis, bahu, engkel, sampai pusing kepala pernah dialami semua.

 

Momen Arjen Robben dilanggar pemain lawan ketika bermain untuk Chelsea – Foto: FourFourTwo.com

 

Komentar dari mantan pelatih Arjen Robben di Chelsea, Jose Mourinho, agaknya bisa menjelaskan kenapa Arjen Robben menjadi pemain yang ringkih. Menurut Jose Mourinho kelebihan Arjen Robben di aspek kecepatan, dribble, hingga kejituannya menembak, dalam situasi tertentu bisa berubah menjadi kelemahan.

Maksudnya pergerakan Arjen Robben kadang hanya bisa dihentikan lewat pelanggaran. Kalau itu terjadi sejak usia remaja, wajar jika tulang-tulang dan banyak bagian badannya menjadi rentan cedera. "Tapi Arjen Robben juga licik, ia kerap memancing untuk dilanggar. Terutama di kotak penalti," ucap Jose Mourinho, dikutip dari Sportsmole.co.uk.

Kemudian akhirnya pada suatu ketika Arjen Robben mengumumkan pergi dari FC Bayern di tahun 2019. Saat itu ia berkata: "Saya sudah tidak tahu apa yang harus dilakukan saat menghadapi cedera." Sebuah pengakuan yang jujur atas kondisi diri sendiri, bahwa ia sudah lelah ditebas para pemain belakang lawan.

Akhirnya Arjen Robben memilih menepi, tahu diri. Belum sepenuhnya pensiun. Tapi bergabung dengan klub lamanya di Belanda, Groningen. Ia bermain paruh waktu dengan kontrak profesional, sambil menjalani masa persiapan pensiun.

Masa Kecil

Lahir di Bedum pada 23 Januari 1984, berarti hari ini Arjen Robben berulang tahun ke-37. Sejak usia 2 tahun dari berbagai cerita yang berkembang, sudah terlihat menikmati bergumul dengan bola.

Hans Robben, dalam wawancara dengan salah satu radio terkemuka di Belanda, mengungkapkan kalau anak lelakinya itu cenderung tidak peduli dengan kegiatan belajar hingga keterampilan sehari-hari. Arjen Robben hanya peduli dengan sepak bola.

Tidak betah dengan rengekan Arjen Robben terhadap sepak bola, Hans Robben dan istrinya, Marjo, memasukkan anaknya ke VV Bedum. Sebuah akademi sepak bola di kota satelit Groningen.

Semangat besar dan bakat berkilau dari Arjen Robben rupanya terendus klub Groningen. Di usia 12 tahun Arjen Robben ditarik Groningen. Dari sanalah mimpi sebagai pemain sepak bola tenar mulai dirajut.

 

Arjen Robben berpisah dengan FC Bayern – Foto: Bundesliga.com

 

Karir Menanjak

Tidak salah Groningen merekrut Arjen Robben. Bakat alaminya tumbuh sempurna. Kecepatan lari, dribble lincah, hingga insting membunuhnya begitu memikat. Kombinasi kemampuan itu sangat cocok untuk ditempatkan sebagai penyisir lapangan, alias sayap, atau gelandang sayap.

Salah klub raksasa Belanda, PSV akhirnya datang menawarkan kontrak menjanjikan untuk Arjen Robben. Pengalaman 2 tahun bermain di Groningen sejak 2000, tidak membuat Arjen Robben kesulitan beradaptasi di PSV. Benar saja dari PSV, Arjen Robben lalu dikontrak Chelsea. Klub yang saat itu menjadi OKB: orang kaya baru.

Sejak di PSV sebetulnya Arjen Robben sudah sering cedera. Tapi kemilau penampilannya di lapangan tidak membuat Chelsea mundur. Meski akhirnya alasan itu pula yang membuat Chelsea tidak berpikir dua kali, untuk melepas Arjen Robben ke Real Madrid pada 2007. Saat itu Real Madrid merasa risiko sering cedera yang dialami Arjen Robben tidak terlalu masalah, karena El Real memiliki banyak stok berkualitas.

Tapi Real Madrid, klub ibu kota Spanyol itu, menyerah juga dengan Arjen Robben. Cedera ternyata memberi hambatan tersendiri, ketika tenaga Arjen Robben dibutuhkan untuk menghadapi lawan yang sesuai dengan karakternya. Dan, jodoh paling setianya ternyata adalah FC Bayern.

Klub jagoan dari Jerman itu memberi tempat yang pas dan kesabaran yang luar biasa terhadap Arjen Robben. Biarpun menjadi manusia kaca tak mengapa. Yang penting kemampuan terbaik Arjen Robben bisa memberi warna dalam permainan Bayern. Total 10 tahun Arjen Robben memperkuat Bayern, dari 2009 sampai 2019.

Di Timnas Belanda peran Arjen Robben juga sempat tidak tergantikan pada masanya. Posisi sayap kanan atau kiri sudah menjadi langganan. Hanya absen dimainkan atau dipanggil dalam TC Timnas Belanda kalau, ya lagi-lagi, sedang cedera.

 

Arjen Robben ketika tanda tangan kontrak di FC Groningen, Juli 2020 – Foto: Twitter Arjen Robben

 

Lemari Prestasi

Sepanjang karier di lapangan hijau, trofi mayor banyak menghiasi lemari prestasi Arjen Robben. Hanya di Groningen saja sosok ini belum pernah mendapatkan trofi juara. Selebihnya penuh!

Di PSV ia pernah ikut andil juara Eredivisie 2002/2003, kemudian juga Johan Cruyff Shield 2003. Disambung ke Chelsea mendapat Premier League 2004/2005 dan 2005/2006, ditambah Piala FA 2006/2007, Piala Liga Inggris 2004/2005 dan 2006/2007. Jangan lupakan pula trofi Community Shield 2005.

Beralih ke Real Madrid yang ternyata permainan Arjen Robben sempat meredup, itupun masih dapat trofi juara. Yaitu, La Liga 2007/2006 dan Piala Super Spanyol 2008.

Baru di FC Bayern lemari trofi Arjen Robben menjadi penuh, sepenuh-penuhnya. Delapan trofi juara Bundesliga dikoleksinya selama 10 tahun membela Bayern. Belum lagi trofi DFB-Pokal sebanyak 5 biji. Piala Super Jerman 5 kali, Liga Champions 2012/2013, Piala Super Eropa 2013.

Arjen Robben nyaris mencapai puncak langit saat Belanda lolos ke final Piala Dunia 2010. Sayangnya di partai puncak Belanda kalah dari Spanyol. Di Piala Dunia 2014 Belanda juga hanya menjadi peringkat ketiga.

Sekarang Arjen Robben ada di ambang karier. Usianya sudah tidak muda lagi. Saatnya menikmati hasil kesuksesan bersama keluarga yang bertahun-tahun ditinggalkan karena kesibukannya bermain bola. Tapi suatu hari nanti kita akan mendengar Arjen Robben menanjak di karier lain, mungkin sebagai pelatih!

SAMPAIKAN KOMENTAR