Sedih, Kenapa General Motor Hengkang dari Indonesia?
16
Nov
2019
0 Comment Share Likes 615 View

Kabar mengejutkan datang dari pabrikan mobil asal Detroit, Michigan, Amerika Serikat, General Motors (GM). Pasalnya, produsen otomotif ini telah mengumumkan akan segera menghentikan penjualan kendaraan merek Chevrolet di Indonesia. Penghentian penjualan mulai terhitung sejak Maret 2020 nanti. GM menyebut bahwa keputusan sulit inin terpaksa diambil setelah melalui berbagai pertimbangan secara menyeluruh.

Hector Villarreal selaku Presiden GM Asia Tenggara mengatakan bahwa pihaknya tidak memiliki segmen pasar otomotif yang dapat memberikan keuntungan berkesinambungan di Indonesia. Faktor-faktor ini kemudian membuat kegiatan-kegiatan operasional GM menjadi semakin terpengaruh oleh faktor-faktor yang lebih luas di Indonesia. Seperti misalnya pelemahan harga komoditas dan tekanan mata uang asing.

Sejarah General Motor di Indonesia

Hengkangnya GM dari Indonesia cukup mengejutkan mengingat raksasa otomotif ini merupakan pabrikan pertama yang merakit mobilnya di Tanah Air. Chevrolet melalui General Motors mengawali kiprahnya justru saat Indonesia belum merdeka. Kal itu GM masuk saat Indonesia masih menyandang nama Hindia Belanda pada 3 Februari 1927. GM mendirikan perusahaan perwakilan dengan nama NV General Motors Java Handel Maatschappij (NVGMJHM) atau kalau diartikan ke bahasa Indonesia menjadi PT Perusahaan Dagang General Motors Jawa.

Seiring kebutuhan mobil yang terus meningkat di Hindia Belanda, mendorong GM membangun pabrik perakitan di Tanjung Priuk pada 1938 untuk merek Chevrolet. Perakitan mobil yang dibangun General Motors masih ada sampai sekarang dan dikenal sebagai kawasan Gaya Motor. Fasilitas perakitan (assembling) milik GM ini sekaligus menjadi pabrik perakitan mobil yang pertama di Indonesia.

Peningkatan produksi Chevrolet di Gaya Motor sempat terjadi pada saat Amerika Serikat menyatakan deklarasi Perang Dunia II pada 8 Desember 1941. Netherlands East Indies Army sebagai sekutu AS memesan banyak kendaraan truk, peralatan bengkel, mesin-mesin berat, hingga suku cadang kepada NVGMJHM di Tanjung Priuk.

Sayangnya, produksi tersebut tidak bertahan lama karena Belanda harus menyerah dan balik kanan lantaran ekspansi Jepang ke kawasan Asia Timur Raya. Indonesia yang dianeksasi oleh tentara Jepang memaksa kegiatan operasional NV GMJHM dibekukan pada 24 Maret 1942. Tentara Jepang pun menangkapi staf dan karyawan NVGMJHM berkebangsaan Amerika Serikat, Inggris dan Belanda.

Tak lama setelahnya, pabrik Chevrolet di Tanjung Priuk itu pun otomatis dikuasai tentara Jepang. GM Corp selaku perusahaan induk lantas menarik seluruh investasinya dari NVGMJHM pada 31 Desember 1942. Dengan momen ini, sejarah General Motors di Hindia Belanda pun terhenti selama Perang Dunia II.

Beralih Tangan ke Perusahaan Lokal

Pasca Perang Dunia II, permintaan mobil asal Amerika Serikat yang tinggi mendorong GM Overseas Operation cabang Jakarta kembali. Tujuannya selain membuka usaha perakitan mobil di Indonesia juga menjaga kelangsungan operasional di wilayah bekas jajahan Belanda. Seiring kembalinya pengoperasian pabrik perakitan mobil ini, perusahaan pun diganti menjadi Djakarta Branch.

Perakitan mobil GM akhirnya harus berhenti lagi terhitung pada April 1955. Seluruh aset yang tercatat dalam daftar GM Java dan Djakarta Branch dijual kepada perusahaan lokal dari Indoensia, Gaja Motor (Gaya Motor).

Buka Pabrik di Bekasi pada 1995

Berselang empat dekade kemudian General Motors memutuskan untuk menambah jumlah pabrik mobilnya di Indonesia. Hingga akhirnya dibukalah pabrik baru yang letaknya di daerah Pondok Ungu, Bekasi. Pabrik ini terakhir kali digunakan untuk memproduksi Chevrolet Spin untuk kawasan Asia Tenggara. Namun, pasang surut produksi GM di Indonesia kembali terjadi, karena pabrik tersebut akhirnya ditutup total pada 2015 lalu. Produksi Spin kemudian dipindahkan ke India dan GM Indonesia hanya fokus melakukan pemasaran mobil serta layanan purna jual.

Hingga akhirnya kiprah raksasa otomotif Amerika Serikat ini di Tanah Air pun harus terhenti pada 28 Oktober 2019 kemarin. GM menyatakan tidak lagi melakukan penjualan mobil dan hanya melakukan bisnis aftersales sebagai bentuk tanggung jawab terhadap konsumen mereka.

Tetap Melayani Servis dan Garansi

Seperti disebutkan sebelumnya, GM di Indonesia tidak akan menjual produknya lagi. Namun GM menyatakan tetap akan melakukan bisnis aftersales berupa servis dan garansi kepada konsumen mereka. Hanya saja, belum dapat diketahui berapa lama dan sampai kapan layanan tersebut akan tersedia.

“Para pemilik Chevrolet juga dapat memastikan bahwa kami akan tetap mengakui keberlakuan seluruh jaminan kendaraan dan memberikan layanan purna jual. Kami akan tetap melayani setiap pelanggan untuk perawatan dan perbaikan kendaraan Chevrolet mereka di outlet resmi kami di seluruh Indonesia,” ujar Villareal.

General Motor sadar betul keputusan mereka tidak hanya akan berimbas pada pemilik kendaraan Chevrolet di Indonesia tapi juga para pekerjanya. Sebagai bentuk tanggung jawab, GM akan memberikan apa yang menjadi hak para pekerja.

Sulit Bersaing dengan Pabrikan Jepang dan China

Hengkangnya General Motor ini pun sekaligus menambah daftar pabrikan asal Negeri Paman Sam yang harus angkat kaki dari pasar otomotif Indonesia. Sebelum Chevrolet, ada merek Ford yang lebih dulu menghentikan segala bentuk bisnisnya di Tanah Air pada 2016 silam.

Banyak pihak menilai bahwa pabrikan asal Amerika Serikat sulit berkompetisi dengan merek lain asal Jepang. Apalagi sekarang tengah bermunculan para pemain baru dari Negeri Tiongkok seperti Wuling dan DFSK.

Bicara soal Wuling, pabrikan otomotif asal China ini merupakan salah satu alasan GM merelakan penghentian penjualan Chevrolet di Indonesia. Pasalnya, bersama SGMW, General Motor berkolaborasi salah satunya dengan berbagi platform Wuling Almaz yang kemudian digunakan Chevrolet Thailand dan Brunei Darussalam sebagai model Chevrolet Captiva terbaru.

SAMPAIKAN KOMENTAR