Mitos-Mitos Soal Mobil Ini Masih Banyak Yang Percaya, Lho!
14
Jul
0 Comment Share Likes 236 View

Jika bicara soal mobil, kadang kita akan menemukan mitos-mitos mengenai seluk beluk mobil yang belum terbukti kebenarannya tetapi dipercaya oleh banyak orang. Seperti yang kita tahu, mitos sendiri adalah sebuah kepercayaan yang beredar luas di masyarakat yang tidak sesua dengan fakta atau keadaan sebenarnya, karena biasanya beredar dari mulut ke mulut. Karena ada banyak orang yang menceritakan hal yang sama, seringkali orang-orang akhirnya percaya bahwa mitos tersebut merupakan sebuah kebenaran.

Ternyata, dunia otomotif juga tidak lepas dari keberadaan mitos. Makanya kali ini kita akan bahas soal mitos-mitos di dunia mobil yang terbukti hanya mitos, tetapi masih banyak dipercaya orang. Mau tahu apa saja mitos di dunia mobil tersebut? Nah, berikut ulasannya untuk para Pria Intersport.

Bahan Bakar Berkualitas Premium Dapat Membuat Mesin Lebih Bertenaga dan Bersih

Bahan bakar premium seperti Pertamax, Pertamax Plus, atau bahkan Pertamax Turbo seringkali dipercaya sebagai bahan bakar yang lebih bersih sehingga membuat pembakaran lebih optimal. Menggunakan bahan bakar dengan jenis-jenis tersebut juga diyakini dapat membuat proses pembakaran lebih efisien dan dapat meningkatkan tenaga mesin.

Beberapa orang kebanyakan juga menganggap angka oktan adalah ukuran kualitas bahan bakar. Semakin besar angkanya, maka akan semakin bersih pula bahan bakarnya, dan hal ini dianggap dapat membuat mesin menjadi lebih awet.

Tapi siapa sangka bahwa anggapan-anggapan ini adalah anggapan yang kurang tepat. Seperti yang sudah diketahui secara umu, campuran udara-udara bahan bakar akan dikompresi dalam silinder mesin yang kemudian akan diledakkan oleh busi. Nah, angka oktan sendiri adalah rating yang menunjukkan seberapa tahan suatu bahan bakar untuk dikompresi sebelum masuk ke dalam proses pembakaran. Semakin tinggi angkanya, maka semakin besar juga ketahanannya dalam kompresi tinggi.

Penggunaan bahan bakar dengan oktan yang rendah pada mesin berkompresi tinggi dapat menyebabkan knocking. Knocking ini dapat terjadi apabila bahan bakar yang diompresi terbakar tidak sempurna sehingga terjadi dua atau lebih titik ledakan dalam proses pembakaran oleh busi. Hal ini dapat mengurangi performa dan bahkan merusak mesin mobil kita.

Jika mesin mobil kita bukanlah mesin kompresi tinggi, maka penggunaan bahan bakar premium seperti yang sudah disebutkan diatas adalah hal yang sia-sia dan sama sekali tidak meningkatkan efisiensi bahan bakar. Sebaiknya kita mengikuti petunjuk penggunaan bahan bakar yang sesuai untuk mobil kita. Menggunakan bahan bakar oktan tinggi pada mesin berkompresi rendah hanya akan menambah biaya yang harus dikeluarkan untuk bahan bakar.

 

Mesin Harus Dipanaskan Dulu Sebelum Digunakan

Memanaskan kendaraan kita sebelum digunakan memang sudah menjadi sebuah keharusan. Tetapi, memanaskan kendaraan bukan berarti kita menunggu kendaraan tersebut dalam keadaan diam hingga panas, baru kita kendarai setelahnya. Hal ini memang mitos yang paling banyak dipercaya oleh masyarakat luas.

Mesin mobil yang sudah dinyalakan itu dapat dipastikan sudah aktiff dan bekerja. Jadi baik dalam keadaan diam maupun berjalan, proses pemanasan mobil tidak akan mengalami perbedaan. Namun memang sebaiknya, saat dalam proses pemanasan, mobil tidak langsung kita bawa dengan kecepatan tinggi.

Oli mobil dan beberapa komponen mobil lainnya memang membutuhkan waktu agar bisa bekerja secara optimal. Tetapi hal ini bukan berarti kita harus memanaskan mobil kita dengan mendiamkannya sampai panas, kemudian baru dugunakan. Memanaskan mobil dengan cara ini hanya akan membuang-buang waktu dan bensin kita. Kecuali, jika mobil kita memiliki mesin karburator yang memang membutuhkan pemanasan idle sebelum bisa melaju dengan maksimal, barulah kita diharuskan untuk memanaskan mobil dengan mendiamkannya beberapa saat. Kuncinya, kita harus tahu betul kebutuhan mobil kita agar bisa menentukan cara yang lebih efisien.

