Akhir Cerita Kerasnya Persaingan 6 Kompetisi Elite Eropa
26
May
2021
0 Comment Share Likes 142 View

Enam kompetisi elite Eropa untuk musim 2020/2021 telah berakhir. Inter Milan keluar sebagai juara Serie A. Lalu ada Manchester City yang berhasil menggondol gelar juara Premier League. Dari Bundesliga dan Eredivisie, Bayern Munich dan Ajax belum ada yang bisa menghentikan kedigdayaannya. Dan yang terakhir adalah kejutan dari Atletico Madrid dan Lille.

Tidak mudah bagi keenam tim tersebut untuk memenangkan gelar juara kompetisi domestik mereka. Persaingan ketat mesti dilalui, dan bahkan membuat mereka dalam situasi terancam tidak bisa menjadi yang terbaik. Tapi pada akhirnya Dewi Fortuna berpihak kepada Inter Milan, Manchester City, Bayern Munich, Atletico Madrid, Ajax dan Lille.

Serie A, Premier League, Bundesliga, dan La Liga dicap sebagai empat kompetisi elite Eropa juga bukannya tanpa alasan. UEFA menempatkan mereka dalam jajaran yang sama karena memiliki nilai koefisien tertinggi di benua Biru. Itu yang menjadi alasan utama kompetisi mereka mendapatkan jatah empat tim, lebih tinggi dari yang lainnya untuk mengirimkan wakil ke Liga Champions. Sedangkan Ligue 1 belakangan muncul sebagai kompetisi yang timnya mampu tampil apik di Eropa, seperti halnya Paris Saint-Germain.

Buah Tangan Dingin Antonio Conte

Inter Milan merengkuh gelar juara Serie A 2020/2021. Mereka memastikan capaian itu ketika musim baru memasuki pekan ke-34. Masih ada sisa empat pertandingan lagi, tapi pesaing terdekat mereka, Atalanta sudah tak mampu lagi mengejar. Selisih 13 poin yang mengantarkan La Beneamata ke tangga juara.

 

Inter Milan merayakan gelar juara Serie A 2020/2021. Foto: Twitter.com/Inter.

 

Penantian 11 tahun Inter Milan untuk menjadi juara Serie A akhirnya bisa dituntaskan oleh Antonio Conte di musim keduanya menjadi juru taktik. Jalan menuju ke tahta juara tidaklah mudah. Mereka harus berjuang ekstra keras untuk melewati AC Milan yang perkasa hingga pertengahan musim.

Inter Milan bahkan sempat terlempar ke urutan tujuh klasemen pada pekan ketujuh. Tapi secara perlahan Antonio Conte bisa membuat anak asuhnya bangkit lagi. Hingga di pekan ke-12, posisi kedua klasemen Serie A mereka kuasai dan selisih poin dengan AC Milan sebagai pemuncak menjadi tinggal satu.

Keraguan para suporter Inter Milan terhadap Antonio Conte bisa secara perlahan dikikis. Performa konsisten diperlihatkan Romelu Lukaku dan kawan-kawan, sampai akhirnya peringkat pertama mereka rebut dari tangan AC Milan pada pekan ke-22. Mulai dari sana langkah Inter Milan tak terbendung, ditambah lagi mereka menang dalam derby melawan AC Milan. Selisih keunggulan poin semakin menjauh.

"Saya rasa Scudetto ini akan dihargai oleh mereka yang pada awalnya tidak percaya pada saya, cuma karena masa lalu saya. Saya ditunjuk Inter Milan untuk membawa mereka kembali menjadi juara dalam tiga tahun dan saya melakukannya," kata Antonio Conte dikutip dari Football-Italia.net.

Keberhasilan Inter Milan menjadi juara Serie A ini sekaligus mengakhiri kedigdayaan Juventus yang selalu menang dalam sembilan musim terakhir. Menariknya, Si Nyonya Tua memulai tren positifnya di Serie A sejak ditangani Antonio Conte pada musim 2011/2012. Dia membawa Juventus menjadi juara selama tiga musim beruntun.

Selain Antonio Conte, sosok lain yang memiliki peran penting dalam keberhasilan menjadi juara Serie A 2020/2021 ada di dua pemain depan Inter Milan, yakni Romelu Lukaku dan Lautaro Martinez.

