Sederet In-House Tuner Asal Jepang
25
Nov
2019
0 Comment Share Likes 368 View

Nama TRD, Nismo, dan Mugen tentu sudah tidak asing lagi bagi para pecinta modifikasi. Nama in-house tuner ini seringkali menjadi penghias berbentuk stiker yang menempel pada mobil-mobil di jalanan. Sebagian lainnya dapat kita jumpai berbentuk badge logo yang menempel pada body mobil. Nama atau brand in-house tuner tersebut identik dengan racing dan modifikasi gaya JDM. Orang menempelkan stiker atau badge tersebut agar mobil terlihat seperti mobil racing. Banyak orang yang memasang stiker yang tidak sesuai dengan merk mobilnya. Padahal, masing-masing in-house tuner memiliki merk mobilnya masing-masing. Nah, untuk tahu lebih banyak soal In-house tuner asal Jepang, langsung saja dibaca ulasannya berikut ini.

  1. Toyota – TRD

Toyota merupakan produsen mobil Jepang pertama yang mengikuti kejuaraan motorsport dunia. Mereka telah mengikuti kejuaraan balap mobil sejak tahun 1957 melalui divisi racingnya yang bernama Tosco. Pada tahun 1973, Toyota mulai tertarik untuk mengembangkan mobil performa. Tosco pun berubah menjadi Toyota Racing Development (TRD). Selain tetap ikut serta pada ajang balapan, mereka juga mulai mengembangkan dan menjual produk-produk performa.

 

Saat ini, TRD masih terus aktif dalam ajang balapan, seperti IMSA GT, NASCAR, Formula Drift, dan lainnya. TRD juga terus mengembangkan dan menjual berbagai produk-produk performa seperti supercharger, suspensi, brake kits, exhaust, air-intake, dan velg. Belakangan ini, TRD bahkan juga memproduksi dan menjual produk-produk non-performa yang berupa aksesoris pelengkap, misalnya karpet mobil, tutup oli atau shift knobs.

 

  1. Nissan – Nismo

Nama Nismo mulai dikenal oleh masyarakat luas berkat salah satu mobil andalan Nissan, yaitu The Godzilla, GT-R. Awalnya, ada sebuah workshop dan produsen mobil bernama Prince Motor Company. Pada tahun 1964, mereka menyadari bahwa penjualan bisa ditingkatkan dengan mengikuti kejuaraan balap. Mereka kemudian mulai mengembangkan mobil Nissan, memodifikasinya lalu ikut serta dalam kejuaraan balap mobil.

 

Pada tahun 1966, Nissan membeli Prince. Nissan melihat peluang yang sama untuk meningkatkan penjualan melalui partisipasi dalam berbagai kejuaraan balap mobil. Prince Motor Company pun diubah menjadi 2 buah divisi performa bernama Oppama Works dan Omori Works. Satu divisi bertugas sebagai pabrik, dan satu divisi lainnya menangani perakitan sesuai permintaan pelanggan. Pada September 1984, Nissan memutuskan untuk menyatukan kedua divisi performa ini menjadi satu anak perusahaan. Lahirlah Nissan Motorsport Internasional Co. Ltd yang disingkat Nismo.

Selain memodifikasi spek performa Nismo juga mengembangkan dan menjual berbagai part performa, seperti aero, velg, suspensi, part-part mesin, part-part kaki-kaki, sway bar, exhaust system, dan lainnya.

Nismo juga memiliki driving academy yang pernah ramai ketika menyekolahan top gamer Gran Turismo untuk menjadi pembalap sungguhan. Nissan juga memerintahkan Nismo untuk membuat Nismo Heritage Program yang akan mengembangkan dan memproduksi ulang part-part mesin lawas untuk tetap menghidupkan heritage kebesarannya seperti pada mesin RB26DETT.

 

  1. Honda – Mugen

Berbeda dengan in-house tuning lainnya, Mugen ini bukanlah divisi dari Honda. Mereka juga bukanlah anak perusahaan Honda. Mugen merupakan perusahaan yang berdiri sendiri dan tidak berkaitan dengan Honda, tetapi memiliki kedekatan yang spesial dengan Honda, karena pendiri Mugen adalah Hirotoshi Honda, anak dari founder Honda, Soichiro Honda.

 

Seperti ayahnya, Hirotoshi ini juga menyukai otomotif dan mekanikal. Bedanya dia senang dengan performa dan balap. Saat dia kuliah dia sudah mulai membangun mobil balap sendiri di workshop milik ayahnya. Tidak lama kemudian, veteran pembalap yang bekerja sebagai R&D Honda, Masao Kimura ikut membantunya. Hirotoshi pun kemudian mendirikan Mugen yang berarti “tanpa batas” (without limit/ unlimited). Mugen seringkali mencantumkan Power dibelakang namanya, sehingga menjadi Mugen Power yang artinya kekuatan tanpa batas.

