Sejarah Le Mans 24 Hours dan Kutukan Toyota di Ajang Balap Ini
11
Jul
0 Comment Share Likes 67 View

Pria Intersport pasti sudah tahu soal ajang balap Le Mans 24 Jam. Ajang balap dan ketahanan mobil ini bisa dibilang salah satu yang terpopuler di jagat olahraga otomotif roda empat selain Formula 1, World Rally Championship, atau Rally Dakar. Dengan format dan regulasi turnamen yang unik, gelar juara Le Mans 24 Jam menjadi salah satu yang bergengsi pula. Ketahanan balapan selama 24 jam dengan tiga pembalap, adu gengsi pun terjadi di tingkat pabrikannya. Sebaik apa pihak pabrikan mampu membuat dan menyiapkan unit balap yang mumpuni bertahan untuk digeber terus selama 24 jam.

Le Mans 24 Jam juga disebut sebagai lomba ketahanan tertua di dunia. Tercatat bahwa lomba pertama turnamen ini dimulai pada tahun 1923 di kota Le Mans, Sarthe, Perancis. Turnamen ini pun awalnya dikenal dengan nama Grand Prix of Endurance (yang berarti Grand Prix Ketahanan). Legalitasnya, balapan ini pun kemudian diorgainisir oleh Automobile Club de l'Ouest (ACO).

Hingga akhirnya, pada tahun 2010 turnamen Le Mans 24 Jam (Piala Le Mans Interkontinental) pun dilebur masuk ke bagian seri FIA World Endurance Championship. Seperti namanya, turnamen balapan dunia ini diatur juga oleh FIA (Federation Internationale de l'Automobile). Turnamen balap ini menjadi kejuaraan dunia pertama setelah runtuhnya World Sportscar Championship pada tahun 1992.

Kategori dan Kelas di WEC

World Endurance Championship (WEC) kini mengikuti format Turnamen Le Mans Interkontinental yaitu melombakan sembilan balapan ketahanan di seluruh dunia. Jadwal WEC meliputi empat balapan di Eropa, dua di Amerika, dua di Asia dan satu di Timur Tengah. Regulasi WEC yang lebih terbuka berbeda dengan Formula 1 yang serba ketat. Hal ini mengundang para peserta untuk sekaligus ajang uji coba invosi dan teknologi tertentu. Jadi, bisa dibilang mayoritas teknologi atau perangkat yang disematkan pada mobil modern sekarang ini berasal dari mobil-mobil WEC.



Tapi jangan salah, komponen-komponen seperti wiper, lampu depan, kaca mobil, cakram rem, adalah beberapa teknologi "sederhana" yang lahir dari ajang balap ketahanan. WEC melanjutkan tradisi tersebut di setiap perancangan regulasi.

Secara garis besar setiap balapan WEC terbagi menjadi dua kategori, prototipe dan GT. Meski tentunya jauh lebih canggih, penampilan mobil dengan sebutan lengkap Le Mans Prototype (LMP) masih bisa ditelurusi jejaknya hingga era 1970-an. Kategori LMP memang diperuntukan sebagai wadah utama pabrikan mobil menguji inovasi dan teknologi terbaru tanpa harus menjaga relevansi penampilan dengan mobil produksi masal mereka.

Kategori ini kemudian dipecah menjadi dua kelas, LMP1 (dengan dua subkelas, LMP1-H dan LMP1-L), dan LMP2 yang dikhususkan untuk tim privatir. LMP1-H adalah kasta tertinggi di setiap balapan WEC, dan cuma bisa diikuti oleh tim-tim pabrikan. LMP1-H juga mewajibkan setiap mobil memiliki teknologi hybrid dan ERS (Sistem Penyimpanan Energi).

Meskipun merupakan ajang balap ketahanan mobil dan diawali dari Le Mans 24 Jam, namun tidak semua dilakukan seharian. Dari 6 seri sirkuit, hanya Le Mans yang wajib 24 jam. Sisanya hanya harus bertahan selama 6 jam. Sirkuit-sirkuit tersebut adalah Silverstone (Inggris), Spa-Fancorchamps (Belgia), Sebring International Raceway (AS), Fuji Speedway (Jepang), Shanghai International Circuit (Tiongkok). Untuk musim selanjutnya (2019/2020), sirkuit Autodromo Jose Calos Pace (Brazil) dan Bahrain International Circuit (Bahrain) akan kembali meramaikan kejuaraan dunia ini setelah sempat mundur pada tahun 2014 dan 2017 silam.

