Main-Main ke Jepang, Apa Arti Sticker-Sticker Mobil Ini?
25
Jun
0 Comment Share Likes 290 View

Bukan Jepang kalau tanpa inovasi barang sedikit pun. Apalagi kalau menyoal otomotif, Negeri Sakura ini tentu bisa dibilang sebagai salah satu kiblat di dunia otomotif. Di tengah gempuran pabrikan otomotif asal Cina yang mulai gencar memperkenalkan jajaran produknya, Jepang tetap kokoh menyaingi para produsen asal Eropa dan Amerika Serikat.

Produksi Jepang dikenal sangat kuat dalam hal finishing touch. Tapi lebih dari itu, justru hal-hal kecil berkaitan dengan otomotif yang justru tidak terjamah oleh produsen negara lain, Jepang unggul. Karakter positif seperti kebersihan, keuletan, hingga kedisiplinan bisa diakui sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Jepang.

Bercermin dari masyarakatnya, pihak pemerintahan Jepang terkait lalu lintas jalan  telah lama diketahui mengeluarkan kebijakan tentang sticker mobil sebagai penanda jenis pengendaranya. Dengan melihat sticker ini para sesama pengendara diharapkan bisa saling waspada saat bekendara di jalan raya. Ada sticker yang menandakan bahwa mobil tersebut dikendarai oleh pemula, orang tua jompo, kaum disabilitas, dan orang yang kurang pendengarannya.

Bukan hanya untuk mengetahui jenis pengendaranya saja. Sticker ini juga ditujukan untuk aturan harus bagaimana bila kita menjumpai mobil dengan sticker-sticker tersebut. Misalnya, kita tidak boleh mendahului lalu memotong mobil tersebut. Jadi kebayang bukan, cuek akan tata krama di jalanan saja bisa kena tilang loh, Mas Bro.

Secara garis besar, sticker-sticker tersebut digunakan untuk menjamin keselamatan dan ketertiban jalan.

Nah, berikut ini adalah macam-macam sticker tersebut.

Sticker Wakaba atau Shoshinsha

Setelah mendapatkan SIM, pengendara di Jepang akan wajib menempelkan sticker Shoshinsha di mobilnya selama satu tahun. Sticker ini punya bentuk seperti huruf V atau daun. Dari bentuk ini kemudian orang-orang sana menyebutnya dengan sebutan Wakaba Mark. Wakaba sendiri berarti daun muda, dan analogi yang tepat untuk ditujukan untuk para pengemudi pemula, bukan? Posisi penempelan sticker pun ada standarnya, yakni di depan dan belakang mobil serta harus mudah terlihat pengendara lain.

Apabila melanggarnya, maka pengendara pemula tersebut akan didenda sebesar 4.000 Yen atau sekitar 500 ribu Rupiah. Selain itu, hukuman lainnya adalah kehilangan 1 poin dari SIM pengendara.

Contoh kasus lainnya, apabila sang pengemudi pemula merasa belum mahir padahal sudah setahun mengemudi, sticker Wakaba boleh tetap ditempel. Nah, kalau kita berjumpa dengan mobil bersticker Wakaba, kita tidak boleh melajukan mobil kita ke samping mobil pemula ini. Kita juga tidak boleh memotong di depan mobil tersebut. Jika melanggarnya, kita akan dikenakan denda sekitar 650 - 900 ribu Rupiah serta kehilangan 1 poin dari SIM.

Kalau dibandingkan di Indonesia, setelah mendapatkan SIM tidak ada ketentuan khusus terkait hal yang sama dengan di Jepang. Seperti yang kita tahu bersama, kita bebas saja berkeliaran di jalanan tanpa orang tahu apakah kita pengemudi pemula atau bukan.

Menariknya, sticker Wakaba ini juga menyebar ke berbagai belahan dunia lainnya. Para pecinta mobil Jepang kerap menempelkan sticker ini agar mobil mereka punya karakter yang JDM banget. Dari sinilah, sticker Wakaba masuk menjadi kultur otomotif JDM.

Sticker Koreisha / Momiji / Yotsuba – Pengemudi Jompo

Selain pengemudi pemula, pengemudi jompo alias lanjut usia juga mendapat perhatian. Untuk pengemudi lanjut usia ini wajib menempel sticker khusus juga pada mobilnya.

Koreisha dalam bahasa Jepang artinya senior citizen atau warga negara usia lanjut. Sticker Koreisha ini berbentuk tetesan air berwarna merah-kuning. Tapi, sebenarnya ini menggambarkan daun musim gugur (Momoji). Pada 2011 pemerintah Jepang mengganti simbol ini karena dirasa kurang dipergunakan. Mereka menggantinya dengan simbol daun semanggi berkelopak empat (Yotsuba).