Mugen sendiri sudah mengikuti berbagai jenis kejuaraan seperti Formula One, Formula Two, Super Formula, World Touring Car Championshop, Super GT, dan lainnya. Di Formula One Mugen sudah lama dikenal sebagai penyuplai mesin. Bahkan Mobil legendaris MP4/4 yang dikendarai Ayrton Senna dan Alain Prost menjadi bukti nyata kehebatan Mugen.

Mugen memproduksi berbagai part performa untuk mobil Honda. Mulai dari brake kit, aero, part mesin, kaki-kaki, exhaust, velg, interior bahkan sampai baut, tutup oli dan oli mesin. Mereka juga mengembangkan dan menjual berbagai part performa untuk motor-motor Honda. Sayangnya, pada 2003, Hirotoshi terjerat kasus penghindaran pajak, yang membuat perusahaan ini mengalami perombakan. Pada tahun 2004, Mugen berganti nama perusahaan menjadi M-TEC Co., Ltd.

 

  1. Subaru – STI (Subaru Tecnica International)

Mungkin tidak sedikit yang belum tahu bahwa Subaru dulunya adalah perusahaan yang membuat part-part pesawat. Sampai sekarang pun mereka masih memiliki divisi yang khusus menangani pesawat.

In-house tuner dari Subaru disebut STI, yang merupakan singkatan dari Subaru Tecnica Internasional. Divisi ini dibentuk pada tahun 1988 dengan misi mengikuti kejuaraan balap dan juga pengembangan serta penjualan part-part performa untuk Subaru.

 

Baru setahun dibentuk, divisi performa ini langsung memecahkan rekor ketahanan kecepatan tinggi. Subaru Legacy generasi pertama berhasil menempuh 100.000 km dalam 447 jam dengan kecepatan rata-rata 223 km/jam. Nama STI sendiri memang sudah lama bersinar di kejuaraan rally dunia. Puncaknya yaitu ketika Colin McRae dengan Impreza 555 berhasil menjuarai WRC berturut-turut pada 1995, 1996, dan 1997.

Sama halnya dengan Nismo, TDR, Mugen dan in-house tuning lainnya, STI pun juga menjual berbagai part-part performa dan juga complete car. Uniknya, STI dan Subaru ini menjual berbagai macam apparel dan produk non car related. Mereka menjual bukan hanya jam, baju topi dan lainnya, tapi sampai ke baju bayi, gelas, dan bahkan sendok.

 

  1. Mazda – Mazdaspeed

Anak perusahaan Mazda awalnya adalah divisi balap dengan nama Mazda Sports Corner. Salah seorang karyawannya yang juga merupakan pembalap bernama Takayoshi Ohashi melihat potensi pengembangan Mazda ke arah motorsport. Ia pun mengajukan ide tersebut dan kemudian direstui untuk membuat Mazda Sports Corner pada 1967.

Sesuai namanya, Mazda Sports Corner ini benar-benar fokus utama pada balap motorsport. Meskipun pada awalnya mereka tidak terlalu banyak menorehkan prestasi yang gemilang tetapi mereka ini sangat gigih dan konsisten untuk terus mengembangkan performa dan prestasi mereka.

 

Pada tahun 1983, Mazda memutuskan untuk mengikuti kejuaraan Le Mans. Mazda memanggil Mazda Sports Corner untuk bergabung dengan mereka. Mereka juga memutuskan untuk  mengganti nama menjadi Mazdaspeed.

Setelah 20 tahun, kerja keras mereka akhirnya membuahkan hasil. Mobil Mazdaspeed 787B berhasil menjuarai Le Mans pada tahun 1991. Ini adalah pertama kali produsen Jepang memenangkan kejuaraan bergengsi tersebut. Prestasi ini terus bertahan sampai 27 tahun kemudian Toyota akhirnya bisa menjuarai Le Mans pada 2018.

Mazda baru mulai mengembangkan Mazdaspeed untuk pasar komersil pertama kali di tahun 2003. Sayangnya produk mereka tidak terlalu populer sampai akhirnya dihentikan produksinya. Mazdaspeed 3 sedikit lebih baik penjualannya, tetapi hanya bertahan 2 generasi sampai akhirnya Mazda memutuskan untuk menghentikan produksinya.

 

Halaman selanjutnya

  1. Mitsubishi – Ralliart

Mitsubishi, seperti Subaru, memang dibesarkan di kancah rally dunia. Pendiri Ralliart adalah Andrew Cowan, pembalap Mitsubishi asal Inggris yang di era awal Mitsubishi mengikuti kejuaraan dan telah meraih banyak kemenangan skala internasional.

Pada tahun 1983, Mitsubishi meminta Andrew Cowan untuk mendirikan divisi balap sebagai pusat aktifitas balap Mitsubishi di Eropa. Ia pun mendirikan Cowan Motorsports (ACMS) yang kemudian berkembang menjadi perusahaan bernama, Mitsubishi Ralliart Europe. Tidak lama kemudian, rekan satu timnya menerima lisensi dan membuka cabang Ralliart Australia.