Romelu Lukaku jadi pencetak gol terbanyak Inter Milan di Serie A musim ini. Total dia menyarangkan 24 gol ke gawang lawan dengan tambahan sembilan assist

Lautaro Martinez jadi pemain penting di balik kesuksesan Inter Milan juga. Penyerang asal Argentina itu mampu menyumbangkan 17 gol dan empat assist di Serie A. Duetnya bersama Romelu Lukaku selalu membuat lawan kesulitan. Antonio Conte begitu nyaman dengan kedua pemain ini sehingga terus menjadi andalan.

Inter Milan total mengoleksi 91 poin. Jumlah yang berasal dari 38 pertandingan, di mana 28 kali mereka menang, tujuh imbang, dan menelan kekalahan tiga kali. Tangan dingin Antonio Conte yang membuat La Beneamata bisa solid di semua lini, termasuk pertahanan. Mereka jadi tim yang paling sedikit kebobolan dengan jumlah 35 gol.

Kesuksesan Sistem Rotasi Pep Guardiola

Manchester City menyegel gelar juara Premier League ketika musim 2020/2021 masih menyisakan tiga pertandingan lagi. Tim asuhan Pep Guardiola unggul 10 angka dari Manchester United yang membuntuti di urutan kedua. Untuk sampai pada titik ini, Manchester City harus melalui jalan terjal. Mereka terseok-seok di awal musim sampai pernah ada di peringkat ke-11.

Pesta juara Premier League di Etihad Stadium, markas Manchester City. Foto: Twitter.com/ManCity.

 

Jadwal yang padat ditambah badai COVID-19 yang melanda Manchester City pada Desember 2020 menambah derita Pep Guardiola. Dia harus pandai memutar otak guna mencari racikan strategi terbaik. Sampai akhirnya mereka mampu bangkit dan mencatatkan 15 pertandingan beruntun tak terkalahkan di Premier League.

Papan atas klasemen kembali menjadi tempat Manchester City. Pep Guardiola menemukan cara yang efisien untuk menangkal faktor kelelahan para pemain akibat padatnya jadwal pertandingan yang mereka jalani. Rotasi pemain disebut juru taktik asal Spanyol itu sebagai kunci kebangkitan tim berjuluk The Citizens.

"Para pemain adalah manusia, bukan mesin. Saya sadar, beberapa dari mereka kesal dengan kebijakan rotasi ini, karena mereka ingin bermain setiap hari. Tapi itu mustahil. Untuk bersaing di semua kompetisi tahun ini, di mana paling singkat, kalau Anda tidak melakukan rotasi, Anda tidak akan bersaing dan tidak akan berada di posisi seperti kami sekarang ini," ujar Pep Guardiola, dikutip dari Skysports.com.

Premier League musim ini diakui oleh Pep Guardiola merupakan yang tersulit untuk dimenangkan oleh Manchester City. Walau pada akhirnya mereka bisa memastikan gelar juara sebelum musim berakhir, tapi tantangan yang dirasakan sepanjang perjalanan begitu berat. Situasi yang jauh dari kata normal, dan persaingan ketat dengan klub lainnya dirasakan Manchester City sangat berat.

Kecerdikan Pep Guardiola dalam mencari solusi atas masalah yang dihadapi berakhir indah bagi Manchester City. Mereka punya torehan apik karena menjadi tim ketiga dalam sejarah Premier League yang mampu menjadi juara setelah tertinggal delapan poin dari pemuncak klasemen saat jeda paruh musim. Manchester United pernah merasakannya pada musim 1995/1996 setelah tertinggal 10 poin, dan Arsenal yang ketinggalan 13 angka pada 1997/1998.

Sedangkan bagi Pep Guardiola, gelar juara ini adalah ketiga kalinya yang dia raih dalam empat tahun membesut Manchester City. Kini dia menyamai rekor Kenny Dalglish yang menjadi juara sebanyak tiga dalam lima tahun menangani Liverpool. Ini adalah catatan terbaik yang dilakukan seorang manajer dalam sejarah berlangsungnya kompetisi kasta tertinggi Inggris.

Pep Guardiola masih memiliki peluang untuk mengantarkan Manchester City merebut treble winners mini musim ini, melengkapi gelar juara Premier League dan Piala Liga Inggris, yakni dengan memenangkan final Liga Champions melawan Chelsea. Peluang itu terbuka, dan pria berusia 50 tahun itu pasti tak mau melewatkan kesempatan emas untuk memenangkan trofi Si Kuping Besar untuk pertama kalinya bersama The Citizens.

