Antara Toyota, Riswan Rusdiansyah dan Arti 'Murtad' Bersama Honda
05
Jul
2021
0 Comment Share Likes 360 View

Bagi sebagian orang, nama Honda Civic Estilo mungkin dianggap sebagai mobil yang terbilang biasa saja, namun tidak demikian bagi Riswan Rusdiansyah. Tanpa disadari, Honda Civic Estilo ternyata sudah mengajarkan dirinya untuk menemukan jati diri sejati bersama Honda.

 

“Kalau dibilang kenapa gue suka Honda, sebenarnya panjang ceritanya. Gue suka sama Honda itu awalnya dari Civic Ferio. Padahal, keluarga gue itu dari dulu selalu Toyota sejati dan gue pun terdoktrin untuk menjadi pecinta Toyota,” buka Riswan. 

 

Kisah Toyota di keluarga dimulai dari sang ayah yang selalu menanamkan nilai fanatik pada produsen otomotif asal Jepang ini. Beberapa model Toyota yang pernah hinggap sebut saja ada Corolla Twincam, All New Corolla, Great Corolla, Kijang, hingga Starlet yang pernah menjadi besutan Riswan. 

 

“Gue hidup di keluarga Toyota, harus diakui. Bahkan gue pernah pake Starlet lumayan lama. Cerita gue mulai pindah ke Honda itu dimulai pas gue mau cari pengganti Starlet. Iseng-iseng cari, ternyata gue ditemui sama Honda Civic Ferio,” sambungnya. 

Memutuskan untuk ‘murtad’ dari Toyota ke Honda jelas tak semudah membalikkan telapak tangan, terlebih di keluarga yang benar-benar fanatik Toyota. Setelah mendapatkan Ferio, ia mengaku jika Honda ternyata lebih sesuai dengan karakter yang ada di dirinya. 

“Keluarga gue gak pernah pake Honda, pas dicoba ternyata karakter Honda ini cocok banget sama gue. Menurut gue Toyota itu ibaratnya Mercy dan Honda itu ibaratnya seperti BMW, karakternya beda banget,” terang pria ramah berkacamata ini. 

 

Berkenalan dengan Honda

 

 

Setelah membangun chemistry dengan Ferio, Riswan pun mengaku lebih bisa menuangkan karya seni layaknya seniman menuangkan cat di atas kanvas. Ia melakukan berbagai eksplorasi yang sebelumnya tak pernah dilakukan bersama Toyota. 

“Toyota itu seakan punya pakem yang enggak cocok kalau buat tabrak sana-tabrak sini. Di Honda gue menemukan yang enggak bisa gue dapat di Toyota, yaitu passion modifikasi,” ucap pria yang menjalani kehidupan sebagai Entrepreneur kini. 

Ferio tersebut menjadi bahan belajar dan menjadi showroom berjalan dari hasil modifikasi yang dilakukan. Hingga suatu saat ia bermimpi untuk membeli sebuah Honda Civic Estilo yang menjadi salah satu dream car baginya.

“Kenapa Honda Civic Estilo, karena mobil ini dari dulu sampe sekarang selalu bisa membuat orang yang make jadi keliatan keren. Alasan kedua masih banyak ditemui Estilo yang kondisinya bagus dan gampang ditemui. Dua alasan itu yang membuat gue jatuh cinta sama Estilo,” katanya. 

 

Membangun Estilo

 

 

Mobil hatchback satu ini diakui menjadi mobil 2 pintu pertama yang dimiliki oleh Riswan dan bahkan di keluarganya sekalipun. “Mobil ini jadi mobil 2 pintu pertama yang gue punya dan keluarga gue punya. Dari dulu gue enggak pernah naik mobil 2 pintu atau punya mobil 2 pintu di keluarga gue. Jadi ketika ada kesempatan di tahun 2017, gue akhirnya punya Estilo pertama dalam hidup gue,” ungkapnya. 

Ferio yang kerap menjadi showroom berjalan ini membawa jasa besar untuk mengantarkan Riswan bisa membeli Estilo. Selama memakai Ferio, Riswan mencoba berbisnis barang otomotif dan perlahan ia menyisihkan keuntungan untuk membeli mobil impiannya. 

