Perhatikan Dulu Legalitasnya Sebelum Swap Engine
22
Jan
2020
0 Comment Share Likes 376 View

Pilihan tuning mesin merupakan salah satu alternatif modifikasi guna mendongkrak performa mobil yang kerap dipilih. Namun jalan tukar mesin alias swap engine juga merupakan pilihan modifikasi yang tak jarang dilakukan modifikator. Modifikasi keduanya tentu saja untuk mendapatkan performa garang lantaran kecewa dengan kekuatan mesin lamanya.

Padahal, dalam melakukan swap engine, ini artinya ada sesuatu yang berubah secara total dalam mobil Mas Bro sekalian. Dan ini tentunya butuh izin administratif untuk menjaga legalitasnya. Sebut saja misalnya surat-surat mobil pasti akan berubah dari aslinya karena mesin yang tertera di STNK saja sudah beda, bukan?

Nah, rupanya banyak juga nih para pemilik mobil yang melakukan swap engine dan ingin legal jalan di jalanan tapi tidak tahu bagaimana mengurus surat ganti mesinnya. Tapi, apakah bisa? Jawabannya mudah: Bisa!

Namun, sebelum memutuskan untuk swap engine, Pria Intersport harus yakin dan tahu dulu kebutuhan dan kepentingannya. Apa tujuan Mas Bro untuk swap engine ini? Jadi kalau memang dianggap kurang penting dan masih bisa dilakukan dengan tidak swap engine lebih baik lakukan restorasi saja.

Tapi kalau masih mau repot mengurus surat-surat izin swap engine atau ganti mesin, silakan pantengin terus artikel ini.

Perhatikan Dokumen Pembelian Mesin

Nah, jadi sebelum jauh bicara soal urus surat-surat ganti mesin atau swap engine pastikan dulu kelengkapan dokumen mesin yang Mas Bro beli. Ini berkaitan dengan syarat mengganti mesin yang harus lengkap surat pembeliannya.

Jadi, coba tanya dulu ke penjual dan pastikan mesin tersebut bukan hasil dari kejahatan. Terlebih lagi, tahun pembuatan mesinnya pun juga harus jelas tertera di suratnya.

Nah, kalau berkas mesin sudah dipenuhi secara lengkap dan sah, maka langkah selanjutnya yang bisa dilakukan adalah mengajukan permohonan penggantian mesin ke Samsat terdekat.

Oiya, persoalan berkas dan dokumen memang dikenal cukup sulit lantaran banyak mesin didapat dari Malaysia atau Singapura secara ilegal.

Kalau Mas Bro mendapatkan mesin dari kedua negara tersebut, setidaknya harus dilengkapi dengan surat impor mesin sebagai legalitas. Jika tidak ada, maka Mas Bro tidak bisa melakukan pengajuan pendaftaran mesin baru ke Samsat tujuan. Kalau ditelusuri lebih dalam, memang dokumen yang harus dilengkapi sangat banyak dan cukup merepotkan. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah prosedur yang harus dijalankan bagi setiap orang yang ingin mengganti mesin mobil secara sah di Indonesia.

Tentukan Jenis Mesin untuk Swap Engine

Setelah yakin untuk swap engine, tentukan pilihan mesin yang hendak dibeli. Perhatikan juga apakah cocok ke dalam ruang mesin mobilnya? Selain itu, apakah mesin baru itu cocok dengan transmisi lama? Atau yang tak kalah penting, apakah mesin baru nanti ketersediaan suku cadangnya juga mudah?

Semua hal tersebut harus benar-benar dipikirkan secara matang. Jangan sampai Mas Bro sekalian malah kesulitan di kemudian hari gara-gara tidak bisa menahan nafsu swap engine.

Pahami Risiko Swap Engine

Biaya untuk swap engine tentu tidak sedikit. Untuk mesin yang sudah umum digunakan untuk swap engine mungkin akan lebih mudah jika mengikuti yang sudah ada. Tapi akan lebih sulit jika mesin yang dipilih adalah mesin yang jarang digunakan untuk swap engine. Hal ini dikarenakan tidak semua bengkel punya kemampuan memindahkan mesin dengan baik.

Banyak loh kejadian tentang pemilik yang merasa kecewa saat swap engine di bengkel tertentu. Cari bengkel yang sudah memiliki reputasi baik dalam melakukan swap engine, ya Bro.

Daftar Mesin yang Biasa untuk Swap Engine

Sebagai gambaran, ada beberapa mesin yang sering digunakan untuk swap engine.

  • 1KZ milik Toyota Land Cruiser Prado – 4JB1TC milik Isuzu Elf
  • 4JA1 milik Isuzu Panther
  • 2JZ-GTE milik Toyota Supra
  • 4G63T miliki Mitsubishi Evolution 1-3
  • B Series Honda
  • 5K dan 7K milik Toyota Kijang
  • RB26DETT milik Nissan Skyline
  • 1HD-T milik Toyota Land Cruiser VX Series
  • 4JG2 milik Isuzu Bighorn atau Isuzu Elf 3.1
  • 15BT milik Toyota Land Cruiser
  • 4A-GE milik Toyota Corolla

Memang tidak semua, masih banyak deretan mesin yang sangat recommended untuk swap engine. Tapi setidaknya mesin-mesin di atas bisa cukup jadi gambaran.

Dokumen yang Harus Disiapkan

Setelah menentukan dan sudah mendapatkan mesinnya dengan surat yang lengkap, langkah selanjutnya adalah mendaftarkannya disertai dokumen penting yang dibutuhkan. Dokumen yang dibutuhkan antara lain adalah BPKB, STNK, KTP, invoice pembelian mesin dan faktur impor mesin (kalau impor). Jangan lupa pula sertai surat keterangan dari pihak bengkel yang menjualnya. Atau kalau perlu sertakan surat keterangan dari Reskrim.

Sebenarnya bukan cuma ganti mesin saja yang diharuskan melapor, mengganti warna kendaraan juga wajib melapor, Bro.

Risiko yang Harus Dipahami

Dalam membeli mesin bekas, itu artinya kita tidak akan pernah tahu seperti apa kondisi mesin tersebut yang sebenarnya. Kecuali ada jaminan dari pihak bengkel. Banyak kasus pembeli mesin merasa kecewa dengan mesin yang sudah dibeli lantaran kondisinya sudah jelek. Usahakan Mas Bro membeli mesin dengan teliti sebelum benar-benar akan dipasang ke mobil.

Risiko lainnya adalah harus siap dengan kemungkinan mesin rusak saat hendak dipasang. Kemungkinan lainnya adalah mounting (dudukan) engine berbeda sehingga harus diakali sedemikian rupa. Jika sudah terpasang dengan baik dan normal, harus diingat juga kalau mesin ini harus beradaptasi terlebih dahulu. Jangan langsung digeber supaya mesin bisa selesai masa inreyen. Karena ini bukan mesin bawaan mobil, otomatis konsumsi bahan bakar juga akan berbeda dengan mesin asli.

SAMPAIKAN KOMENTAR