 

Tidak seperti in-house tuner lainnya yang terlibat dalam pengembangan versi performa untuk mobil komersial, Ralliart berfokus pada motorsport, baik rally, touring, ataupun dakkar. Perusahaan ini memang relatif kecil dibandingkan dengan Toyota, Nissan dan Honda. Mereka mulai kewalahan dalam finansial dan mulai menutup mata pada varian performa mobil. Mitsubishi memutuskan merapat pada versi mobil yang lebih ramah pada masyarakat umum dan ramah lingkungan. Ralliart sudah lama resmi ditutup pada 2010. Kemudian Lancer Evo pun dinyatakan dihentikan dan kabarnya akan berubah wujud menjadi model mobil lainnya. Meskipun Ralliart telah ditutup, Mitsubishi tetap memegang kepemilikan brand Ralliart. Jadi tidak mustahil kalau suatu saat nanti Ralliart akan kembali berdiri.

 

  1. Suzuki – Suzuki Sport Racing

Banyak yang belum tahu bahwa Suzuki ini dulunya pembuat mesin tenun. Namanya Suzuki Loom Works yang didirikan pada 1909. Sukses dengan mesin tenunnya, mereka tergiur mencoba bisnis baru, yaitu mobil. Namun sayangnya, pasca perang dunia ke-2 produksi mereka terhenti kebijakan pemerintah saat itu, dan mereka terpaksa membuat mesin tenun lagi. Pada tahun 1951 pasar kain jatuh dan bisnis mereka pun terganggu. Suzuki memutuskan untuk kembali pada otomotif, tetapi dalam bentuk sepeda motor. Usaha kali ini cukup sukses, dan  dari sana, mereka kemudian merambah juga ke produksi mobil.

 

Sama seperti Mitsubishi, Suzuki adalah perusahaan yang tidak sebesar rekan-rekan senegaranya. Fokusnya ada pada mobil city car, mobil kecil (supermini) dan SUV 4×4. Untuk mobil, Suzuki tidak terlalu berambisi dalam urusan varian performa, tetapi untuk in-house tuning, Suzuki memiliki divisi bernama Suzuki Sport Racing. Divisi ini memiliki fokus utama pada motorsport dibandingkan membuat part atau varian performa dari model komersial Suzuki. Untuk part-part performa, Suzuki Sport bekerja sama dengan Monster Sport.

Monster Sport adalah brand performa yang berasal dari perusahaan bernama Tajima Motor Corporation. Perusahaan ini didirikan oleh mantan pembalap dan manager tim Suzuki bernama Nobuhiro Tajima yang memiliki julukan Monster (Monsuta Tajima).

 

  1. Daihatsu – D Sport

Lineup mobil Daihatsu memang berupa mobil kecil, SUV, MPV, van, minibus dan truk. Tetapi ternyata Daihatsu ini punya in-house tuning bernama D Sport. Divisi yang memiliki warna identitas kuning hitam ini memproduksi part-part modifikasi untuk mobil Daihatsu. Untuk saat ini, kebanyakan part yang tersedia adalah seputar aksesoris dan visual (aero/ eksterior). Part performa baru berupa sway bar, exhaust, suspensi dan brake part. Daihatsu yang merupakan anak perusahaan Toyota ini memang produsen yang mengutamakan mobil komersial harian.

 

  1. Lexus – Lexus F (F Sport)

Lexus merupakan divisi dari Toyota untuk mobil-mobil kelas premium, sebagaimana halnya Acura dari Honda atau Infiniti dari Nissan. Dibandingkan dengan Acura dan Infiniti, Lexus ini memiliki penjualan yang sangat baik. Lexus tercatat sebagai produsen mobil kelas premium Jepang terbesar. Mereka juga memiliki perhatian yang besar pada balap mobil dan pengembangan performa mobil. Sejak 1999, Lexus telah mengikuti berbagai macam kejuaraan balap profesional dunia.

 

In-house tuning Lexus bernama Lexus F yang merupakan divisi spesialis pengembangan performa. F ini berasal dari “Fuji Speedway“, sirkuit yang dijuluki “Temple of Speed” yang memang telah lama menjadi pusat motorsport di Jepang. Lexus F mengembangkan varian performa dari model-model komersial Lexus. Mereka juga tentunya menangani pembuatan supercar Lexus yang terkenal, yakni Lexus LFA.

Lexus F juga mengembangkan dan menjual part-part performa untuk model Lexus lainnya. Part performa yang diberi nama F Sport ini di antaranya exhaust, air filter, cold air intake, brake kit, suspensi, sway bar, bushing dan lainnya. Untuk beberapa part lainnya Lexus juga bekerjasama dengan in-house tuning Toyota, TRD.

1 2
SAMPAIKAN KOMENTAR