Modifikasi Mercedes-Benz W124, Jatuh Cinta Pertama dengan Mobil Eropa
30
Jul
2021
0 Comment Share Likes 1212 View

Tidak semua orang di Indonesia menyukai mobil merek Eropa. Salah satu alasannya adalah pandangan mengenai harga spare part yang mahal serta mudah overheat menjadi stigma bagi mobil asal Eropa. Namun, tidak bagi Denny DRJ yang mengaku jatuh cinta pertama kali dengan merek asal Eropa, Mercedes-Benz. 

Pria yang menetap di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara ini mengaku jika mobil yang dimodifikasinya benar-benar mematahkan stigma mobil Eropa seperti di atas. “Awalnya ini gue pake Honda Brio. Dulu Brio gue udah dimodifikasi banyak juga, pasang sunroof, ganti pelek, jok Recaro, upgrade tampilan jadi facelift, dan audio,” buka Denny yang saat ini menunggangi Mercedes-Benz W124 230E 1991.

 

Mendapatkan Mercy Boxer W124 

Singkat cerita, Brio yang dimilikinya terjual karena tergoda dengan tawaran teman. Maka ia pun melego Brio tersebut dan memutuskan untuk segera mencari mobil pengganti. “Setelah laku, gue tahun 2019 akhirnya dapat mobil ini dari salah seorang kawan. Tadinya mau sempat ambil BMW, cuma dikasih tau kawan ini kalau BMW itu ternyata lebih sulit buat dijual lagi,” sambungnya.

 

 

Ia pun akhirnya disarankan oleh kerabat untuk meminang Mercedes-Benz. Waktu demi waktu ia keluarkan untuk mencari mobil yang karib dengan julukan Mercy Boxer ini. Sayang, untuk mencari Mercy boxer yang kondisinya bagus ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh tenaga dan waktu ekstra untuk bisa mencari mobil tua yang kondisinya oke.

 

 

 

“Sempat cari unit-unit lain, akhirnya ditawarin teman ini. Kebetulan unit yang ditawarin ini kondisinya paling bagus dari mobil lain yang udah gue cari, dan nilai lebihnya adalah mobil ini ternyata Completely Built Up (CBU) alias mobil yang diimpor dari luar yang bawaannya sudah ada sunroof. Tapi sayang, warna bodynya  biru,” tambah bapak dari 2 anak ini kepada kami.

Awalnya Denny merasa kurang sreg dengan kelir biru tersebut. “Awalnya gue sempat nanya ke temen gue ini, kalo mobilnya gue cat atau wrapping gimana? Katanya jangan, kalau Mercy sayang dianeh-anehin apalagi di cat ulang. Dengar kata-kata dia, gue akhirnya yaudah deh kita pertahanin aja,” lanjutnya.

 

Memulai Perjalanan

 

 

 

Mobil dengan kelir bodi dan interior biru ini terbilang langka di kalangan penggemar Mercedes-Benz. Terlebih unit yang dibeli ternyata benar unit CBU dengan transmisi otomatis, sehingga ia lebih bersemangat untuk membangun mobil tersebut. Untuk mencapai tujuannya membangun mobil, ternyata jalan yang harus dilalui tidak semulus yang dikira.

Apalagi interior unit CBU umumnya menggunakan fabric dengan motif Tartan (kotak-kotak). “Interior ini aslinya kalo CBU kan fabric kotak-kotak, nah sama pemilik sebelumnya diganti sama model MB Tex (Mercedes-Benz Textile) abu-abu yang di cat jadi warna biru. Alasannya yang fabricnya ini udah banyak yang sobek, makanya sama si pemilik sebelumnya diganti sama dia dan di cat jadi biru biar sesuai,” ucapnya.

 

 

“Begitu dapat mobil ini sebenarnya enggak period correct. Sebab bodinya itu harusnya pakai bodi Boxer, tetapi ini udah diubah menjadi model Masterpiece atau facelift. Dari situ gue balikin lagi mulai dari kap mesin, lampu, bumper belakang, sama bagasinya. Kemudian tentu langsung dipendekin dong hehehe,” ujar pria berusia 36 tahun ini.

