Nggak Mau Putus di Tengah Jalan, Kan? Begini Tips Merawat Timing Belt Mobil
05
Dec
0 Comment Share Likes 51 View

Salah satu komponen vital pada sistem kinerja mobil adalah timing belt. Timing belt berfungsi untuk memutar noken as (camshaft) yang berfungsi untuk membuka dan menutup klep (valve) pada ruang pembakaran secara tepat waktu.

Bicara soal klep, perlu diketahui ada dua jenisnya yaitu klep intake dan klep exhaust. Klep intake berfungsi sebagai saluran masuk bahan bakar dan oksigen ke dalam ruang pembakaran. Sedangkan klep exhaust berguna sebagai saluran buang sisa pembakaran. Kedua klep (valve) tersebut digerakkan oleh perputaran noken as. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, maka tugas timing belt yang menggerakkan atau memutar noken as tersebut.

Dengan pemaparan tersebut, bisa dibayangkan bagaimana repotnya jika timing belt tiba-tiba putus. Akibat yang fatal tentu akan terjadi pada mobil karena antara klep dan piston akan bertabrakan dan akhirnya rusak bahkan hancur.

Klep dan piston yang bertabrakan tersebut terjadi lantaran pada saat mesin sedang berjalan, proses pembakaran bekerja dengan sangat cepat. Demikian juga dengan proses terbuka dan tertutupnya klep. Kemungkinan klep sedang terbuka cukup besar pada saat timing belt putus, hingga akhirnya piston pembakaran menabrak klep yang terbuka tersebut.

Tapi jangan khawatir, setelah mengetahui sedikit banyak soal akibat yang terjadi jika timing belt putus tentu ada penanggulangannya. Perihal perawatan timing belt adalah hal yang utama. Karena jika sudah kejadian, untuk memperbaiki mobilnya harus turun mesin segala dan tentu biayanya tidak sedikit.

Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan kerusakan atau terputusnya timing belt saat mobil tengah berjalan. Beberapa di antaranya bisa dikarenakan dari faktor usia timing belt itu sendiri atau terjadinya kesalahan pada saat pemasangan. Perihal pemasangan, timing belt hendaknya tidak dipasang kendor atau juga terlalu keras. Hal tersebut juga mempengaruhi kekuatan timing belt saat melakukan tugasnya. Jadi pastikan ukurannya tepat saat pemasangan timing belt dilakukan.

Seperti halnya komponen mobil lainnya, timing belt juga punya batas usia dan pemakaian. Jika diperhatikan, pabrikan sempat menyebutkan melalui buku manualnya. Bahkan lebih dari itu, montir bengkel resmi juga kerap mengatakan sebaiknya timing belt diganti secara berkala sesuai dengan standar dan pedoman pabrik.

Biasanya timing belt memiliki usia pada setiap pemakaian 40.000 - 60.000 km untuk mobil berbahan bakar bensin dan 100.000 km untuk mobil bermesin diesel.

Tapi jika penggunaan mobil sering melebihi dari beban maksimalnya atau mobil sering macet atau mogok, maka lebih baik timing belt diganti lebih cepat dari angka yang dianjurkan tadi. Perlu diingat, jika melakukan penggantian timing belt dengan yang baru, lebih baik tensioner yang ada pada timing belt juga ikut diganti dengan yang baru.

Perawatan lainnya yang bisa dilakukan untuk mencegah timing belt putus adalah dengan memeriksa apakah ada kebocoran oli mesin pada seal oli yang terdapat di noken as. Karena jika terjadi kebocoran oli yang mengenai timing belt, maka hal ini juga akan mempengaruhi daya tahan timing belt sehingga menjadi lebih mudah.

SAMPAIKAN KOMENTAR