2020: Tahun yang Berbeda bagi Sepak Bola
30
Dec
2020
0 Comment Share Likes 245 View

Kita semua setuju bahkan tahun 2020 bukanlah tahun terbaik bagi para pecinta sepak bola di penjuru negeri. Hadirnya wabah Covid-19 yang membuat dunia seakan berhenti sejenak begitupun dalam keseruan euforia dunia sepak bola di tahun ini.

Sebagai impas para pecinta sepak bola merasakan sendiri menonton bola tanpa keseruan penonton di stadion, tanpa pesta para fans yang merayakan timnya menjadi juara, tanpa para sosok legenda yang meninggalkan sepak bola untuk selamanya. Tapi sepak bola tetaplah ajang yang harus terus berjalan. Meskipun  sempat terhenti sejenak, tampaknya tidak merubah pencapain berbagai kesebelasan yang berhasil mencatatkan rekor baru, atau kembali merengkuh gelar setelah sekian lama.

Sepak bola di tahun 2020 juga memberikan banyak cerita yang tak akan bisa dilupakan begitu. Dan berikut berbagai rangkuman penting khusus untuk Pria Intersport. 

Pandemi membuat sepak bola menjadi tidak sama lagi

Sepak bola berjalan sebagaimana biasanya di awal tahun, hingga tiba-tiba pandemi Covid-19 menyergap dan membuat banyak aktivitas harus terhenti. Imbasnya sebagai aktivitas olahraga yang menggunakan banyak kontak fisik dari para pemain hingga, kegiatan ini harus dihentikan sementara untuk menghambat keramaian. Kebijakan lockdown yang diambil banyak negara-negara di dunia juga  dilakukan menyusul kasus kematian akibat pandemi yang meningkat membuat sepak bola harus terhenti (untuk sementara).

Sepak bola di tahun ini kemudian akhirnya memang bisa dimulai kembali sekitar bulan Juni hingga Juli. Tapi euforia sepak bola tersebut tak lagi sama. Banyak kompromi-kompromi yang diambil agar sepak bola tetap bisa berjalan. Para fans dilarang datang ke stadion, pemain dan pelatih tinggal di dalam bubble yang ketat dan terbatas interaksinya dari dunia luar, dan pertandingan dilaksanakan dalam protokol kesehatan yang ketat. Sebagai kompensasi klub diberikan beberapa keistimewaan, mulai dari kapasitas tes yang lebih banyak hingga kebolehan mendaftarkan pemain dan melakukan pergantian lebih banyak di satu pertandingan.

Kompromi-kompromi yang diambil tentu menyimpan banyak dampak lain. Efek yang paling terasa adalah ketiadaan fans di stadion. Kalaupun ada, jumlahnya masih sangat dibatasi. Tentu sepak bola menjadi tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya di 2020 ini. Tak ada lagi dukungan maupun fans yang bisa memberikan tekanan hingga semangat serta atmosfer yang lebih hidup. Konsekuensi dari penundaan liga membuat musim baru juga berdampak pada memadatkan jadwal, yang membuat tim kerap bermain dua kali dalam seminggu. Akibatnya, banyak pemain mengalami cedera karena kondisi fisik yang kelelahan.

Kisah para juara liga

Berlanjutnya liga di banyak negara membuat kompetisi yang sempat terhenti masih bisa memberikan ceritanya. Banyak cerita haru hingga ikonik dari tim-tim yang berhasil menjuarai liga masing-masing.

Dari tanah Britania, Liverpool akhirnya berhasil mengakhiri penantian panjang 30 tahun tanpa gelar liga. Armada Jürgen Klopp yang tampil meyakinkan di sepanjang musim mampu menjadi juara dengan keunggulan 18 angka atas pesaing terdekatnya, Manchester City. Satu divisi di bawahnya, tim legendaris dari Yorkshire, Leeds United juga berhasil promosi ke kasta tertinggi Liga Inggris setelah menjuarai Divisi Championship. Keberhasilan Leeds promosi setelah tampil terakhir pada tahun 2004 disambut gembira oleh publik Leeds. Adalah pelatih legendaris asal Argentina, Marcelo Bielsa, yang berjasa dalam membawa Leeds kembali ke kasta tertinggi.

