2 Modal Penting Bayern Di Final Liga Champions
01
Sep
2020
1 Comment Share Likes 427 View

FC Bayern menjadi juara Liga Champions musim ini. Mereka mengunci trofi keenam dalam sejarah klub, setelah mengalahkan PSG di Estadio Da Luz, Lisbon, Minggu 22 Agustus 2020 malam waktu setempat atau Senin dini hari WIB.

Dalam pertandingan ini Bayern menang 1-0 atas PSG. Gol tunggal dicetak Kingsley Coman pada menit ke-59. Sampai pertandingan selesai, PSG tidak mampu mengejar ketertinggalan. Sebelumnya Bayern memenangi Liga Champions sebanyak lima kali. Masing-masing pada final 1974, 1975, 1976, 2001, dan 2013. Fakta itu membuat Bayern berdiri sejajar dengan Liverpool FC yang juga sudah mengoleksi 6 gelar juara.

 Sumber: Twitter.com/ChampionsLeague

 

Sebagai tim paling sering juara adalah Real Madrid dengan 13 gelar. Disusul AC Milan dengan 7 kali juara. Di pertandingan puncak ini, PSG dan Bayern tidak mengubah formasi yang selama ini menjadi andalan. PSG masih dengan 4-3-3, kemudian Bayern memakai paten 4-2-3-1.

Yang agak berani dari PSG adalah keputusan Thomas Tuchel memainkan Keylor Navas. Kiper itu di semifinal absen karena cedera paha. Tapi proses penyembuhan tampaknya berjalan cepat, sehingga Sergio Rici kembali dicadangkan. Keylor Navas dianggap lebih berpengalaman. Empat bek PSG ditempati Thilo Kehrer, Thiago Silva, Presnel Kimpembe, dan Juan Bernat. Kemudian pusat permainan diisi Ander Herrera, Marquinhos, dan Leandro Paredes. Kehrer dan Bernat menjadi alternatif flank, untuk naik sampai garis pertahanan yang tinggi.

Sebagai trisula penyerang adalah Angel Di Maria, Kylian Mbappe, dan Neymar. Sekali lagi ini adalah pilihan terbaik dan paling ideal. Kylian Mbappe sebagai target man, diapit dua penyerang licin dalam diri Angel Di Maria dan Neymar.

Dari Bayern, pelatih Hansi Flick seperti biasanya ingin menguasai permainan dengan menaruh lima pemain di tengah. Dua pemain di posisi nomor 6, Leon Goretzka dan Thiago Alcantara, berdiri untuk mencegat serangan lawan sejak lapangan tengah.

Empat pemain bertahan yang sering menerapkan pertahanan tinggi, kembali diberi kepercayaan. Tidak diubah komposisinya. Mereka adalah Joshua Kimmich sebagai bek kanan, David Alaba dan Jerome Boateng menara kembar, serta bek kiri Alphonso Davies. Joshua Kimmich dan Alphonso Davies bakal bekerja ekstra untuk menahan kepintaran Angel Di Maria dan Neymar.

Untuk lini serang, Bayern menaruh tiga penyerang di belakang striker utama Robert Lewandowski, yaitu Kingsley Coman, Thomas Mueller, dan Serge Gnabry. Dengan formasi seperti ini Hansi Flick benar-benar menginginkan keseimbangan dalam permainan.

MENTAL BAYERN TIDAK GOYAH

Bayern mengambil inisiatif serangan terlebih dahulu. Bola masih bertahan dalam penguasaan mereka hingga pertandingan berjalan tiga menit. Sisi kiri pertahanan PSG terus dieksploitasi para pemain Bayern. Kombinasi Alphonso Davies dan Kingsley Coman menghadirkan masalah tersendiri di awal pertandingan buat PSG.

