Modifikasi Mercedes-Benz G-Class, Teruskan Tongkat Estafet Impian Keluarga
31
Jul
2021
0 Comment Share Likes 932 View

Setiap orang pasti pernah memiliki mobil impian. Tak hanya mobil impian secara personal, bahkan keluarga tercinta pun rasanya memiliki impian untuk memiliki sebuah mobil. Seperti yang dialami oleh Hariawan Arief Maulana, yang memiliki Mercedes-Benz G-Class G300 produksi 1996. 

Ia membeberkan kepada Intersport alasan G300 berkelir merah yang ia miliki jadi salah satu mobil impian di keluarganya. “Sebenernya cerita di balik ini, dulu gue sekeluarga tuh pernah punya G-Class yang tahun 1988 tipenya 280 GE. Nah, kita sekeluarga pengen banget punya G300 dan jadi cita-cita keluarga lah, cuma bokap gue belum sanggup lah saat itu,” buka pria yang karib disapa Rifie ini.

 

 

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai pengisi konten di YouTube channel OLX Indonesia ini mendapatkan unit setelah menjual BMW 1M kesayangannya. “Jadi gini, sebenernya gue beli mobil ini setelah gue jual BMW 1M. Alasannya karena ada yang nawar. Kedua, istri gue nggak suka kalo gue pake mobil itu karena itu mobilnya kenceng banget,” sambungnya.

Singkat cerita, BMW 1M yang dimilikinya pun akhirnya terjual kepada seorang teman. “Pertama kali dapet mobil ini di akhir tahun 2020 kemaren lah. Gue merasa saat beli mobil ini tuh gue udah ‘ketinggalan kereta’, karena harganya udah mahal banget. Di tahun sebelumnya itu harga mobil ini Rp600-700 jutaan, ini gue beli udah lebih dari Rp900 juta. Intinya mahal banget lah,” jelas pria lulusan Universitas Padjajaran jurusan Hukum ini.

 

Modifikasi Awal

Ketika pertama kali dapat, mobil dengan julukan Jip Mercy ini sudah dimodifikasi ala-ala tuner AMG. “Pas dapet pertama style mobil ini udah semi AMG. Sayang, mobil gue basic-nya ini bukan AMG asli, jadi gue nggak mau pake AMG style. Nah gue ganti ke tampilan G320 facelift pakai pelek Astraroth ring 18 sekalian ganti ban BF Goodrich 265/65,” ujarnya.

 

 

Mobil lansiran 1996 miliknya pun diubah ke versi G320 yang lahir di tahun 2007. Namun sayang mobil dengan kode Ruby Red atau Mystic Red ini dianggap kurang cocok jika dipadukan dengan gaya adventure

“Nah tapi jujur gue nggak bisa terlalu pakai gaya adventure, karena mobil gue ini termasuk punya warna yang cantik. Kebetulan G300 gue ini juga udah di repaint sama pemilik sebelumnya,” bebernya.

 

 

 Layaknya kanvas untuk berkreasi, Rifie pun langsung menuangkan tinta untuk menghasilkan karya yang sesuai dirinya di mobil yang baru dibelinya ini. Salah satunya memasangkan snorkel yang bagi sebagian pemilik Jip Mercy dianggap hal yang tabu.

 

 

“Sempat dibilang ngapain sih pasang snorkel, mobil lo kan gayanya cantik. Tapi gapapa lah ya, ini kan mobil gue. Eh setelah dipasang justru malah banyak yang keracunan, dan sering ditawar. Salah satu yang nawar itu Den Dimas, YouTuber otomotif,” terang pria yang saat ini menjadi salah satu anggota di komunitas Mercedes Jip Indonesia (MJI).

 

Mengubah ke Facelift

Diakuinya ada banyak part yang dibutuhkan untuk mengubah tampilan lawas Jip Mercy ini menjadi ke versi facelift yang terlihat lebih elegan. Pria berusia 30 tahunan lebih ini pun mengaku hoki lantaran bisa mendapatkan berbagai part dengan mudah dan sangat cepat.

 

 

“Untuk ke facelift ini banyak yang harus diubah. Lampu depan, spion, batang wiper, kaca depan, lis bodi, bumper depan, cages lampu depan, lampu belakang, tow hook, cover ban semi rigid, dan terakhir ganti fender berbarengan sama ganti pelek,” kata Rifie.

Pelek Astaroth ukuran 18 inci yang sebelumnya terpasang diganti dengan Rotiform ukuran 20 inci dengan lebar 9,5 rata di seluruh rodanya. Pelek yang dipasang ini kebetulan memang diperuntukkan untuk G-Class, sehingga tak memerlukan adaptor ataupun spacer untuk membuatnya rata fender.