Kado Perpisahan Hansi Flick

Sembilan musim beruntun menjadi jawara Bundesliga, itulah catatan impresif milik Bayern Munich. Gelar juara kompetisi kasta tertinggi sepakbola Jerman 2020/2021 sekaligus juga menjadi kado perpisahan dari sang pelatih, Hansi Flick. Musim depan dia sudah posisinya digantikan oleh Julian Naglesmann.

 

Hansi Flick dalam perayaan gelar juara Bundesliga 2020/2021. Foto: Twitter.com/FCBayernEN

 

Juru taktik berusia 56 tahun tersebut membawa Bayern Munich menguasai Bundesliga musim ini mulai dari pekan ke-13. Tapi sebelum itu mereka harus terlempar sampai ke peringkat ketujuh. Penyebabnya tak lain adalah kekalahan 1-4 dari Hoffenheim pada pertandingan kedua musim ini. Butuh waktu empat pekan bagi mereka untuk bisa kembali memimpin klasemen.

Saat menjadi pemuncak klasemen, Bayern Munich tidak bisa bersantai. Karena RB Leipzig dan Bayer Leverkusen terus menguntit di bawah. Bahkan pada pekan ke-11, ketika imbang 1-1 melawan Union Berlin, mereka digeser ke urutan kedua oleh Bayer Leverkusen. Sampai akhirnya kedua tim bertemu, Bayern Munich bisa menang 2-1, dan bisa kembali memimpin klasemen.

Sejak saat itu, posisi Bayern Munich tak tergoyahkan. Robert Lewandowski dan kawan-kawan dua kali mencatatkan lima kemenangan beruntun pada musim ini. Mereka tak mau lagi membuat kesalahan fatal yang bisa menyebabkan tim pesaing mengejar ketertinggalan poin. Hansi Flick berhasil menjaga konsitensi Bayern Munich, meski dalam beberapa pertandingan mereka sempat kalah dan juga imbang.

Memainkan 34 pertandingan, total poin yang dikumpulkan Bayern Munich mencapai 78. Jumlah itu merupakan hasil dari 24 kali menang, enam imbang, dan tiga kekalahan. Jika dibandingkan dengan musim lalu, perolehan poin tersebut memang kalah banyak, tapi Hansi Flick sudah sangat bahagia dengan apa yang diraih.

"Selamat untuk semuanya! Sungguh luar biasa apa yang telah dicapai oleh tim ini. Setelah sukses musim lalu, kami hampir tidak punya hari libur. Tim terus bermain setiap tiga hari sekali. Tapi, mereka tampil sangat baik. Bundesliga adalah gelar juara sebenarnya, kami senang bisa berhasil," kata Hansi Flick, dikutip dari laman resmi klub.

Sukses Bayern Munich menjadi semakin lengkap dengan gelar individu yang didapatkan oleh Robert Lewandowski. Striker andalan tim berjuluk FC Hollywood keluar sebagai pencetak gol terbanyak Bundesliga musim ini. Total dia menjebol gawang lawan sebanyak 41 kali. Catatan luar biasa itu membawa dia mengukir rekor dalam buku sejarah Bundesliga.

Robert Lewandowski melewati rekor yang dipegang oleh pemain legendaris Bundesliga, Gerd Muller. Pada musim 1971/1972, dia berhasil mencetak 40 go. Rekor yang bertahan selama 29 tahun itu akhirnya ada yang bisa melampaui, dan itu yang membuat perayaan gelar juara Bayern Munich terasa semakin lengkap.

Menghentikan Dominasi Barcelona dan Real Madrid

Dominasi Barcelona dan Real Madrid dalam enam musim terakhir di LaLiga berhasil dihentikan oleh Atletico Madrid. Tim asuhan Diego Simeone keluar sebagai juara untuk musim 2020/2021. Butuh waktu sampai pekan terakhir untuk Atletico Madrid memastikan keunggulan mereka atas Real Madrid yang menguntit di peringkat kedua.