Yotsuba sendiri dipercayai sebagai simbol atau jimat pembawa keberuntungan. Sehingga jika dipakai pengemudi jompo akan membawa keberuntungan dan keselamatan saat berkendara. Selain itu, di bagian tengah desain simbol sticker tersebut juga tampak huruf S yang berarti "senior".

Untuk pengemudi usia 70 tahun ke atas tidak dikenakan denda jika tidak menempeli sticker ini di mobilnya. Namun sifatnya hanya sekadar himbauan saja. Tapi untuk usia 75 tahun ke atas baru kena denda.

Sama seperti sticker Wakaba. Bila kita menemukan mobil dengan sticker Koreisha, kita tidak boleh melajukan mobil kita ke samping mobil tersebut. Kita juga tidak boleh memotong di depan mobil tersebut. Bila melanggar, kita akan dikenakan denda sekitar 650-900 ribu Rupiah serta kehilangan 1 point dari SIM kita.

Menariknya lagi, orang di luar Jepang sangat gemar menempelkan sticker Yotsuba di mobil-mobil klasik keluaran Jepang.

Sticker Choukaku Shougai – Pengemudi Kurang Pendengaran

Choukaku Shougai artinya tuli atau punya masalah dengan pendengaran (tuna rungu). Jadi jelas, sticker ini wajib ditempel di mobil berpengemudi yang punya masalah dengan pendengaran. Tentu saja ini akan sangat penting. Pemerintah Jepang akan mendenda 500 ribu Rupiah dan kehilangan 1 poin dari SIM-nya jika kedapatan melanggar ketentuan ini.

Bila kita menemukan mobil dengan sticker Choukaku Shougai, kita tidak boleh melajukan mobil kita ke samping mobil tersebut. Kita juga tidak boleh memotong di depan mobil tersebut. Bila melanggar, kita akan dikenakan denda sekitar 650-900 ribu Rupiah serta kehilangan 1 point dari SIM kita.

Stikcer Choukaku Shougai berbentuk kupu-kupu berwarna kuning dengan latar hijau. Bentuk (sayap) kupu-kupu ini melambangkan dua daun telinga.

Sticker Shintai Shougai Mark – Pengemudi Penyandang Disabilitas

Mungkin simbol ini sudah banyak yang tahu lantaran kerap digunakan di seluruh belahan dunia. Yaitu gambar orang dengan kursi roda berwarna biru putih. Ya, sticker Shintai Shougai yang ditempeli di mobil ini artinya pengemudi adalah penyandang disabilitas (cacat).

Sticker Shintai Shougai sama berwarna putih biru, hanya saja simbolnya berupa daun semanggi putih. Sepertinya sama halnya dengan Yotsuba Sign, ini juga dimaksudkan sebagai good luck charm.

Berbeda dengan sticker-sticker sebelumnya, sticker Shintai Shougai tidak dikenakan denda apabila tidak dipergunakan. Pemerintah hanya menganjurkannya saja. Tetapi, sama halnya dengan sticker lainnya, kita harus waspada dengan mobil dengan sticker Shintai Shougai.

Peraturan yang sama tetap diterapkan. Kita tidak boleh melajukan mobil kita ke samping mobil tersebut. Kita juga tidak boleh memotong di depan mobil tersebut. Bila melanggar, kita akan dikenakan denda sekitar 650-900 ribu Rupiah serta kehilangan 1 point dari SIM kita.

Nah, demikian tadi ulasan macam-macam sticker yang digunakan untuk mengidentifikasi jenis-jenis pengendara di Jepang. Poin menariknya di sini adalah sticker-sticker tersebut kemudian menjadi tren dan masuk ke dalam bagian kultur otomotif JDM. Dengan begitu, sticker-sticker ini juga kerap ditemukan di berbagai belahan dunia, mekipun tidak sesuai dengan fungsinya.

Sebagai informasi tambahan, negara tetangga rupanya telah menerapkan peraturan serupa. Namun dengan desain lebih simpel yakni sticker inisial L yang berarti "Learner" alias masih belajar. Selain itu juga ada "P" yang berarti Probationary atau percobaan.

Hmm... kalau ini baik dan berguna untuk menjamin keselamatan berkendara, kapan ya Indonesia menerapkan peraturan seperti ini?

SAMPAIKAN KOMENTAR