Selebrasi Liverpool usai menjuarai liga (sumber: Premier League)

 

Liga-liga lain juga menyajikan drama serupa. Real Madrid berhasil mematahkan ambisi rivalnya, Barcelona, menjuarai liga tiga kali berturut-turut. Meski sempat tertinggal di klasemen, El Real sukses menyalip lewat tampil konsisten di saat-saat akhir dan menjuarai liga dengan keunggulan lima angka. Sementara itu, di Serie A Italia dan Bundesliga Jerman, Juventus dan Bayern Munich masih mendominasi dengan gelar liga ke-9 dan ke-8 mereka secara berturut-turut.

Bayern yang tak terhentikan

Bisa soal salah satu klub paling sukses di tahun 2020, mungkin Bayern Munich bisa jadi salah satu jawabannya, walaupun di awal musim raksasa Bavaria ini menjalani musim dengan tidak ideal. Hasil minor di awal musim membuat mereka memecat pelatih kepala Niko Kovač. Akan tetapi, siapa sangka di bawah manajerial eks asisten pelatih Kovac, Hans-Dieter Flick, Bayern justru menjelma menjadi kekuatan yang tak terhentikan.

Die Roten berhasil mengejar ketertinggalan di liga dan menjadi juara dengan meyakinkan. Gelar liga berhasil mereka kawinkan dengan gelar DFB Pokal. Kemudian menyusul gelar Liga Champions melengkapi treble mereka. Di awal musim baru, Bayern melengkapi lemari trofinya dengan gelar DFL Supercup dan Piala Super Eropa.

Tak hanya itu, Bayern melakukan semua itu dengan permainan menyerang yang atraktif. Total Bayern mencetak 158 gol dari 52 pertandingan di seluruh kompetisi. Bayern mencatatkan beberapa kemenangan fenomenal seperti 7-2 melawan Tottenham dan 8-2 melawan Barcelona di Liga Champions. Striker mereka, Robert Lewandowski menjalani musim paling subur dengan mencetak 55 gol hingga pada pertengahan bulan Desember dinobatkan sebagai The Best FIFA Men’s Player 2020 mengalahkan dua mega-bintang, Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.

Siapa bisa menghentikan Bayern? (sumber:AS)

 

Drama di Barcelona: Antara Messi dan Bartomeu

Kegagalan manajerial Jose Maria Bartomeu di Barcelona mencapai puncaknya di pertengahan tahun ini. Barca tidak hanya gagal meraih satupun gelar, tetapi juga kehilangan trofi-trofi tersebut dengan cara yang menyedihkan: mulai dari terselip di saat-saat akhir liga oleh rival abadinya, Real Madrid, hingga kekalahan memalukan 2-8 dari Bayern Munich di perempat final Liga Champions. Kegagalan tersebut menjadi puncak ketidakpuasan fans Barcelona atas kepemimpinan Bartomeu. Investasi pemain bintang yang gagal hingga penunjukan pelatih yang tidak membuahkan hasil menjadi penyebab.

Puncaknya tak berhenti di situ, sang mega bintang, ikon klub, dan sosok yang membawa mereka berjaya beberapa musim terakhir, Lionel Messi, mengancam untuk hengkang. Messi melalui pengacaranya mengirim burofax yang mengabarkan bahwa kliennya akan mengaktifkan klausul pemutusan kontrak.

Perdebatan seru pun terjadi antara para pecinta sepak bola terkait Messi yang harus bertahan atau memang keputusan yang tepat untuk La Pulga hengkang dari Blaugrana saat itu. Tidak kalah serunya, berbagai klub besar seperti The Citizens dan Les Parisien bahkan dikatakan jadi nakhoda baru untuk sang mega bintang asal Argentina ini.

