Andrés Iniesta: Santo Penakluk Ruang Dan Waktu
11
May
2021
0 Comment Share Likes 132 View

Ruang dan waktu tidak pernah menunggu siapapun. Tapi bagaimana kalau yang menunggu itu Andrés Iniesta?

Dia adalah orang yang pintar mendapatkan ruang dan waktu. Belanda dan Chelsea pernah merasakan itu. Merasakan bagaimana getir dan dinginnya eksekusi Andrés Iniesta dalam ruang dan waktu yang tepat.

Stadion Stamford Bridge, 6 Mei 2009. Puluhan ribu suporter Chelsea sudah bersiap merayakan kemenangan, sekaligus tiket lolos ke final Liga Champions 2008/2009. Sejak menit kesembilan keunggulan 1-0 Chelsea tidak kunjung terkejar. Terbayang kemenangan tipis ini akan menjadi cerita Chelsea menyingkirkan Barcelona di semifinal, karena pertemuan leg pertama di Camp Nou berakhir imbang 0-0.

 

Andrés Iniesta – Foto: Twitter.com/andresiniesta8

 

Namun keajaiban terjadi pada menit ke-90+3. Tendangan kaki kanan Andrés Iniesta berhasil menembus jala gawang Chelsea yang dijaga Petr Cech. Sudah pasti itu bukan tembakan keberuntungan. Karena Andrés Iniesta terlihat ada dalam ruang dan waktu yang tepat. Ia berdiri bebas di garis lengkung luar kotak penalti. Seketika, tanpa pikir panjang bola sodoran dari Lionel Messi ditembakkannya dan gol. Bangku cadangan pemain Barcelona gegap gempita. San Andrés pun langsung melepas jersey-nya, merayakan gol bersama rekan-rekannya. Histeris! Barcelona lolos ke final dengan keuntungan gol tandang 1-1.

Setahun berselang magis San Andrés kembali terlihat. Membuktikan bahwa ruang dan waktu lapangan sepak bola begitu akrab dengan dirinya. Ceritanya kali ini adalah final Piala Dunia 2010, Belanda vs Spanyol. Ini adalah pertemuan dua negara kuat di sepak bola Eropa, tetapi belum pernah menjadi juara Piala Dunia. Ada gengsi, ambisi, dan hasrat yang tinggi di sana.

Pertandingan masih sama kuat 0-0 sampai waktu normal 90 menit berakhir. Bahkan selama perpanjangan waktu 15 menit pertama, kedudukan tetap saja imbang tanpa gol. Perpanjangan waktu 15 menit kedua pun tampaknya situasi tidak akan berubah. Menit demi menit berlalu, gol yang ditunggu tidak kunjung menyapu. Sampai akhirnya menit ke-116 atau empat menit jelang paruh kedua perpanjangan waktu bubar, Andrés Iniesta datang dengan golnya.

Lagi-lagi gol berawal dari posisi Andrés Iniesta momentum ruang dan waktu yang tepat. Di dalam kotak penalti Andrés Iniesta luput dari penjagaan. Bola lambung dari Fernando Torres yang diarahkan kepada Andrés Iniesta berhasil dicegah bek Belanda. Tapi bola jatuh ke Cesc Fàbregas. Sepersekian detik berpikir bola kemudian disodorkan kepada San Andrés yang sudah di dalam kotak penalti. Tanpa kesulitan dia mengarahkan bola mendatar ke tiang jauh, gol! Spanyol mengubah angka menjadi 1-0 dan bertahan sampai pertandingan yang tinggal ujung jalan itu bubar.

Dua momen emas itu sejatinya baru sedikit contoh dari kualitas seorang Andrés Iniesta. Sosok yang sampai dijuluki Santo atau San dalam bahasa Spanyol, yang berarti laki-laki kudus. Ia adalah sosok yang terhormat. Disegani baik kawan dan lawan. Cara bermainnya kalem, tidak pernah mengasari lawan, cocok jadi orang suci di lapangan.