 

Atletico Madrid juara LaLiga 2020/2021. Foto: Twitter.com/Atleti

 

Atletico Madrid mengakhiri musim ini dengan perolehan 86 poin. 26 kemenangan, delapan kali imbang, dan empat kekalahan jadi catatan apik mereka. Di urutan kedua ada Real Madrid yang tertinggal dua angka. Menjadi sempurna bagi tim berjuluk Los Rojiblancos karena bisa memenangkan persaingan dengan rival sekota.

Dalam lima pertandingan awal, Atletico Madrid sempat kewalahan. Mereka cuma bisa memetik dua kemenangan ketika berhadapan dengan Sevilla dan Granada. Sisanya berakhir dengan skor imbang. Posisi di klasemen pun melorot sampai ke urutan kelima. Titik kebangkitan Koke dan kawan-kawan dimulai pada Oktober 2021.

Di mana mereka mampu mencatatkan tujuh kemenangan beruntun. Tren positif itu dihentikan oleh Real Madrid yang menang 2-0 dalam laga El Derbi Madrileno. Tapi kekalahan itu tak lantas membuat mental para Atletico Madrid runtuh. Mereka bisa bangkit dengan cepat dan mencatatkan delapan kemenangan secara beruntun.

Saat sedang melaju kencang, 'mesin' Atletico Madrid tersendat mulai Februari 2021. Berawal dari hasil imbang melawan Celta Vigo, selanjutnya mereka sulit untuk mencatatkan kemenangan beruntun lagi. Dalam situasi seperti itu, Real Madrid dan Barcelona justru bisa memangkas jarak. Diego Simeone harus aktif menjaga mental para pemainnya agar tidak anjlok.

Kejaran dari Real Madrid dan Barcelona beberapa kali membuat Atletico Madrid tergeser dari puncak klasemen. Situasi yang membuat juru taktik asal Argentina mulai mendapatkan banyak kritik bahkan dari suporter sendiri. Namun dia tak mau menyerah dan berhasil memindahkan semua keraguan dengan gelar juara di pekan terakhir La Liga 2020/2021.

"Saya pikir total 32 pemain kami terlibat dalam pencapaian ini. Semua orang di dalam tim ini sama pentingnya. Tim ini sedang berkembang dan telah melakukan pekerjaan luar biasa. Itulah yang lebih penting daripada hasil. Kami selalu berjuang untuk memenangkan trofi ini," tutur Diego Simeone, dikutip dari Marca.com.

Raihan ini membuat Diego Simeone total sudah menyumbangkan delapan gelar juara untuk Atletico Madrid sejak dipercaya menjadi pelatih pada 2014 silam. Dua diantaranya berasal dari LaLiga. Lalu ada tambahan dua trofi juara Liga Europa, dan masing-masing satu dari Copa del Rey dan Piala Super Spanyol. Di usia ke-51 tahun, dia mampu mencatatkan prestasi apik sebagai juru taktik.

Diego Simeone kini masuk dalam jajaran atas pelatih Atletico Madrid. Di mana dia mampu dua kali membawa tim menjadi juara La Liga. Pertama kali yang melakukannya adalah Ricardo Zamora (1940, 1941), dan Helenio Herrera (1950, 1951). Wajar jika manajemen langsung menyodorkan kontrak baru kepada Diego Simeone ketika musim ini berakhir.

Mematahkan Dominasi Tim Kaya Raya

Ligue 1 2020/2021 berakhir dengan persaingan sengit antara Lille dan Paris Saint-Germain. Keduanya cuma terpaut satu poin, dan akhirnya Lille yang keluar sebagai juara kompetisi kasta tertinggi sepakbola Prancis. Total mereka mengumpulkan 83 poin hasil dari 24 pertandingan, 11 imbang, dan tiga kali kalah.

Keberhasilan Lille ini tak lepas dari kelengahan yang dilakukan oleh Paris Saint-Germain. Tim berjuluk Les Parisiens mengalami kekalahan musim ini sampai delapan kali. Padahal mereka menjadi tim yang paling banyak mengumpulkan kemenangan, yakni 26 kali. Empat pertandingan sisanya berakhir imbang.

Di awal musim Paris Saint-Germain menelan dua kekalahan beruntun saat melawan Lens dan Olympique de Marseille. Setelah itu mereka bangkit dan memenangkan delapan pertandingan beruntun. Sayangnya inkonsistensi mereka perlihatkan mulai pekan ke-11 hingga 18, di mana kemenangan menjadi sulit didapat, karena bergantian kekalahan dan hasil imbang yang mereka dapatkan.

