Mazda Klaim Mesin Skyactive Generasi Terbaru Setara Dengan Mobil Listrik

Mazda Klaim Mesin Skyactive Generasi Terbaru Setara Dengan Mobil Listrik

13Jun
INTERSPORT.ID ON 13 June 2018
INTERSPORT.ID ON 13 Jun 2018

Pria Intersport! Generasi ketiga dari mesin adalan Mazda yakni Skyactiv akan segera digunakan, untuk semua mobil produksi Mazda tahun 2019. Seperti kita ketahui bersama bro, mesin Skyactiv merupakan teknologi terkini dari Mazda dalam mengoptimalkan kinerja mesin konvensional. Lebih tepatnya dipahami sebagai mesin dengan rasio kompresi sangat tinggi.

Untuk ukuran mesin bensin, rasio kompresi sebesar 14:1 sangatlah besar, hampir setara dengan mesin diesel. Mesin Skyactiv-G diperkenalkan pertama kali pada 2011, dan sudah dipakai di seluruh lineup Mazda.

Mesin penerus dari Skyactiv-G, yaitu Skyactiv-X ini, menerapkan teknologi mesin yang memadukan keuntungan mesin diesel dan bensin. Dapat dibayangkan, bahwa mesin generasi ketiga tersebut akan lebih bertenaga dan irit bahan bakar.

Bicara teknis bro, mesin baru Mazda SKYACTIV-X, memiliki metode pembakaran pemampatan kompresi, menunjukkan potensi tinggi dalam mengurangi emisi gas buang. Keyakinan Mazda terbilang tinggi, karena mereka tetap berpendirian dengan mesin internal combustion (pembakaran dalam) konvensional, untuk melawan emisi mobil listrik.

Bukan dari emisi gas buang dihasilkan dari proses pembakaran di mesin, melainkan perhitungan ‘well-to-wheel’. Harus dipahami yaa bro! Ini bukan berarti Mazda tidak ikut serta dalam pengembangan teknologi listrik. Tapi mereka berkomitmen untuk mengurangi efek buruk yang dihasilkan selama memproduksi kendaraan.

Komitmennya, emisi CO2 ‘Well-to-Wheel’ menurun 50 persen pada 2030, dan terus menurun 90 persen hingga 2050. Pihak pabrikan lanjut memperkenalkan EV (Electric Vehicle) dan teknologi mild hybrid di 2019, mobil hybrid dengan baterai terintegrasi di 2020 dan plug-in hybrid pertama mereka di 2025. Semua dilakukan tahap demi tahap sesuai rencana yang dicanangkan.

Mazda yakinmobil tanpa emisi seperti di EV sekarang ini masih omong kosong, karena dua pertiga produksi EV global tetap mengandalkan penggunaan bahan bakar fosil.

Agar perhitungan emisi CO2 lebih tepat, Mazda mengubah evaluasi ‘Tank-to-Wheel’ (yang hanya mengukur emisi saat berkendara), menjadi metode ‘Well-to-Wheel’ yang termasuk penggunaan bahan bakar, proses produksi dan pengiriman kendaraan.

Penggunaan metode evaluasi emisi ini, menciptakan perhitungan akurat dari langkah-langkah pengembangan mesin di masa datang. Konteksnya dalam hal ini, pihak manufaktur menyadari bahwa mobil listrik tidak sebersih yang dibayangkan, karena masih tergantung dengan bahan bakar minyak juga.

Perhitungan menurut Mazda seperti ini. Sebuah mobil listrik berukuran sedang mampu mengkonsumsi daya 20kWh per 100km. Untuk menghasilkan daya sebesar itu, batu bara menghasilkan emisi CO2 sebesar 200g/km, petroleum 156g/km dan LNG (Liquefied Petroleum Gas) 100g/km.

Jika dikonversi melalui metode ‘Well-to-Wheel’, rata-rata emisi CO2 mobil listrik sebesar 128g/km. Sementara mesin bensin Mazda SKYACTIV-G menghasilkan emisi 142g/km. Artinya hanya terjadi efisiensi sebesar 10%.

Fakta lain, mesin SKYACTIV-G memproduksi CO2 lebih sedikit dari EV yang tercipta melalui batu bara atau petroleum, dengan metode ‘Well-to-Wheel’. Sementara EV yang produksinya memanfaatkan LNG lebih rendah emisi sebesar 30 persen. Sehingga membuat Mazda bersikukuh mempertahankan dan mengembangkan mesin internal combustion agar mencapai level yang setara.

Gimana Pria Intersport, keren kan? Kita tunggu saja yaa mesin ini masuk ke Indonesia.

SAMPAIKAN KOMENTAR
OPEN