Anak Pemalu Dan Pendiam Di La Masia

Lahir di Fuentealbilla pada 11 Mei 1984, Selasa 11 Mei 2021 hari ini ia genap berusia 37 tahun. Andrés Iniesta bergabung dengan La Masia pada 1996. Di akademi milik Barcelona yang tersohor itu awalnya seperti siksaan buat penyuka nomor punggung 8 ini. Bagaimana tidak, masuk La Masia berarti harus berpisah dengan orangtua. Situasi yang tidak pernah dirasakannya sejak lahir dan tumbuh di pedesaan Fuentealbilla.

Andrés Iniesta menggambarkan momen berpisah dengan orangtua ketika itu adalah hari terburuk dalam hidupnya. Ia bahkan mengaku sempat menangis di tepi sungai, untuk menumpahkan rasa sedihnya karena berjauhan dengan orangtua. Apakah dia anak mama? Bukan. Andrés Iniesta hanya lelaki kecil yang beranjak remaja dan punya hubungan kuat dengan keluarga. Tapi yang jelas ia adalah sosok pemalu. Ia seperti orang sunyi, pendiam, tidak banyak bergaul. Walau sebetulnya punya kepribadian kuat. Mentalnya juga bagus. Tapi kemampuannya bermain bola cukup untuk memaksa orang duduk berlama-lama menonton.

Terlepas dari pembawaannya yang hening, Andrés Iniesta memberikan aksi pertama berkualitas, lengkap dengan ban kapten di lengan, ketika membawa Barcelona U-15 juara Nike Premier Cup 1999. Tidak hanya itu dia juga mencetak gol kemenangan di final dan dinobatkan sebagai pemain terbaik turnamen tersebut. Ia memang seperti ditakdirkan untuk menjadi panutan, memimpin dengan memberi contoh, seperti yang dilakukan sepanjang kariernya.

Andrés Iniesta tidak pernah mencetak banyak gol. Tapi dia terbiasa mencetak gol kemenangan, tampil mencengkeram lawan seperti yang diperlihatkannya saat menaklukkan Chelsea dan Belanda. Itulah kelas paripurna sang maestro.

Kepingan Sukses Tiki-Taka Di Barcelona

Andrés Iniesta adalah kepingan tiki-taka Barcelona – Foto: Fcbarcelona.com

 

Barcelona begitu identik dengan tiki-taka, suatu cara bermain yang memaksimalkan ruang antar lini, memutar-mutar bola, hingga memasang striker palsu atau false nine. Di puncak kejayaan Pep Guardiola dan Luis Enrique menangani Barcelona, Andrés Iniesta merupakan salah satu kepingan tiki-taka. Ia membentuk permainan yang membuat frustasi lawan itu bersama Xavi Hernandez di urat nadi lapangan tengah.

Andrés Iniesta adalah jelmaan dari tiki-taka yang dikembangkan di La Masia. "Terima, oper, bergerak, terima, oper, bergerak." Begitulah prinsip bermain tiki-taka. San Andrés tahu kapan harus memilih operan yang tepat, bagaimana mengatur tempo permainan, punya kewaspadaan spasial, serta menguasai ruang dan waktu. Kalau harus memberi nilai, permainan Andrés Iniesta adalah di angka 9 dari 10.

Apakah nilai 9 itu berlebihan? Menilik kemampuan, kualitas, dan kepribadian Andrés Iniesta angka itu sudah wajar. Apalagi di lemari prestasinya semua trofi sepertinya begitu lengkap. Ada Liga Champions, Piala Super Eropa, La Liga, Copa del Rey, Piala Super Spanyol, Piala Super Eropa, Piala Dunia Klub, Piala Eropa, hingga Piala Eropa. Jangan lupakan pula saat kelompok umur, Andrés Iniesta juga pernah mendapatkan trofi juara Piala Eropa U-17 dan U-19.

Andrés Iniesta hanya belum pernah memenangi penghargaan individu sebagai pemain terbaik dunia, Ballon d’Or atau The Best FIFA. Tapi bisa dimaklumi karena lebih dari satu dekade gelar pemain terbaik hanya bergantian didapatkan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Dua megabintang itu memang tidak ada obatnya.

