Modifikasi Peugeot 406, Dosen ‘Killer’ Bertekuk Lutut di Depan Singa Perancis
27
Jul
2021
0 Comment Share Likes 1177 View

Dunia modifikasi mobil kerap mendapat cibiran dari banyak orang. Banyak stigma yang melekat bagi mereka yang melakukan modifikasi mobil lantaran hanya dianggap membuang-buang uang. Namun, ada seorang anak muda yang berhasil mematahkan stigma seperti itu dengan menghasilkan karya ilmiah dari hasil modifikasi yang dilakukan.

Seperti yang dialami oleh Pasyah Maghriby, salah satu car enthusiast yang menjadikan mobil Peugeot 406 Le Mans Edition lansiran 1997 untuk dimodifikasi menjadi bahan skripsi. Ia pun sukses membuat salah satu dosen ‘killer’ yang juga menjadi pembimbing skripsi di kampusnya bertekuk lutut dihadapan Pasyah dan mobil kesayangannya.

 

 

Lantas, apa yang membuat sang dosen dibuat tak berdaya di hadapan ‘singa Perancis’ ini ya? Simak terus kisah berikut ini ya, bro!

 

Menaklukkan Dosen

“Iya betul, mobil Peugeot 406 ini emang jadi bahan skripsi gue. Jadi waktu lagi mikir bahan skripsi, ada mata kuliah Kecerdasan Buatan. Nah mata kuliah itu diwajibkan membuat alat teknologi, gue terinspirasi dari mobil gue sendiri,” buka Pasyah ketika berbincang dengan kami belum lama ini.

 

 

 

Singkat cerita, ia pun membuat sebuah aplikasi yang mampu memberikan perintah suara (voice command) kepada mobil kesayangannya. “Aplikasinya ini gue buat sendiri sama modulnya sekalian. Awalnya pas pengajuan skripsi gue cuma bikin untuk menyalakan mesin dan lampu. Dosen gue mikirnya ada orang di dalem mobil yang nyalain lampu atau starter mobil,” sambung pria yang menimba ilmu di Universitas Yayasan Rumah Sakit Islam Indonesia (Yarsi).

Setelah pengajuan skripsinya disetujui, ia pun mengembangkan perintah suara lainnya. Jika awalnya hanya bisa menyalakan mesin dan lampu dari gadget, kini ia menambahkan perintah yang lebih lengkap lagi untuk persiapan sidang skripsi sebagai penentu kelulusan gelar Sarjana.

“Iya akhirnya gue tambahin lah beberapa fitur. Nah pas sidang supaya enggak dikira bohong, gue bawa mobil ini ke kampus buat dipraktekin ke depan dosen gue ini. Setelah dosen gue ngelihat, dia pun percaya dan ngasih gue nilai A. Padahal dosen ini lumayan killer dan sebelumnya enggak ada sejarahnya dia ngasih nilai A,” tuturnya bangga.

Sang dosen pun akhirnya dipaksa bertekuk lutut setelah melihat hasil karya Pasyah yang tak semata-mata hanya isapan jempol belaka. Jika dilihat dari tampilan, 406 miliknya terbilang punya modifikasi yang cukup ekstrem, terutama di bagian kaki-kaki yang sudah ‘miring’ di bagian depan dan belakang.

 

 

Mendapat Pelek Impian

“Kebetulan ini sekarang sementara set-up final gue. Kalau pelek ini pakai Work Brombacher yang memang khusus Porsche, dapatnya dari kak Mamat Riverside Wheels. Untuk bisa dapet pelek ini lumayan susah, harus ngelobi selama 2 bulan baru dikasih. Ketika dapet gue seneng banget, karena ini peleknya lumayan spesial dan salah satu pelek impian gue,” ujar pria yang mengambil jurusan IT ini.

Work Brombacher yang dibeli dalam kondisi bahan ini terbilang spesial. Sebab menurutnya pelek ini dibuat khusus berdasarkan pesanan konsumen dari pabrik Porsche dengan spesifikasi lubang baut 5x114. “Setelah dapet gue beliin outer lips pelek semuanya. Kondisi awal itu lebarnya 8 inci depan, dan 9 inci belakang. Namun sekarang menjadi 9,5 inci depan dan 10,5 inci belakang,” katanya.

Mobil bertransmisi manual yang dibeli sejak 2013 silam ini awalnya untuk dipakai sang ayah beraktifitas. Namun sayang, setahun kemudian sang ayah mengalami sakit yang mengharuskan dirinya beraktifitas memakai mobil dengan transmisi matic. 

 

Hobi Gonta-ganti Pelek

 

 

“Jadi belinya ini 2013, terus kaki bokap sakit dan akhirnya doi beli lagi 406 yang matic. Nah yang ini akhirnya dikasih ke gue pada 2014, saat itu gue masih SMA,” beber pria yang saat ini bermukim di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Selayaknya anak SMA, hal pertama yang dilakukan ketika itu adalah membuat mobil menjadi lebih ceper. Pelek pertama yang ia pasangkan saat masa sekolah berseragam putih abu ini memakai Carlsson 1/16 dengan ukuran 18 inci lebar 8,5 rata di depan dan belakang.

“Dulu belajar pelek sama om yang juga punya toko pelek, namanya Donal Wheels. Dari situ gue belajar soal pelek mobil. Bahkan hampir setiap 2 bulan sekali gue pasti ganti pelek, dan uniknya pelek yang gue pake selalu laku. Ibaratnya sih mobil gue ini jadi toko berjalan, akhirnya keterusan sampe sekarang gue juga bisnis jual beli pelek bekas,” terang Pasyah.