Namun drama tersebut akhirnya berakhir dengan Bartomeu tidak lagi menjabat, dan Messi bertahan untuk setidaknya satu musim lagi.

2020 bukan menjadi tahun yang menggembirakan bagi Barcelona (sumber: FC Barcelona)

 

Musim baru dan kejutan

Musim baru menghadirkan cerita baru. Kali ini datang dari tim-tim non-unggulan yang merajai papan atas klasemen liga masing-masing. Sebaliknya, tim-tim unggulan justru banyak yang terseok-seok di papan tengah.

Tottenham Hotspur, Real Sociedad, dan AC Milan sempat merajai klasemen masing-masing liga kendati hanya berstatus sebagai tim Liga Europa. Keberhasilan mereka mengungguli tim papan atas musim lalu yang masih tertatih-tatih dalam memulai liga. Liga Inggris secara khusus menghadirkan persaingan yang lebih ketat. Lagi-lagi, tim non-unggulan seperti Aston Villa, Everton, Southampton, dan West Ham United sempat menghadirkan kejutan di papan atas.

Nasib yang berbeda dialami beberapa tim unggulan musim lalu. Arsenal, misalnya, masih terjerembab di papan bawah hingga pertengahan Desember. Dua tim asal Manchester, United dan City juga masih belum menemukan permainan terbaiknya. Barcelona masih mengalami penampilan yang tidak konsisten akibat musim panas yang penuh dengan drama melelahkan. Sementara Juventus masih beradaptasi di tangan pelatih baru meskipun saat ini mulai meraih berbagai hal positif dari segi kemenangan dan posisi klasemen. Hal ini juga menjadi momen yang dimanfaatkan klub-klub non-unggulan di atas untuk meningkatkan posisinya.

Cerita dari mereka yang pergi

Banyak kejutan yang datang, banyak juga sosok penting berpulang. Ternyata tahun 2020 juga menyisakan duka dari wafatnya beberapa tokoh sepak bola, mulai dari eks pemain hingga pelatih yang meninggalkan kesan di timnya masing-masing.

Dunia berduka ketika Diego Armando Maradona menghembuskan nafas terakhirnya pada 25 November. Maradona yang baru saja berulang tahun ke-60, meninggal dunia akibat serangan jantung. Sepekan sebelumnya Maradona baru saja menjalani operasi untuk mengangkat gumpalan darah di otaknya. Kepergian Maradona ditangisi jutaan rakyat dunia, terutama di Argentina dan Napoli, tempat di mana ia memberikan gelar juara yang berkesan sehingga dielu-elukan--bahkan dianggap tuhan--oleh orang-orang di sana. Presiden Argentina mengumumkan masa berkabung nasional selama tiga hari. Sebagai penghormatan, stadion kandang Napoli diubah namanya dari Stadio San Paolo menjadi Estadio Diego Armando Maradona.

Publik Napoli mengenang Maradona (sumber: Boston Globe)

 

Selain Maradona, publik sepak bola juga kehilangan beberapa legendanya. Paolo Rossi, penyerang legendaris Italia juga wafat awal Desember ini. Begitu juga dengan publik Liverpool yang kehilangan salah satu manajer legendarisnya,Gérard Houllier yang berhasil membawa The Reds meraih treble winner di tahun 2002 hingga wafatnya mantan arsitek Tim Tango, Alejandro Sabella.

Itulah berbagai rangkaian cerita yang mengisi dunia sepak bola sepanjang tahun ini, dari yang ikonik, penuh kejutan, hingga penuh duka pun bergabung dalam serangkain kaleidoskop tahun 2020. Mari kita nantikan momen seru apa yang akan terjadi pada tahun 2021, Pria Intersport.

SAMPAIKAN KOMENTAR