Babak Terakhir Buat Cules

Andrés Iniesta menyerahkan ban kapten kepada Lionel Messi. Foto: Fcbarcelona.com

 

Saat musim 2015/2016 dimulai sudah jelas bahwa Andrés Iniesta adalah kapten utama Barcelona. Karena Xavi Hernandez telah pergi dari klub. Sebelum itu Andrés Iniesta menjadi deputi kapten Barcelona. Begitulah urutannya.

Menjadi kapten utama Barcelona adalah babak terakhir perjalanan Andrés Iniesta mengabdi buat Cules. Perjalanannya sejak promosi ke tim utama pada 2002, cepat atau lambat segera berakhir. Dan, ban kapten yang melingkar di lengan adalah penghormatan terakhir buat produk sukses La Masia sebelum perlahan perannya digantikan pemain yang lebih muda.

Andrés Iniesta resmi menjadi kapten utama Barcelona hingga akhir musim 2017/2018. Kontraknya sebagai pemain tengah Barcelona tidak diperpanjang, atau memilih tidak diperpanjang. Namun San Andres harus tahu diri, usianya tidak muda lagi. Para pemain muda penuh talenta didikan La Masia kudu promosi ke tim utama, demi regenerasi. Laiknya Andrés Iniesta dulu ketika dapat kesempatan promosi.

Barangkali yang menjadi kekurangan selama Andrés Iniesta menjadi kapten adalah, tidak mampu membawa Barcelona kembali meraih treble winners. Saat menjadi kapten Barcelona, Andrés Iniesta hanya memimpin rekan-rekannya meraih trofi La Liga, Copa del Rey, dan Piala Super Spanyol. Tidak ada gelar juara Liga Champions. Tapi itu tidak mengurangi kehormatan Andrés Iniesta sebagai salah seorang legenda Barcelona. Karena San Andres telah bergelimang trofi juara selama 22 tahun berkarya buat kebanggaan Cules.

Menepi Ke Jepang Bersama Vissel Kobe

Andrés Iniesta bersama Vissel Kobe – Foto: Twitter.com/andresiniesta8

 

Keluar dari Barcelona di usia yang belum terlalu tua, membuat Andrés Iniesta ingin mencari tantangan baru. Kalau kebanyakan pemain ternama di Eropa menghabiskan tahun-tahun terakhir masa produktifnya dengan bermain di Cina atau liga-liga Arab, Andrés Iniesta memilih pergi ke Jepang. Ia menerima tawaran Vissel Kobe. Tim yang berbasis di Kobe, satu dari tujuh pulau besar di Jepang.

Andrés Iniesta membawa istri dan anak-anaknya pindah ke Jepang. Ia ingin menuntaskan perjalanannya di sepak bola tetap dekat dengan keluarga. Hingga sekarang dia masih terikat kontrak di Vissel Kobe. Beredar di kompetisi kasta tertinggi Jepang, J1. League. Ada dua prestasi yang ditorehkannya bersama Vissel Kobe sampai saat ini. Dua gelar itu adalah juara Emperor's Cup 2019 dan Japanese Super Cup 2020.

"Di awal pindah ke sini, saya bersama keluarga selalu membiasakan diri dengan perbedaan budaya Spanyol dan Jepang. Kebiasaan Jepang sangat berbeda dengan Spanyol. Tapi kami sudah beradaptasi, sekarang saatnya menikmati kehidupan di sini," kata Andrés Iniesta.

Saat ini belum terdengar rencana pensiun dari Andrés Iniesta. Ia merasa dirinya masih kompetitif untuk bersaing di kompetisi Jepang atau Asia. Meski kontraknya di Vissel Kobe selesai pada 2021. Satu yang pasti Andrés Iniesta sejak lama memproklamirkan diri akan menjadi pelatih, kalau masanya sebagai pemain di lapangan hijau sudah habis.

Jadi kelak publik sepak bola bisa melihat bagaimana kefasihan San Andres memainkan konsep ruang dan waktu, akan ditularkan kepada para pemainnya. Kita tunggu saja, Pria Intersport!

SAMPAIKAN KOMENTAR