Perbedaan Cairan Rem DOT3 dan DOT4
25
Mar
2020
1 Comment Share Likes 369 View

Setiap kendaraan yang dijual kepada masyarakat baik roda empat atau roda dua dibekali dengan sebuah perangkat yang bertugas untuk meredam laju kendaraan tersebut. Nah perangkat tersebut disebut dengan sistem pengereman.

Dahulu, sistem pengereman masih menggunakan tromol atau dikenal dengan drum brake. Namun seiring dengan berkembangnya zaman dan teknologi, perangkat rem pun kini semakin canggih. Ya drum brakes kini hanya digunakan disistem pengereman bagian belakang saja, sedangkan bagian depan menggunakan rem cakram. 

Faktor keamanan merupakan hal yang paling utama sehingga rem cakram tersebut disematkan dibagian depan mobil. Cakram tersebut dapat berhenti karena adanya jepitan dari kanvas rem yang mendapat pressure dari piston yang didorong oleh minyak rem. Minyak rem tersebut dapat mendorong piston karena adanya tekanan juga dari master rem yang mendapatkan gaya dari pedal rem.

Nah minyak rem itu sebenarnya memiliki spesifikasi yang berbeda beda seperti DOT3, DOT4, DOT5 dan seterusnya. Lantas apa saja sih perbedaan dari masing masing minyak rem?

Seperti yang dilansir oto.com pada dasarnya, standar DOT3, DOT4 dan seterusnya, terbuat dari bahan yang dapat menyerap air dan uap air (kelembaban) atau juga bersifat higroskopis. Yang membedakan, bahan kimia yang dikandung dan titik didihnya. Tidak selamanya DOT 4 bekerja maksimal jika dipakai pada rem yang merekomendasikan DOT 3. Pasalnya, jika Anda sengaja memasukkan cairan yang bukan standarnya, komponen rem bisa rusak

“Spesifikasi keduanya berbeda. Jadi tak boleh sembarangan memakainya. Untuk cairan rem DOT4 titik didih tertinggi mencapai 255°Celsius, sementara DOT3 245° Celsius. DOT4 sedikit lebih baik. Misal selama pemakaian cairan DOT3, bisa tercampur air sebanyak 3% yang terjadi dalam tempo 1 tahun saja. Ini dapat menyebabkan titik didih turun dari 255° Celcius menjadi hanya 145° Celcius. Artinya, cairan rem lebih mudah mendidih. Kita tahu air memiliki titik didih 100° Celcius. Ini berarti kandungan air dalam cairan rem mendidih lebih dahulu dan berubah menjadi uap air yang membentuk gelembung udara,” papar Inge Harsono, QC- R&D Manager Autochem Industry.

Gelembung udara ini, lanjut Inge, sangat berbahaya karena mengurangi kemampuan cairan rem untuk menyalurkan tekanan yang mendorong kampas rem. Padahal kinerja sistem pengereman, sangat bergantung pada kemampuan cairan rem menekan kampas. Jika terlalu lama tak diganti, maka kampas tidak bekerja. Ini yang kita sebut gejala rem blong. Jika spesifikasi kendaraan Anda bisa memakai DOT3/DOT4, sebaiknya gunakan DOT4 lantaran titik didihnya lebih baik.

Kemudian soal warna. Hanya di Indonesia yang memiliki cairan rem berwarna merah. “Warna merah disukai karena lebih mudah untuk mengontrolnya, apakah cairan habis atau tidak. Tapi ada juga konsumen yang suka warna bening, karena untuk menentukan apakah cairan masih berkualitas atau tidak. Biasanya kalau cairan jelek, warnanya keruh dan sedikit hitam. Ini lebih soal selera saja," tambahnya.

Karena itu, sebaiknya membiasakan menguras cairan rem setidaknya satu tahun sekali atau setiap 20.000 km pada mobil dan 10.000 km pada motor. Saat memeriksanya, sebaiknya Anda cek pula kondisi seal, piston dan kaliper rem. Pengecekan rutin ini tidak memakan biaya besar, namun besar manfaatnya buat keselamatan kita.

Cara penggantian cairan rem yang baik adalah dengan mengurasnya. Seluruh cairan rem disedot dari bagian pangkal atau paling dekat dengan kaliper rem, bukan dari master rem. Jika Anda malas ke bengkel, sebetulnya bisa Anda lakukan sendiri. Cukup sediakan penyedot dan alat bantu suntik.

SAMPAIKAN KOMENTAR