Sejarah dan Kutukan Toyota di WEC

Bicara WEC tahun ini tidak lengkap rasanya kalau tidak membahas Toyota. Pasalnya, Toyota akhirnya berhasil menjadi pemenang setelah penantian panjangnya selama 44 tahun sejak keikutsertaan pertamanya pada 1975. Toyota praktis hadir di berbagai era, mulai Group 6, Group C, GT1, hingga partisipasi di kelas LMP1 sejak 2012 hingga sekarang.

Toyota tidak secara langsung turun dengan unit balapnya di kesempatan pertama. Pabrikan asal Jepang itu masuk sebagai pemasok mesin untuk mobil Sigma MC75 yang dikemudikan dua pembalap Hiroshi Fushida dan Harukuni Takahashi. Hingga tahun 1980 baru TOM's mencoba peruntungannya dengan menurunkan Toyota Celica LB Turbo meski akhirnya gagal lolos kualifikasi.



Toyota baru penuh turun secara resmi di Le Mans pada 1985 menggunakan model Dome 85C-L dan menempati posisi ke-12 dan menjadi merek Jepang yang berhasil finis di Le Mans. Setelah itu, rangkaian hasil mengecewakan seakan mengutuk Toyota di turnamen balap dan ketahanan mobil ini.

Tahun 1992, Toyota TS010 dipiloti Masanori Sekiya, Pierre-Henri Raphanel dan Kenny Acheson. Hasilnya, mereka tertinggal 6 lap dari Peugeot 905 Evo. Dua tahun kemudian, unit Toyota 94C-V gagal juga menjadi juara dan harus mengakui keunggulan Dauer 962 Le Mans. Tahun 1999, tidak kurang dari tiga unit GT-One langsung dibawa ke Le Mans. Namun kejadian pecah ban dan insiden parah yang membuat pembalapnya, Boutsen cedera tulang belakang dan harus rela finis di belakang BMW V12 LMR.

Paling pahit, tentu yagn terjadi tiga tahun silam. Dengan waktu yang tinggal lima menit lagi, harapan kemenangan perdana Toyota di Le Mans 24 Hours sekejap sirna begitu Toyota TS050 Hybrid yang tengah dikemudikan Kazuki Nakajima mendadak kehilangan daya dan harus berhenti hanya 4 menit menjelang finis. Praktis, Porsche 919 yang dikemudikan Neel Jani melesat melewatinya dari posisi ke dua.

Toyota Berhasil Juara WEC 2018/19

Akhirnya, setelah penantian panjang Toyota bisa memenangkan kejuaraan balap dan ketahanan dunia WEC ini. Toyota Gazoo Racing berhasil keluar sebagai juara dengan model mobil yang sama dengan musim balap sebelumnya, TS050 Hybrid. Tentunya, ada banyak perbaikan dan inovasi yang dilakukan di unit balap ini agar insiden tiga tahun silam tidak terulang lagi.



Mobil hybrid tersebut dikendarai secara bergantian oleh ketiga pembalap andalan mereka, Sebastien Buemi, Kazuki Nakajima, dan Fernando Alonso. Ya, nama terakhir adalah mantan pembalap F1. Kabarnya, setelah ini pun Alonso akan beralih ke IndyCar guna mengejar gelar "Triple Crown of Motorsport". Yakni mengawinkan gelar GP Monako, Le Mans, dan Indianapolis 500.

Indonesia Akan Kedatangan Sang Juara Dunia TS050

Meramaikan ajang pameran otomotif terbesar se-Asia Tenggara, GIIAS 2019, Toyota akan menghadirkan zona sarat teknologi terbaru di booth-nya. Zona dengan nama Beyond Technology Zone akan diisi produk re-spesifikasi hybrid dan plug-in hybrid. Nah, di sinilah Toyota akan menghadirkan unit replika sang juara dunia TS050 Hybrid di zona ini.

Jadi, buat Pria Intersport yang mau melihat wujud mobil juara dunia bisa langsung ke Hall 1B, ICE-BSD pada 18 - 28 Juli 2019 mendatang.

SAMPAIKAN KOMENTAR