Pria yang menjadi Co-Founder dari The Elite saat ini hingga saat ini sudah memiliki Estilo hingga 5 kali. “Jadi pertama kali gue bangun Estilo itu warna biru, kedua warna abu-abu yang gue namain Estilude. Kenapa Estilude, karena itu Estilo yang memakai mesin Honda Prelude. Estilude ini juga jadi mobil pertama gue yang di swap engine, lalu dibeli sahabat gue. Dan sekarang gue dikasih kesempatan buat bangun lagi sebuah Estilo,” papar Riswan.

 

Estilo Berjubah Pandem

 

 

Mobil terakhir yang ada saat ini merupakan Honda Civic Estilo lansiran 1995 dengan full modifikasi. “Ini mobil gue yang bisa dibilang masih jadi Masterpiece dari gue, karena mobil ini gue bangun paling dalem deh!”, serunya. 

“Kenapa pilih Pandem, soalnya menurut gue lucu gitu. Estilo pake body kit gendut lebar gitu terus mobilnya jadi keliatan pendek,” ujar pria yang kini menjadi Honda maniac.

Seluruh cat dikerok dan dipilih warna putih sebagai kulit luarnya. Bagian kolong tak luput di cat agar memberikan hasil sempurna. Fokusnya kala itu lebih mementingkan sektor interior. “Interiornya gue pakai rollbar Cusco 7 titik, jok pakai Recaro bawaan Mugen Power S1, setir Spoon, shifter pakai Hybrid Racing dan ECU pakai Hondata,” kata Riswan bangga.

 

 

Seluruh komponen yang disebutkan terbilang punya harga yang tak main-main menguras kantong.

Setelah mendapatkan komposisi pas di bagian interior, Riswan kembali memutar otak untuk mendapatkan komposisi pada modifikasi mesin. Konsep modifikasi street racing yang dia ambil sangat menentukan langkahnya ke depan untuk ‘mengacak-acak mesin’.

 

 

“Mesin bawahnya itu pakai B20, atasnya pakai B16A supaya dapat DOHC-nya, jadinya masuk stage 2 ini,” ujarnya. Selanjutnya fokus dialihkan ke bagian kaki-kaki yang wajib tampil all out agar bisa membuat setiap mata yang melihat terbelalak.

Untuk mengimbangi performa mesin, perangkat rem cakram berukuran besar pun dipasangkan agar pengereman ikut maksimal. Ia mempercayakan rem big brake kit (BBK) lansiran Altec 6 pot dengan ukuran 330 mm. Velg memakai Rays ZE40 Time Attack Edition dengan ukuran 16 inci lebar 8 inci. Sayang, offset velg di angka 28 membuatnya harus memutar otak agar fitment terlihat lebih pas.

 

 

Ia pun menanamkan adaptor 4 cm di depan dan 3,7 cm di belakang dengan bahan Duralium. Ban yang melapisi velg dipercayakan pada Advan Neova ukuran 225/45 agar mobil terlihat lebih padat secara estetika. “Suspensi pakai air cup dan yang paling seneng sih knalpotnya pakai Buddy Club Spec 2 Pro yang memang khusus untuk Estilo ini. Kebetulan ada yang jual hehehe!,” tawanya singkat.

 

Sinkronisasi Teknologi

Setelah semua komponen terlihat serasi, Riswan mengalihkan fokus ke sinkronisasi teknologi. Menurutnya, modifikasi mobil tua tetap harus memiliki unsur teknologi canggih di dalamnya, sehingga ia memasangkan perangkat head unit Android yang diintegrasikan ke ECU Hondata. 

“Fungsinya ini memantau kinerja mesin dari head unit. Modifnya simpel tapi tetep informatif, mobil boleh tua tapi harus tetap modern dan canggih. Itu konsep gue,” pungkasnya. 

Singkat cerita, kisah ‘murtad’ bersama Honda ini membuatnya semakin menyelami jati diri yang sebelumnya belum ditemui. Mimpinya selama ini ingin mengeksplorasi mobil sesuai keinginannya akhirnya tersalurkan lewat hasil karya bersama Estilo 1995 berkelir putih berjubah Pandem. 

Ia pernah berkata seperti ini,”Walaupun banyak yang kontra, tetapi ini sesuai dengan selera gue. Sebab cuma Pria Punya Selera yang berani tampil beda”.

 

Tonton juga Driven by Passion Season 2 Series The Iconic 90s - Rare Breed Civic by Riswan Rusdiansyah dan episode lainnya di channel YouTube Intersport Auto!

SAMPAIKAN KOMENTAR