 

Cinta Mati dengan Peugeot

 

 

Diakuinya sudah ribuan orang yang menanyakan, mengapa seorang anak muda menyukai Peugeot? Padahal merek asal Perancis tersebut umumnya kurang disukai oleh masyarakat Indonesia, terlebih anak muda. Apa alasannya? 

“Kalau ditanya kenapa suka Peugeot udah bosen banget hahaha. Intinya keluarga gue itu Peugeot sejati. Jadi ketika gue lahir pun, melek mata di rumah ya emang udah ada Peugeot sampe sekarang. Bahkan sekarang jumlah mobil yang ada di rumah itu ada 5, semuanya Peugeot. Kalau ditanya kenapa suka, ya udah cinta mati dari lahir sama Peugeot,” ucapnya sembari menunjuk mobil.

 

 

Sentuhan Sektor Mesin

Pria berusia 24 tahun yang gemar memacu mobil kesayangannya ini mengaku awalnya mesin yang dimiliki sangat lemot. “Ini mobil gue kan versi non facelift, kode mesinnya D8 yang punya karakter low compression itu lemot banget. Akhirnya gue papas head sedikit buat disamain ke mesin versi facelift yang punya karakter high compression. Selanjutnya porting polish dan remap ECU aja. Sekarang sih lumayan lah buat di jalan sambil ngebut enak banget,” ujarnya.

 

 

Untuk mengakomodasi performa yang lebih baik, ia pun turut mengoreksi jalur gas buang dengan menggunakan knalpot valvetronic. Knalpot ini dibuat secara custom, mengikuti kebutuhan mesin agar mampu mencapai performa yang diinginkan. 

 

Mempercantik Tampilan

Setelah mesin dirasa cukup, ia pun memodifikasi tampilan. Maklum, pria punya selera butuh mobil yang punya tongkrongan keren dong. Salah satunya menanamkan sunroof berukuran besar kepunyaan Kia Forte.

 

 

“Pemilihan sunroof ini awalnya mau pakai punya Odyssey RB3, cuma sayang RB3 itu motor sunroofnya di depan. Jadi kalau dipasang sunroofnya akan terlalu mundur, soalnya jeleknya Peugeot itu di plafon ada lampu tengah yang ada besi rangkanya. Kemudian dipilih Kia Forte ini yang punya motor di belakang,” sambungnya.

Ducktail, lips depan, lampu sein depan ala-ala USDM pun dibuat custom. Alasannya memang enggak ada pabrikan aftermarket yang menjual part modifikasi untuk Peugeot ini. Sehingga ia harus memutar otak untuk bisa mengaplikasikan ide liar yang ada di benaknya.

“Sein depan custom, dalamnya dicat lalu pasang soket punya Isuzu Panther. Soketnya Panther ini kan lampu kecilnya di samping, makanya bisa jadi ala-ala USDM. Lips depan custom, pakai karet disambung-sambung. Ducktail belakang ini juga custom dan ceritanya lucu juga. Jadi ketika gue lewat perkampungan di Bekasi, gue ngeliat ada bengkel bodywork yang biasa ngerjain angkot. Singkat cerita gue bawa lah bagasi gue ke sana, dan akhirnya jadi ducktail yang gue mau,” lanjutnya.

 

 

Kaki-kaki 

Kesulitan yang paling dirasakan oleh Pasyah adalah ketika melakukan setting kaki-kaki. Menurut dirinya, karakter kaki-kaki Peugeot adalah ketika mobil di buat ceper, cambernya akan menjadi positif (+) bukan negatif (-). Sehingga ia harus membuat secara custom seluruh kaki-kakinya.

“Buat mengakomodir pelek yang besar, bodi depan di radius supaya bisa ngejar wide body natural. Body belakang di radius aja, tapi udah lumayan jauh. Rem depan pakai BBK AP Racing 4 piston 330 mm, belakangnya pakai bawaan mobil karena sudah pakai cakram. Nah kaki-kaki ini biar semuanya bisa minus cambernya harus dibuat custom,” jelas pria yang baru saja meraih gelar Sarjana ini.

 

 

Bagian kaki-kaki mulai dari extension swing arm, extension as roda, tie rod, long tie rod, camberplate, pillow ball, tracklink, bar link, stabilizer, per, shockbreaker, camber kit semuanya dibuat custom. “Setelah semuanya custom, sekarang angkanya depan -7 dan belakang -8 (minus). Sudah lumayan sesuai harapan,” pungkasnya.

Ke depannya Pasyah mengaku masih ingin menambahkan air suspension, jok Recaro, dan mengganti pelek yang sayangnya masih bingung mau memakai apa. Pria pemilik mobil sedan berkelir abu-abu yang di custom di bengkel Paduka Autowork ini membuktikan, bahwa tidak selamanya modifikasi itu bisa dipandang sebelah mata.

 

 

Ternyata modifikasi mobil juga bisa menghasilkan karya ilmiah yang diakui oleh perguruan tinggi. Gak main-main yah singa Perancis kalau menerkam mangsa, dosen pun dilahap sama doi hehehe. 

 

Ternyata enggak cuma mobil produksi terbaru aja yang punya fitur canggih, Pasyah membuktikan kalo mobil tua ternyata juga bisa kok punya potensi dipasangkan fitur kekinian. Gimana menurut lo, pria Intersport?

SAMPAIKAN KOMENTAR