Sejarah "The Master of Rain" Ayrton Senna
08
May
2019
0 Comment Share Likes 565 View

Memasuki Mei bagi pecinta ajang balap Formula 1 (F1) merupakan bulan yang tidak terlupakan karena momen gugurnya Ayrton Senna. Pembalap dengan nama lengkap Ayrton Senna da Silva ini meninggal akibat kecelakaan saat balapan tengah berlangsung. Senna meniti karir membalapnya di arena F1 sejak musim 1984 hingga musim 1994 dan sukses meraih tiga kali gelar juara dunia pada musim 1988, 1990, dan 1991 saat bergabung bersama tim balap McLaren. Ia meninggal dunia akibat kecelakaan di GP San Marino pada 1 Mei 1994 saat sedang memimpin lomba.

Saat hari nahasnya, mobil Senna menghantam tembok pada kecepatan tinggi di belokan Tamburello. Walaupun kejadian itu sangat tragis, kematiannya akan selalu diingat oleh seluruh dunia. Mengingat kontribusi Senna kepada F1 dan para penikmat F1.

Saat Senna Pertama Belajar Mengemudi

Bernama lengkap Ayrton Senna da Silva, pembalap ini lahir di Sao Paulo, 21 Maret 1960 - meninggal di Bologna, Italia, 1 Mei 1984. Senna lahir di Rumah Sakit Bersalin Pro-Matre di Santana, sebuah lingkungan di São Paulo. Anak seorang pemilik tanah dan pabrik besar Milton da Silva dan istrinya Neide Senna da Silva. Bakat olahraganya sudah terlihat sejak kecil. Dirinya dinilai memiliki tubuh yang atletis. Senna pun unggul dalam senam dan olahraga lainnya dan mengembangkan ketertarikan pada mobil dan sepeda motor saat usianya 4 tahun.

Minat olahraga pun semakin kuat saat Senna berusia 7 tahun, dirinya berkesempatan belajar mengendarai Jeep. Senna belajar dengan mengelilingi pertanian keluarganya dan mendapatkan keuntungan lantaran perpindahan persneling tanpa menggunakan kopling.

Awal Karir "The Master of Rain"

Senna memulai karier balapan sejak dirinya masih bocah. Saat masa kecil, dirinya sudah terjun balap di ajang gokar. Hingga akhirnya berpindah ke balapan mobil roda terbuka pada 1981 dan memenangkan gelar juara Formula 3 Inggris musim 1984. Senna lantas menjalani debut F1 pada musim 1984 bersama tim Toleman. Selang semusim dirinya kemudian pindah ke tim Lotus pada musim 1985 dan memenangi enam lomba dalam kurun waktu tiga musim selanjutnya.

Dianggap punya potensi besar, McLaren pun memasukannya ke dalam tim pada 1988 dan bermitra bersama pembalap Perancis Alain Prost. Kombinasi duet ini lantas bersaing ketat dan sukses memenangi 15 dari 16 lomba di musim tersebut dengan Senna yang tampil sebagai juara dunia. Prost lantas membalas kekalahannya di musim 1989 sebelum Senna kembali memenangi gelar di musim 1990 dan 1991. Pada musim 1992 koalisi tim Williams dan Renault mulai mendominasi arena F1 dan Senna hanya bisa finish di urutan empat klasemen musim tersebut disusul urutan kedua di musim 1993 sebelum akhirnya beralih ke tim Williams pada musim 1994.

Senna kerap disebut juga sebagai pembalap terbaik sepanjang masa di ajang F1. Pembalap asal Brazil ini dikenal sebagai salah satu pembalap spesialis kualifikasi. Ini terbukti lewat catatan 65 kali pole yang diraihnya sepanjang karir. Rekor catatan pole Senna bertahan hingga musim 2006 sebelum kemudian dipecahkan oleh Michael Schumacher. Senna juga dikenal sebagai "The Master of Rain" karena piawai dalam balapan di trek basah. Julukan tersebut bisa dilihat pada perolehanya di Monako 1984, Portugal 1985 dan Eropa 1993. Senna juga mencatat rekor sebagai pembalap yang paling sering memenangi GP Monako yaitu enam kali. Di sisi lain, Senna juga mencatat beberapa kontroversi dalam kariernya terutama saat ia bersaing melawan Prost dengan dua kali kejadian tabrakan di Jepang 1989 dan 1990 yang mana kedua lomba tersebut merupakan lomba klimaks dalam penentuan gelar juara dunia musim tersebut.

Kontribusi Senna untuk Formula 1

Sosok Ayrton Senna dinilai telah sangat berkontribusi terhadap dunia F1 dan mampu menginspirasi banyak pembalap F1 pada masa kini, semisal Lewis Hamilton. Memang, kalau hanya melihat jumlah gelar juara dunianya yang baru tiga kali, tentu sangat kecil untuk seorang legenda. Tapi, bukan medali atau trofi dari Ayrton Senna yang membuatnya selalu diingat. Kemenangan Senna dalam ajang balap F1 menjadi semacam 'dongeng' bagi para penikmat balap F1 pada masa itu. 

F1 menjadi sangat populer karena Senna, rivalitasnya pada saat itu dengan Alain Prost dan Nigel Mansell membuat para penonton F1 di TV menjadi membludak. Dengan setiap minggu cerita antara Senna-Prost yang berlangsung selama 5 tahun diberitakan oleh media di seluruh dunia. Sponsor mulai berdatangan dan memberikan pemasukkan bagi F1, tim-tim yang berpartisipasi, dan juga pembalap itu sendiri. Hal-hal itu kemudian menjadikan F1 seperti sekarang ini; balapan mobil paling prestisius di dunia.

Pembalap F1 pada era 1980 sampai 1990 bisa dibilang harus beradu kecepatan dalam keadaan yang sangat berbahaya. Ini mengingat tidak adanya teknologi keamanan yang menjamin keselamatan seperti sekarang ini. Ajang balap F1 saat itu bisa dibilang hanya ditentukan oleh sang pengemudi dan mobilnya saja. Namun, dengan keadaan seperti itu, masih ada orang yang mempunyai determinasi tinggi, menghadapinya dengan senyuman, dan masih rendah hati. Tidak banyak orang yang sudah mencapai kesuksesan sebesar itu bisa kita temukan sekarang ini.

Kematian Senna ternyata menjadi batu loncatan bagi pihak F1 untuk segera membenahi sektor keamanan yang tidak hanya untuk pengemudinya saja, tapi juga bagi para penonton yang menonton langsung. Pembalap F1 sekarang seharusnya berterima kasih kepada Senna karena secara langsung membuat F1 sadar untuk membuat peraturan baru bagi keselamatan pengemudi mobilnya.

 

SAMPAIKAN KOMENTAR