Andrea Pirlo Harus Jadi Pesulap
30
Aug
2020
0 Comment Share Likes 473 View

"SAYA sangat senang dan terhormat menerima kepercayaan dari Juventus. Siap untuk kesempatan luar biasa ini!"

 Singkat dan padat. Itu adalah kata-kata pertama dari Andrea Pirlo, setelah manuver direksi Juventus memecat Maurizio Sarri. Hanya dalam beberapa jam, Presiden Klub Juventus Andrea Agnelli kemudian mengumumkan Andrea Pirlo sebagai pelatih kepala. Padahal tinta tanda tangan Andrea Pirlo di surat kontrak menjadi pelatih Juventus U-23 belum kering. Sabtu 1 Agustus 2020 pria berusia 41 tahun itu teken kontrak menjadi pelatih tim yang bermain di Serie C Italia tersebut.

 Sumber Foto: Juventus FC

 

Tapi pada Senin 10 Agustus 2020, Andrea Pirlo mengunggah tweet susulan. Isinya kata-kata pertama setelah diresmikan menjadi pengganti Maurizio Sarri tadi. Sudah jelas Andrea Pirlo belum punya pengalaman melatih. Karena sosok yang sukses besar bersama AC Milan di Liga Champions itu, baru mau jadi pelatih di Juventus U-23. Tapi takdir membawa Andrea Pirlo mengorbit lebih cepat ke tim utama.

Apakah Andrea Pirlo pelatih karbitan? Semua punya penilaian sendiri-sendiri. Tapi pastinya direksi Juventus memiliki pertimbangan matang. Mulai aspek ekonomi, sampai rekam jejak mantan deep lying playmaker itu bersama Juventus ketika masih menjadi pemain.

Di Juventus, Andrea Pirlo meraih empat scudetto Serie A. Pada 2011/2012, 2012/2013, 2013/2014, dan 2014/2015. Setelah itu pindah ke New York City FC dan menutup karier lapangan gantung sepatu di sana pada 2017. Andrea Pirlo baru akan menerima lisensi pelatih pada Oktober 2020. Bulan saat ia nanti menyerahkan tesis dari kursus kepelatihan yang diikuti di Coverciano. Tapi sebelum itu Andrea Pirlo sudah bisa mulai melatih tim. Minimal dalam latihan di markas klub Juventus, Vinovo.

 Andrea Pirlo dalam kursus pelatih UEFA Pro di Coverciano – Foto: FIGC

 

Sekarang pertanyaannya, Andrea Pirlo harus mulai dari mana pekerjaan di Juventus?

Pertanyaan yang mendasar, karena ia sudah mewarisi skuat mewah di jajaran klub elite Italia. Mungkin hanya Inter yang materi pemainnya mendekati Juventus. Sebelum menganalisis skuat Juventus lini per lini, dari daftar pemain musim kemarin, Pirlo tidak bisa lagi memakai Miralem Pjanic dan Blaise Matuidi. Pjanic sebelum kompetisi kelar sudah mengumumkan pindah ke FC Barcelona. Kemudian Blaise Matuidi pergi ke MLS Amerika Serikat, bersama Inter Miami CF.

Oke sekarang masuk pembahasan lini per lini. Dimulai lapangan belakang yang musim kemarin dihuni 12 pemain. Dari selusin pemain bertahan, yang memiliki menit bermain terbanyak adalah Leonardo Bonucci (CB/3.085 menit), Matthijs de Ligt (CB/2.448 menit), Alex Sandro (LB/2.386 menit), dan Danilo (RB/1.441 menit). Selain nama-nama itu menit bermainnya di kompetisi Serie A Italia di bawah 1.000. Mereka antara lain Mattia De Sciglio (RB), Giorgio Chiellini (CB), Daniele Rugani (CB), Merih Demiral (CB), dan beberapa pemain muda lainnya.

Barangkali Pirlo tidak akan mengubah komposisi empat bek yang menjadi andalan di era Maurizio Sarri. Pengalaman, potensi, dan soliditas mereka terlalu berbahaya kalau sampai dirombak. Meski tidak bisa dimungkiri, pertahanan Juventus musim kemarin memang bobrok. Karena sejak 2011/2012 baru 2019/2020 kemarin gawang Juventus jebol sampai 43 kali dalam 38 laga Serie A.