Situasi sebaliknya dialami oleh Lille. Tim besutan Christophe Galtier berhasil mengambil alih puncak klasemen Ligue 1 untuk kali pertama pada pekan ke-15. Mereka mengumpulkan 32 poin, sedangkan Paris Saint-Germain, Olympique Lyon, dan Olympique de Marseille menguntit di bawahnya dengan selisih poin yang tipis.

Tapi cuma dua pekan Lille bisa menguasai klasemen. Karena datanglah Olympique Lyon yang tak mau kalah bersaing dengan mengumpulkan poin sama tapi unggul selisih gol. Sejak saat itu persaingan papan atas Ligue 1 semakin sengit. Lille dan Paris Saint-Germain bergantian mengisi posisi teratas sampai akhirnya pada pekan ke-31. Titik awalnya adalah kemenangan 1-0 Lille di markas Paris Saint-Germain.

Unggul tiga angka, Lille akhirnya bisa menyelesaikan tujuh laga sisa Ligue 1 tanpa kekalahan. Lima kali menang dan dua imbang membuat mereka berhasil menjadi juara Ligue 1 lagi setelah terakhir kali merebutnya pada 2010/2011. Ini juga jadi raihan trofi juara yang keempat kalinya dalam sejarah tim berjuluk Les Dogues.

Kesuksesan Lille ini tak lepas dari solidnya skuad yang dimiliki oleh Christophe Galtier. Salah satunya adalah striker veteran asal Turki, Burak Yilmaz. Pemain berusia 35 tahun itu berhasil menyumbangkan 16 gol dari 28 pertandingan Ligue 1 yang dilakoni. Jumlah yang menempatkan dia sebagai pencetak gol terbanyak Lille musim ini.

Lalu ada sosok striker muda berusia 21 tahun bernama Jonathan David. Baru didatangkan pada awal musim ini, dia cepat beradaptasi dengan tim. Christophe Galtier begitu percaya kepadanya sampai cuma satu kali absen di Ligue 1 2020/2021 dan menyumbangkan 13 gol.

Acungan jempol layak diberikan kepada Christophe Galtier. Tanpa pemain bintang dunia, tapi dia berhasil membawa Lille bersaing di papan atas Ligue 1 sampai akhirnya merengkuh gelar juara. Tim kaya seperti Paris Saint-Germain yang dalam tiga musim terakhir menguasai kompetisi kasta tertinggi sepakbola Prancis itu bisa mereka singkirkan.

Meneruskan Jadi Yang Terbaik Di Belanda

Meskipun Ajax tidak terlalu tampil di ajang Liga Champions musim ini, kembali menjadi juara Eredivisie musim ini menjadi hasil cerdas seorang Erik Ten Hag di musim ini. Mereka sukses meraih gelar ke-35 mereka.

Awal perubahan besar memang terjadi pada awal musim panas ini, dimana beberapa pemain andalan yang sukses membawa Ajax ke semifinal dan juara Liga Belanda pindah ke tim lain. Mulai dari hengkangnya Frenkie de Jong ke Barcelona, dan Matthijs De Ligt ke Juventus, dua pemain yang bisa jadi paling berpengaruh dalam tim musim lalu.

Dan kepindahan dua pemain itu bisa dikatakan sangat mempengaruhi performa Ajax di musim ini, terutama di Liga Champions. Namun kita masih bisa melihat sentuhan berkelas dari seorang Dusan Tadic yang menjadi key player untuk De Godezonen musim ini. Ia sudah dua kali membantu Ajax meraih dwigelar, yakni pada musim 2018--2019 dan musim 2020--2021. Semua pencapaian tersebut tak lepas dari peran pelatih Erik Ten Hag

Tak hanya Tadic, ada juga nama David Neres yang menarik perhatian para pecinta sepakbola di Liga Belanda musim ini. Ia berhasil mencetak total 8 gol dalam 33 penampilannya bersama Ajax, termasuk tiga gol dalam 19 penampilan di Eredivisie. Penampilan pemain sayap berusia 24 tahun ini memang telah mengundang sejumlah klub untuk meminangnya.

Melihat performa Ajax yang masih haus akan gelar. Siapakah kira-kira tim yang bisa menghentikan dominasi hebat dari tim asal Belanda ini? Kita lihat saja Pria Intersport

SAMPAIKAN KOMENTAR