 

 

“Fender diganti karena ngikutin pas gue ganti pelek Rotiform R20 yang sekarang ini, offset nya juga out. Dan memang spek velg ini untuk GClass dengan lebar 9,5 inci rata, ET0 jadi langsung rata fender dan gak pake tambahan apa-apa,” sambung pria yang juga gemar mengoleksi beberapa mobil langka di rumahnya.

 

Membenahi Interior

 

 

Saat pertama kali mendapatkan mobil, interiornya sudah diganti menggunakan bahan kulit namun bahannya memang khusus G-Class. “Interior awalnya sudah diganti kulit, nah tiba-tiba si pemilik sebelumnya ngabarin kalau bahan fabric nya ini ketemu. Yaudah deh langsung gue ambil buat dikembalikan lagi seperti bawaannya,” imbuhnya.

Sembari membenahi interior, ia tidak sengaja bermain ke salah satu importir spare part khusus G-Class. Di tempat tersebut ia menemukan sepasang jok elektrik yang dinilai sudah tidak terpakai lantaran oleh sang pemiliknya dianggap punya kondisi yang tak layak pakai.

 

 

“Jok depan ini diganti elektrik, gue nemu di salah satu importir. Gue iseng nanya, om dijual berapa? Terus dia jawab buat apaan jok ancur kaya gitu? Gue bilang aja ya gapapa iseng aja siapa tau nyala. Dan dia jawab lagi, gue juga gatau itu idup apa enggak, yaudah kalo mau bayarin aja 5 juta tuh sepasang,” ucapnya sembari menirukan.

Jok yang dianggap tak memiliki nilai ini akhirnya pun dibeli oleh Rifie. Ia melihat jok tersebut masih memiliki potensi untuk bisa diperbaiki, sehingga ia mencoba membawa kedua jok ke Dodi Menel di kawasan Jatiwarna, Bekasi.

“Pas gue beli banyak yang ngeledek, ngapain sih beli bla bla bla. Setelah diberesin elektriknya, jok kulitnya diganti ke fabric aslinya, ternyata jok ini berhasil! Pas tau ini jok nyala, semua orang di komunitas pada mencak-mencak gini, gilaaa hoki banget kok murah. Soalnya gue denger-denger ada yang beli jok depan elektrik ini di harga Rp20 juta sampe Rp25 jutaan,” ujarnya bangga dan senang.

 

Part yang Sulit

Dari seluruh modifikasi yang dilakukan, Rifie mengaku ada beberapa part yang cukup sulit didapatkan. Di antaranya seperti kaca depan yang terdapat trapesium hitam di bagian atas yang berfungsi sebagai sensor hujan, tow hook, cover ban semi rigid, dan snorkel.

 

 

“Kaca depan ini juga lumayan susah lah dapatnya. Ada yang pengen banget, tapi ga dapet-dapet dan diakalin pake stiker. Cages lampu depan, snorkel, dan cover ban ini juga lumayan susah,” tambahnya.

 

Spare Part Berlimpah

Bagi sebagian orang, mobil yang akrab disapa Gelandewagen ini sering dianggap punya ketersediaan spare part yang sulit. Padahal kenyataannya berbanding terbalik dengan apa yang dipikirkan orang banyak. Mengapa? 

“Kalau dibilang spare partnya susah, itu nggak kok. Justru harga spare part di Indonesia itu paling murah dibanding di negara manapun di dunia. Alasannya karena Mercedes-Benz Indonesia pas zaman Presiden Soeharto itu dikasih lisensi produksi di Wanaherang, Bogor. Jadi, enggak ada negara lain yang dikasih lisensi untuk produksi G-Class secara Completely Knocked Down (CKD) selain di Graz, Austria sama di sini,” pungkasnya.

 

 

Pria yang sudah menghabiskan biaya lebih dari Rp200 juta untuk melakukan modifikasi mobil yang baru dibelinya ini juga mengakui walaupun dianggap murah, namun harga spare part G-Class tetaplah mahal. Terlebih di bagian kaki-kaki dan body parts, yang harganya di Indonesia pun terbilang mahal.

Di sela pembicaraan Rifie berujar, jika mobil ini setidaknya sudah bisa melanjutkan tongkat estafet impian keluarga yang sudah ditanamkan sejak dulu. Walaupun baru bisa didapatkan akhir tahun lalu, setidaknya rasa haus akan mendambakan mobil ini sudah bisa terpuaskan.

 

 

Enggak salah juga kalau mobil berdesain kotak ini semakin hari harganya semakin mahal. Mau dibuat gaya apapun tetap keliatan ganteng, lo setuju enggak, Pria Intersport? Coba komen bagian apa yang paling lo suka dari mobil ini ya!

SAMPAIKAN KOMENTAR