 

Menggunakan Ponsel di SPBU Dapat Mengakibatkan Ledakan

Bisa kita lihat, sepertinya nyaris di semua SPBU di Indonesia masih memberlakukan larangan menggunakan ponsel di area SPBU. Larangan-larangan mengenai hal ini juga terpampang jelas pada setiap SPBU. Seperti yang diketahui sebagian besar orang, larangan ini diberlakukan karena khawatir radiasi elektromagnetik yang terpancar dari ponsel kita akan dapat menghasilkan energi yang mampu menyalakan uap gas bahan bakar.

Tetapi, sebuah studi yang meneliti 243 SPBU di dunia menunjukkan bahwa selama tahun 1994 sampai tahun 2005 tidak pernah ada kecelakaan yang disebabkan oleh ponsel. Bahkan tidak pernah ada sekalipun dilaporkan adanya kasus yang disebabkan oleh radiasi elektromagnetik yang berasal dari ponsel.

Bahkan pada kenyataannya, panas dari rokok pun ternyata tidak cukup untuk menyalakan uap bahan bakar. Untuk menyalakan uap gas bahan bakar, dibutuhkan sebuah sumber api yang murni, atau paling tidak percikannya. Ponsel dengan tegangan listri yang lemah dari baterinya dinilai tidak akan mampu melakukan hal tersebut.

Sebuah acara dari Discovery Network, yaitu Mythbusters sendiri pernah menayangkan sebuah episode untuk mengetahui apakah mitos ini nyata atau hanya sekedar mitos belaka. Hasilnya ternyata menunjukkan bahwa hal tersebut hanyalah mitos. Federasi Komunikasi di Amerika Serikat pun telah memberikan sebuah pernyataan resmi mengenai hal ini. Pihak mereka mengatakan bahwa tidak pernah ada sekalipun kasus ledakan yang disebabkan oleh penggunaan ponsel di SPBU.

 

Ukuran Ban Dapat Menambah Kecepatan

Ban dengan ukuran yang besar memang diketahui mempunyai beberapa kelebihan dibanding ban-ban lainnya. Beberapa kelebihannya adalah kendaraan menjadi lebih stabil dan lebih memiliki area grip. Beberapa orang juga percaya bahwa ban yang besar dapat menambah kecepatan kendaraan kita. Sayangnya, anggapan ini hanyalah sebuah mitos belaka.

Tidak diketahui darimana asalnya anggapan ini. Faktanya, ban mobil yang besar justru dapat mengurangi akselerasi. Bahkan, ban besar yang menggunakan velg berbahan berat justru dapat menambah beban dan malah mengurangi performa mobil.

Kecepatan mobil memang secara umum bergantung pada mesinnya. Mobil-mobil sport memerlukan ban besar agar dapat lebih stabil ketika melaju dengan kencang. Selain itu, penggunaan ban besar juga dapat menambah area cengkeraman ban pada jalan, sehingga energi yang besar dari mesin dapat disalurkan ke jalan dengan lebih optimal.

Salah satu portal otomotif mobil pernah mengadakan penelitian mengenai mitos ban ini. Mereka mengetes VW Golf 2010 dengan 5 jenis ukuran diameter ban, berkisar antara 15 inci sampai 19 inci. Hasilnya menunjukkan bahwa semakin besar ban, akselerasi dan efisiensi bahan bakar justru semakin berkurang.

 

Menambah Batas Kecepatan Maksimal Akan Menambah Angka Kecelakaan

Sebenarnya, tidak ada korelasi yang kuat antara kecepatan dengan kecelakaan. Penyebab utama kecelakaan telah terbukti disebabkan oleh kurangnya konsentrasi dari pengemudi, mengantuk, pecah ban, kelebihan muatan, ugal-ugalan, rem atau komponen mobil yang tidak berfungsi dengan baik, dan lain sebagaunya.

Meskipun memiliki batas kecepatan maksimal yang tinggi, hampir sebagian besar pengemudi tidak akan melaju lebih cepat dari kecepatan yang nyaman dan aman, sehingga meskipun batas kecepatan maksimal dinaikkan, orang tidak akan serta merta memacu kendaraannya hingga batas maksimal.

Sebuah studi menunjukkan bahwa sebagian besar kecelakaan justru terjadi pada zona kecepatan rendah, dibandingkan dengan zona berkecepatan tinggi. Pada zona berkecepatan tinggi, para pengemudi biasanya akan menjadi lebih berkonsentrasi dan berhati-hati, sedangkan pada zona kecepatan rendah, para pengemudi cenderung akan menjadi lalai. Di New York sendiri, setelah adanya kenaikan batas kecepatan maksimum menjadi 65mph atau setara dengan sekitar 104 km/jam, angka kecelakaan justru menurun hingga 4%. Hal ini membuktikan bahwa penambahan batas kecepatan maksimal tidak punya relasi yang kuat dengan bertambahnya angka kecelakaan.

 

Nah, sekarang sudah tahu kan mana saja hal-hal yang sudah kita ketahui tentang mobil dan ternyata hanya mitos? Mitos-mitos seperti ini sebaiknya memang kita cari tahu kebenarannya agar kita tidak melakukan kesalahpahaman yang bisa mengakibatkan kerugian bagi kita sendiri.

SAMPAIKAN KOMENTAR