 Contoh formasi Juventus di era Maurizio Sarri – Sumber: Whoscored

 

Namun sekali lagi mengubah komposisi pemain bertahan di musim pertama menjadi pelatih terlalu berisiko. Jadi pilihan paling bijak, tetap memberi kepercayaan buat Danilo dan Juan Cuadrado di bek kanan, lalu Matthis de Ligt dan Leonardo Bonucci sebagai menara kembar, dan Alex Sandro menjadi bek kiri. Kemungkinan besar Andrea Pirlo hanya akan belanja pemain untuk pelapis. Terutama mengantisipasi menuanya Giorgio Chiellini.

Sekarang lanjut ke lini tengah, barisan yang dianggap para pundit sebagai biang kegagalan di Eropa. Lapangan tengah Juventus disebut-sebut kurang memberi servis mumpuni buat Cristiano Ronaldo dan pemain nomor 9. Sebagai sosok yang dikenal sebagai metronom kala menjadi pemain, rasanya Andrea Pirlo punya banyak ide untuk memperbaiki kinerja lini tengah. Namun pekerjaan pertama adalah mencari pengganti Miralem Pjanic. Pemain nomor 6 yang pergi mencicipi LaLiga Spanyol.

Pekerjaan mencari pemain nomor 6 bukan persoalan gampang. Apalagi Pirlo memiliki standar tinggi, terutama menginginkan pemain yang bisa menjadi metronom seperti dirinya dulu. Jadi ia butuh pemain yang tidak saja pandai membagi bola dari depan garis pertahanan, tetapi juga bisa mengacaukan build-up serangan lawan.

Setelah Miralem Pjanic pergi, di posisi tengah Juventus tinggal punya Rodrigo Bentancur, Aaron Ramsey, Adrien Rabiot, dan Sami Khedira. Mereka berempat sebetulnya sudah mewah untuk menempati posisi tengah, baik sebagai DM atau CM, bahkan AM. Namun sudah pasti Andrea Pirlo butuh penyegaran. Siapa kira-kira yang bisa direkrut untuk menyegarkan pos metronom? Apakah itu Sandro Tonali? Gelandang elegan milik Brescia yang degradasi ke Serie B.

Sandro Tonali memenuhi semua persyaratan untuk bisa menjadi pembeda di lini tengah Juventus. Usianya baru 20 tahun, tapi pengalamannya segudang. Caps Timnas Italia juga sudah dimilikinya. Paling cocok lagi karena perawakannya mirip dengan Andrea Pirlo. Juga jangan lupa, dari Brescia lah Andrea Pirlo mengawali karier sebagai pemain.

Gaya main Sandro Tonali pun Italia banget. Musim kemarin dari 38 pertandingan Serie A, Sandro Tonali turun dalam 35 partai. Ini menunjukkan Sandro Tonali sudah matang untuk berseragam klub besar. Brescia sepertinya sadar dengan kebutuhan Juventus ini. Makanya pembicaraan dengan Inter ditahan dulu. Brescia diyakini sedang menunggu tawaran dari Juventus untuk memboyong Sandro Tonali.

 Posisi bermain Sandro Tonali di Brescia dan rerataan musim kemarin. – Sumber: Whoscored

 

Jika Sandro Tonali masuk, ia bisa menjadi metronom ideal. Setidaknya di Serie A yang membutuhkan konsisten dalam tiap pertandingan. Sedangkan untuk bersaing di Liga Champions, Andrea Pirlo masih bisa berharap dengan pengalaman Sami Khedira, Aaron Ramsey, hingga Douglas Costa.

Atau kalau mau paket komplet, Andrea Pirlo perlu mendesak direksi memboyong lagi Paul Pogba. Seandainya Paul Pogba masuk, lapangan tengah Juventus makin layak disebut nomor wahid. Hanya tantangan untuk merekrut Paul Pogba lebih besar. Terutama karena nilai kontrak Pogba yang begitu tinggi. Sehingga komposisi ideal di lini tengah Juventus nanti dengan skema tiga gelandang di posisi half space dan center adalah Adrien Rabbiot, Sandro Tonali, dan Rodrigo Bentancur. Jika memakai formasi empat pemain tengah, Juan Cuadrado dan Douglas Costa, bisa disisipkan di posisi flank.

