Toyota 86: Kombinasi Stance dan High Performance yang Ideal
16
Sep
2020
0 Comment Share Likes 311 View

Aliran modifikasi pada mobil memang banyak macamnya. Dari berbagai aliran yang ada, modifikasi bergaya mobil ceper atau yang lebih populer dengan stance, tetap jadi favorit sejak dahulu hingga saat ini.

Dalam modifikasi bergaya stance, setiap modifikator juga punya referensi yang berbeda-beda. Ada yang memodifikasi total untuk tujuan kontes dan ada juga yang memodifikasi dengan batasan masih aman untuk dikendarai harian.

Keduanya tentu saja punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.  Pada modifikasi stance total, mobil bisa diubah sedemikian rupa pada bagian kaki-kakinya agar memiliki jarak antara bodi dan tanah seminimal mungkin. Umumnya pemilik mobil menggunakan suspensi udara dan mengubah camber ban menjadi semiring mungkin untuk membuat mobil menjadi sangat ceper.

Hanya saja, dengan modifikasi sangat ceper seperti itu, biasanya mengorbankan hal fungsionalitas dan kenyamanan saat berkendara. Tak jarang, mayoritas orang yang memodifikasi total untuk tujuan kontes tersebut, akan mengandalkan mobil towing untuk membawa mobilnya ke tempat acara.

Sementara pada modifikasi stance harian, jarak antara bodi ke tanah biasanya tidak terlalu rendah dan camber pada roda pun tidak terlalu miring. Tujuannya, tentu saja agar mobil masih bisa digunakan untuk harian dengan aman dan nyaman.

Hal itu pula lah yang menjadi alasan utama bagi seorang Lukman Aryadi dalam memodifikasi Toyota 86 kesayangannya. Lukman yang telah memiliki Toyota 86 sejak 2012, dirinya memang prinsip untuk membangun sebuah mobil dengan konsep stance harian yang nyaman dan aman untuk dikendarai setiap hari terutama saat kebut-kebutan di jalan tol dan di lintasan sirkuit.

 

Obat Ganteng Dengan Body Kit Aimgain

Tentu saja, memadukan unsur modifikasi stance dan performa bukanlah suatu hal yang mudah. Diperlukan konsep dan perhitungan yang matang selama proses perencanaan hingga modifikasi. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, ubahan pertama yang dilakukan Lukman pada mobilnya itu pun, yakni membenamkan body kit dari Aimgain.

Proses pemilihan body kit tersebut, kata Lukman, juga bukan hal yang mudah. Sebab, dirinya memiliki pemikiran, bahwa body kit bagi mobil kesayangannya itu harus enak dilihat, tidak berlebihan, dan yang terpenting tidak boleh memiliki gaya banyak baut pada bagian fender-nya.

“Sebenarnya dari awal saya pakai Toyota 86 itu sudah banyak yang nawarin body kit untuk mobil ini, mulai dari Rocket Bunny, Artisan Spirit, Liberty Walk, sampai Aimgain. Cuma saat itu belum ada yang cocok buat saya. Sampai akhirnya di pertengahan 2017, si Aimgain sama Stancenation launch Aimgain X Stancenation GT Type 2 untuk Toyota 86 facelift, dan pas saya lihat gambarnya itu, oke saya langsung bilang saya mau ini body kit,” jelas Lukman.

Sebelum memasang body kit Aimgain X Stancenation GT Type 2 tersebut, Lukman pun harus melakukan facelift agar body kit tersebut bisa serasi dengan bodi facelift baru dari Toyota 86. Berbagai kebutuhan eksterior untuk facelift, dirinya pesan OEM dari Toyota langsung, mulai dari bumper hingga lampu-lampu.