Namun garis pertahanan PSG sudah siap dengan agresivitas Bayern, yang biasanya memang seperti itu. Maka para pemain PSG mengantisipasi serangan bergelombang di awal laga ini dengan menerapkan zona marking. Menjaga betul agar pemain Bayern jangan sampai masuk ke kotak penalti.

Mendekati 10 menit awal pertandingan, PSG mulai lepas dari tekanan Bayern. Beberapa kali serangan dibangun dengan memanfaatkan lebar lapangan. Mereka terus memberi tekanan kepada pertahanan Bayern, yang dipaksa harus fokus sampai di dalam kotak penalti.

Eksploitasi serangan PSG ada di sisi kanan pertahanan Bayern. Angel Di Maria terus berusaha masuk ke kotak penalti Bayern untuk menyuplai bola kepada Neymar dan Kylian Mbappe yang bergantian mencari ruang kosong di dalam kotak penalti.

Kombinasi operan-operan pendek dan terobosan menjadi andalan PSG dalam membongkar rapatnya pertahanan Bayern. Terhitung dua kali upaya mereka itu berakhir menjadi peluang emas di babak pertama.

Yang pertama lewat Neymar, tapi tendangannya masih bisa dihalau oleh Neuer. Tak berselang lama Angel Di Maria yang berdiri bebas di dalam kotak penalti, tapi tembakan kaki kanannya masih jauh dari sasaran. Di tengah tekanan besar dari para penyerang PSG, Bayern kehilangan Jerome Boateng. Bek tengah ini mengalami cedera otot, tidak bisa melanjutkan pertandingan.

Tampaknya Boateng belum pulih benar dari masalah otot saat melawan Lyon di perempat final. Pukulan besar buat Bayern karena mereka dipaksa mengganti satu pemain di jantung pertahanan, padahal pertandingan baru berjalan 24 menit. Niklas Suele masuk menggantikannya.

Tiga gelandang PSG, Ander Herrera, Leandro Paredes, dan Marquinhos juga berhasil memutus alur serangan yang coba dibangun oleh Bayern. Mereka tidak membiarkan Thiago Alcantara dan Thomas Mueller bisa leluasa untuk bergerak dan menguasai bola.

Bayern kemudian mencari alternatif lain agar bisa keluar dari tekanan. Mengandalkan kecepatan pemain sayap menjadi pilihan mereka untuk melakukan akselerasi ketika membangun serangan balik cepat.

Cara itu sukses membalikkan situasi di atas lapangan. Bahkan Bayern mencatat persentase penguasaan bola sebanyak 58 persen di 30 menit babak pertama. Meski begitu, mereka pada dasarnya sulit untuk masuk sampai ke kotak penalti. Compact defense blok pertahanan PSG sangat disiplin.

Dari banyak alur serangan Bayern, mereka paling sering mengeksploitasi sisi kanan pertahanan PSG. Poros Alphonso Davies, Leon Goretzka, dan Kingsley Coman benar-benar menghadirkan ancaman. Bahkan garis pertahanan Bayern beberapa kali berani naik sampai begitu tinggi masuk setengah lapangan. Dalam satu momen ada 10 pemain Bayern berdiri di setengah daerah lawan. Ini menandakan pressing Bayern yang begitu besar.

Momen 10 pemain Bayern ada di daerah permainan lawan, yang menandakan pressing tinggi. Foto: UEFA

 

Babak pertama diakhiri dengan skor 0-0. Statistik pertandingan memperlihatkan kedua tim menyajikan permainan yang ketat. Total peluang PSG ada 6, Bayern punya 5. Tapi peluang PSG lebih mengancam karena 3 kali diblok. Bayern punya peluang yang sempat membuat jantung berdetak, ketika tembakan Robert Lewandowski membentur tiang gawang.

 Heatmaps babak pertama. Sumber: Whoscored

 

NEYMAR DIJEGAL PSG PINCANG

Paruh kedua pertandingan diawali tanpa adanya pergantian pemain. Komposisi dan formasi pemain masih seperti di babak pertama. Tapi cara bermain Bayern diubah menjadi lebih keras.