Pindah ke lini depan, Andrea Pirlo masih tetap memberi kepercayaan besar buat Cristiano Ronaldo. Pemain Portugal itu bisa kembali merajut asa untuk membawa Juventus meraih trofi Liga Champions untuk ketiga kalinya. Selain itu Paulo Dybala juga bakal eksis dalam trisula penyerang The Old Lady. Tidak ada keraguan buat Cristiano Ronaldo dan Paulo Dybala menjadi pilar lapangan depan Juventus milik Pirlo. Hanya tim pelatih harus memikirkan bagaimana mengurangi ketergantungan terhadap Cristiano Ronaldo. Karena statistik memperlihatkan CR7 merupakan penyumbang gol terbanyak di musim kemarin. Total 31 gol di Serie A dan 4 gol di Liga Champions yang diproduksi Ronaldo, memperlihatkan ada jurang yang dalam. Kalau Ronaldo absen atau habis ditempel lawan, Juventus bisa kehabisan akal.

 Juventus di rezim Andrea Pirlo masih akan mengandalkan Cristiano Ronaldo – Foto: Juventus FC

 

Maka dari itu Pirlo harus bijak. Harus belanja pemain setidaknya untuk mencari pemain nomor 9. Karena Ronaldo dan Paulo Dybala bisa ditempatkan sebagai pemain nomor 7 dan 11. Sejauh ini radar yang terlihat, Andrea Pirlo sepertinya tertarik dengan striker milik Wolves, Raul Jimenez. Striker Meksiko ini dalam dua musim terakhir mampu mencetak gol dua digit. Meski usianya sudah 29 tahun, produktivitasnya bisa menjadi jawaban untuk menjaga lini depan Juventus tetap bertenaga.

Sebagai alternatifnya bisa mengejar Federico Chiesa (Fiorentina) atau Nicolo Zaniolo (AS Roma). Duvan Zapata dari Atalanta juga bisa menjadi pertimbangan. Lantas kembali mundur ke benteng pertahanan terakhir atau kiper, Andrea Pirlo tidak perlu repot. Ia masih bisa mempercayakannya kepada trio penjaga gawang, Wojciech Szczesny, Gianluigi Buffon, dan Carlo Pinsoglio. Tiga nama itu sudah paten untuk menjadi kiper utama, kedua, dan ketiga.

Sebagai pelatih tim besar yang sudah 9 musim beruntun menjadi juara Serie A, Andrea Pirlo dituntut untuk mempertahankan prestasi yang ada. Itu berarti Pirlo harus membawa Juventus menjadi juara kompetisi domestik pada musim pertamanya menjadi pelatih. Ini adalah tantangan buat Andrea Pirlo. Tapi dengan skuat yang dimiliki, persentase Juventus mempertahankan gelar juara Serie A masih ada di kisaran 70-80 persen. Artinya Juventus masih bakal mendominasi Serie A 2020/2021.

Nah paling berat adalah menuntaskan penasaran Juventus kenapa sampai usia Liga Champions sudah 65 tahun, baru 2 kali menjadi juara? Ini pertanyaan besar yang tidak mudah dicari jawabannya. Apalagi Juventus dari musim ke musim adalah raja Italia. Apa susahnya bersaing dengan tim Eropa lainnya? Fakta lagi bahwa dalam 9 tahun terakhir, Juventus pernah dua kali ke final. Tapi rontok semua. Total sudah 7 kali Juventus kalah di final sejak kompetisi ini digelar.

 Juventus juara Liga Champions 1995/1996, trofi kedua dalam sejarah mereka. Sumber: UEFA

 

Kalau bicara sial, ada kalanya sepak bola memang ditentukan keberuntungan. Tapi itu tidak dominan. Kesiapan taktik dan mentalitas menjadi syarat mutlak. Apakah Juventus belum memiliki dua hal itu? Terutama saat berhasil lolos ke final dan memainkan partai puncak yang penuh ketegangan?

Di situlah tugas besar Andrea Pirlo. Sebagai orang yang sudah dua kali mencatat trofi Liga Champions di lemari prestasinya, Pirlo harus bisa mengubah mentalitas Juventus di kompetisi klub paling elite di Eropa. Karena tantangan besar Juventus bukan lagi di kompetisi domestik, tapi kancah Eropa. Sebab, hanya dengan menjadi juara Eropa, Juventus bisa menjadi klub terbaik sejagat lewat Piala Dunia Klub. Oleh karenanya kalau ada ungkapan pelatih itu bukan pesulap, tapi di Juventus ini Andrea Pirlo benar-benar harus jadi pesulap. Mau tidak mau, suka tidak suka.

SAMPAIKAN KOMENTAR