 

Andalkan Air Cup Untuk Membuat Mobil Menjadi Ceper

Setelah melakukan proses modifikasi pada body kit, tahapan selanjutnya yang dilakukan Lukman, yakni melakukan berbagai ubahan pada sektor kaki-kaki, untuk membuat mobilnya lebih rendah namun tetap aman dan nyaman saat digunakan harian, khususnya kecepatan tinggi.

“Saat itu pokoknya yang jadi acuan saya, saya mau aplikasikan ini mobil tetap wide body, pendek, tapi enak buat dipakai ‘ugal’. Karena kebetulan, saya pengen ini mobil tetap enak dipakai ngebut di tol atau di sirkuit sekalipun,” jelas Lukman.

Karena alasan itu, Lukman pun akhirnya tidak memilih penggunaan suspensi udara pada mobilnya. Sebab, apabila menggunakan suspensi udara, kata Lukman, maka akan membuat suspensi udaranya itu menjadi rentan cepat rusak apabila dipakai saat kecepatan tinggi atau bermanuver ekstrem.

“Jadi pas saya bangun mobil ini, saat itu saya sudah mikir wah gimana nih ya saya enggak mau pakai airsus. Akhirnya, suatu hari saya ditawarin satu teknologi suspensi itu namanya Air Cup, jadi mobil pertama di Indonesia yang pakai Air Cup itu mobil saya,” ungkap Lukman.

Berbeda dengan Air Sus yang bisa diposisikan pada 3 level, yakni standar, paling rendah, dan paling tinggi, pada Air Cup ini hanya bisa 2 posisi saja, yakni standar atau yang terendahnya dan paling tinggi. Secara tingkat kerendahannya, Air Cup tentu saja tidak bisa serendah seperti pada Air Suspension.

Teknologi yang digunakan pada Air Cup, kata Lukman, juga jauh lebih baik dalam hal durability untuk pemakaian harian. Sebab, Air Cup tidak mengandalkan balon udara seperti pada Air Suspension.

“Enaknya Air Cup itu, kita bisa mengatur dumper dan rebound dari suspensinya itu. Lalu kalau masih merasa kurang puas dengan suspensinya, kita bisa ganta-ganti spring rate-nya. Jadi buat yang masih hobi untuk performa, Air Cup ini cocok banget, karena kita bisa mengeksplor seluas mungkin apa yang kita inginkan atau butuhkan,” tutur Lukman.

Untuk menemukan formulasi suspensi yang tepat dan cocok tersebut, juga bukan hal yang mudah. Diperlukan riset dan pengujian berkali-kali hingga akhirnya bisa menemukan komposisi yang tepat.

 

Memaksimalkan Internal Mesin Bawaan

Setelah urusan suspensi beres, tantangan modifikasi selanjutnya yang dihadapi Lukman, yakni meningkatkan performa mobilnya dengan meminimalisir penggunaan komponen dan parts aftermarket. Ubahan yang dirinya lakukan pada sektor jantung pacu, hanyalah membenamkan turbo kit dari AVO.

“Piston dan internal lainnya itu benar-benar enggak ada yang saya ubah, semuanya masih bawaan sejak 2012. Jadi benar-benar hanya masukin turbo kit aja sudah, girboks juga masih standar, ECU hanya di reflash. Karena saat itu saya penasaran limit ini mobil dengan kondisi seperti itu bisa sampai mana sih,” kata Lukman.

Meskipun hanya mengandalkan internal mesin bawaan, hasil performa mobil ini tak bisa dipandang sebelah mata. Lukman, terbilang sukses memaksimalkan tuning dari Toyota 86 ini hingga bisa mendapatkan tenaga 325 daya kuda.

Dengan keberhasilannya dalam memadukan modifikasi stance dan performa pada Toyota 86 kesayangannya itu, Lukman mengaku sangat puas. Karena, menurutnya bukan suatu hal yang mudah dalam mengkombinasikan modifikasi stance dan performa buas untuk penggunaan harian dan punya durability sangat baik.

 

SAMPAIKAN KOMENTAR