Tensi pertandingan mulai tinggi memasuki menit ke-50. Situasi ini terlihat dari provokasi yang dilakukan Serge Gnabry dengan menjegal engkel Neymar. Pelanggaran itu memancing perdebatan antarpemain. Hasilnya dua kartu kuning, buat Gnabry dari Leandro Paredes yang terpancing emosinya.

Skuat Bayern mulai bermain keras untuk meredam kecepatan transisi permainan PSG. Pemain bertahan Bayern tidak segan untuk menjatuhkan Neymar dan barisannya. Bahkan sampai harus ditebus dengan kartu kuning. Dari 22 pelanggaran yang dilakukan Bayern sepanjang pertandingan, mereka cuma dua kali melakukannya di seperempat garis pertahanan akhir. Sisanya dilakukan di zona aman.

 Statistik pelanggaran kedua tim. Sumber: Whoscored.

 

Dominasi bola Bayern akhirnya membuahkan hasil. Menit ke-59, kombinasi umpan Joshua Kimmich dan Serge Gnabary di zona 6 dan 3 PSG, berhasil membuka celah di kotak penalti. Joshua Kimmich jeli melihat Kingsley Coman yang berpotensi berdiri bebas. Benar saja, ketika bola dilepas ke Coman, ia tidak terkawal dan seperti bersembunyi di belakang Kehler. Coman dengan mudah menanduk bola ke sisi kiri Keylor Navas. Gol 1-0 buat Bayern.

Thomas Tuchel merespons situasi tertinggal ini dengan memasukkan tenaga baru di lini tengah. Marco Verratti masuk, Leandro Paredes keluar. Tidak ada perubahan formasi, hanya Verratti yang lebih bugar dimasukkan untuk memberi darah segar di lini tengah.

Hansi Flick tidak kalah cepat. Ia langsung mengubah komposisi pemain. Dua pergantian sekaligus dilakukan. Philippe Coutinho masuk menggantikan Gnabry, kemudian Ivan Parisic menggantikan Coman. Dengan begitu dua penyerang yang mengapit Robert Lewandowski semuanya diganti. Ini membuat serangan Bayern tetap memiliki performa yang tinggi.

PSG tidak punya banyak pilihan. Opsi utama adalah meningkatkan agresivitas, demi bisa secepatnya menyamakan skor. Namun usaha para pemain PSG tidak kunjung mendapatkan hasil sampai sepertiga akhir waktu pertandingan. Beragam gocekan dari Mbappe, Di Maria, dan Neymar, masih saja menemui tembok tebal di garis pertahanan dalam Bayern.

Di 10 menit terakhir pertandingan, Thomas Tuchel akhirnya membongkar trio penyerangnya. Choupo-Moting, pahlawan PSG saat mengalahkan Atalanta di perempat final, dimasukkan untuk mengganti Angel Di Maria.

KEBUNTUAN PSG

Namun PSG tidak kunjung mendapatkan solusi untuk membongkar permainan Bayern. Bahkan Neymar sampai harus turun sampai ke tengah, untuk mencari bola. Serangan PSG pada dasarnya terlalu mudah untuk dihentikan blok pertahanan Bayern, bahkan sebelum sampai ke sepertiga akhir lapangan.

Pertandingan akhirnya benar-benar selesai. Injury time selama 5 menit, tidak mampu dimanfaatkan PSG untuk menghadirkan drama. Penguasaan bola dan penjagaan zona yang disiplin, membuat Bayern mempertahankan keunggulan.

Kunci kemenangan Bayern bisa jadi karena mereka tidak mengendurkan tempo permainan di saat sudah unggul. Bahkan Bayern tidak mengurangi tekanan terhadap PSG. Hal itu yang membuat PSG kesulitan untuk membongkar dominasi permainan Bayern.

SAMPAIKAN KOMENTAR