Potong per menjadi cara termudah untuk mengoreksi tampilan sang Boxer 4 silinder ini. “Karena menurut gue kalo gue beli per baru, gue ga ada tempat buat naro yang lama. Buat apa juga? Repot aja, makanya gue potong per rasanya juga masih nyaman. Coba pake sebentar, terus ganti gue ganti pelek akhirnya potong lagi per nya biar makin ceper,” katanya.


Menanamkan Air Suspension

 

 

Di tahun 2019, pria yang bekerja sebagai karyawan swasta di sebuah perusahaan kontraktor ini mengaku memasangkan airsus. Tujuannya agar memudahkan mencapai titik rendah yang diinginkan. Airsus yang dipasangkan dipilih merek Airpro yang instalasinya dilakukan di BRF Custom Work yang ada di kawasan Summarecon Bekasi.

Setelah terpasang, ia pun menancapkan pelek Work Ryver ukuran 19 inci dengan lebar 9 inci di depan dan 10 inci di belakang. “Peleknya ini pakai Work Ryver ukuran 19 inci. Kebetulan gue udah pasang pelek ini duluan sebelum pasang airsus. Fender depan dan belakang ini dibuat wide body natural di bengkel langganan,” ujar pria berusia 36 tahun sembari menunjuk area fender.

 

 

Full Option

Karena sudah keracunan virus Mercy, Denny akhirnya melengkapi fitur tambahan. “Awalnya ini switch asli cuma ada 4, tapi sekarang udah gue lengkapin. Totalnya itu ada 17 switch. Soalnya kalo main Mercy ini emang fitur opsi tambahannya ini banyak, dan buat nambahin itu biayanya juga mahal,” jelasnya.

 

 

Krey belakang, spion elektrik kiri kanan, sun visor dengan lampu, double horn, dan fitur lainnya kini meramaikan area konsol tengah. “Di tengah itu ada switch yang tadinya buat sensor parkir, tapi sekarang udah gue ubah buat nyalain kompresor airsus

 

Menyebarkan Virus 

Pindah haluan dari merek Jepang ke merek Eropa ternyata tak seseram yang dibayangkan. Denny bahkan sempat ‘menyebarkan virus’ kepada temannya untuk ikut serta membeli Mercy boxer. Menurutnya, spare part Mercy boxer ini dinilai lebih murah dibandingkan dengan Toyota Kijang Innova.

 

 

“Dari main mobil Jepangan ke Eropa itu justru gue banyak belajar. Ternyata spare part mobil Eropa yang tua begini itu harga spare part-nya bisa lebih murah dibanding Innova yang usianya lebih muda. Bahkan ada temen gue yang sampe ikutan beli boxer juga karena ya gue kasih tau spare partnya murah ini hahaha,” candanya.

Ke depannya, Denny masih ingin memasangkan perangkat manajemen untuk airsus serta mengganti pelek. “Paling pasang manajemen buat airsus, sama ganti pelek ukuran 17 inci supaya mobil gue ini bisa makin rebah lagi. Menurut gue, kalo peleknya dikecilin, gue bisa lebih rebah lagi biar ngikutin lips custom yang udah dipasang di bagian depan,” bebernya.

 

 

Seru Berburu Spare Parts

Mobil yang dibeli seharga Rp70 jutaan ini diakui sudah menghabiskan biaya modifikasi hingga Rp170 jutaan. Sepanjang perjalanan menimba ilmu membangun Boxer, Denny merasa sudah mengalami banyak cerita seru yang menurutnya tak bisa dilupakan.

 

 

“Cerita serunya adalah, hunting barangnya ini paling seru karena barangnya nggak selalu ada. Harganya sebenarnya relatif, cuma untuk carinya ini kita mesti ke kampakan. Bahkan gue sampe ke Semarang dan Surabaya buat cari part-part di kampakan,” pungkasnya.

Walaupun sepintas terlihat seperti mobil Garage Queen, tetapi Mercy Boxer biru miliknya ini kerap digunakan harian. Bahkan setengah tahun terakhir selama bekerja, ia selalu ditemani oleh mobil yang usianya sudah 30 tahun ini. Anak dan istrinya pun mengaku jika mereka lebih nyaman mengukur jalan bersama Mercy boxer dibanding mobil lain yang ada di garasinya.


Kira-kira gimana menurut lo, pria Intersport ketika ngeliat hasil modifikasi Denny DRJ ini? Ternyata Mercy boxer pakai airsus oke juga ya!

SAMPAIKAN KOMENTAR