Indirect Injection Dengan Direct Injection, Lebih Bagus Mana?
02
Apr
0 Comment Share Likes 745 View

Sebuah mesin yang ada didalam sebuah mobil dapat bekerja karena banyak kontribusi dari banyak sekali part didalamnya. Tidak hanya dengan adanya piston yang digerakkan oleh Crank shaft saja, tapi tanpa adanya pengapian, mesin tersebut tidak akan bisa bergerak.

Begitu pun ketika mesin sudah mempunyai piston dan pengapian, mesin tersebut tidak akan bisa bergerak jika tidak ada bahan bakar yang di ledakkan. Tapi tidak sampai di situ saja, kalau tidak ada asupan angin kedalam ruang bakar, api yang memantik tersebut tidak akan bisa membakar uap bensin jika tidak ada tambahan udara. Ya, memang sebuah mesin itu dapat bekerja karena banyak kontribusi didalamnya.

Nah, kita berbicara soal asupan bahan bakar dari tangki yang masih berupa cairan dan diubah menjadi kabut agar bisa diledakkan lebih mudah didalam ruang bakar. Dahulu, sebuah mesin dari kendaraan mengandalkan yang Namanya karburator untuk mengubah cairan bahan bakar menjadi kabut agar bisa diledakkan.

Karburator pun ada banyak macam jenisnya mulai dari single karburator hingga satu mesin yang menggunakan dua buah karburator atau bahkan empat buah karburator sebagai system pengkabutannya.

Tapi seiring dengan berkembangnya zaman dan semakin memikirkan efisiensi, system pengkabutan karburator yang dikenal boros bahan bakar mulai ditanggalkan. System pengkabutan tersebut dirubah dengan system yang lebih efisien dimana dapat menyemburkan bahan bakar sesuai dengan kebutuhan dari ruang bakar secara otomatis. System tersebut dikenal dengan nama system injeksi

Secara prinsip perbedaan antara mesin mobil dengan sistem EFI dan karburator adalah terletak pada cara atau metode pemasukan bahan bakar ke ruang bakar mesin.

Pada sistem karburator, bahan bakar masuk keruang mesin karena terdapat hisapan dari mesin, sedangkan pada mobil efi atau injeksi bahan bakar masuk ke mesin karena di semprotkan oleh injektor, bahan bakar di tekan oleh fuel pump dan saat penyemprotan serta volumenya di atur oleh ECU berdasarkan sensor-sensor.

System EFI atau Engine Fuel Injection ini sebenarnya ada beberapa jenis atau tipe. Biasanya mesin EFI yang kerap dijumpai terbagi menjadi dua yaitu EFI tipe D dan EFI tipe L.. Pada sistem injeksi tipe D, pengukuran tentang udara yang dihisap mesin menggunakan Vacuum sensor yang mendeteksi kevacuuman di dalam Intake Manipol, alat sensor nya di kenal dengan MAP Sensor atau Manipol Absolute Pressure. Besarnya tingkat kevacuuman yang terdapat pada intake manipol di informasikan ke ECU untuk menentukan banyak sedikitnya bbm yang di injeksikan melalui Injektor.

Sedangkan pada sistem EFI tipe L, banyak dan sedikitnya udara yang masuk di ukur menggunakan air flow meter,informasi banyak sedikitnya udara yang melewati Air flow meter ini diteruskan ke ECU untuk memberikan banyaknya suplai BBM yang akan diinjeksikan melalui injektor.

Mobil EFI tipe D menggunakan MAP sensor yang terhubung dengan slang ke Intake Manipol setelah Throttle Valve dan Mobil EFI Tipe L menggunakan Air Flow Meter atau MAF (Mass Air Flow) yang di tempatkan sebelum throttle Valve.

Nah itu baru pada system injeksi secara keseluruhan. Jika di kerucutkan lebih dalam lagi sebenarnya system injeksi terbagi lagi menjadi dua yaitu Direct Injection dengan Indirect Injection. Mungkin ketika kita mendengar kata kata direct injection, kita langsung teringat dengan emblem yang kerap menempel di body sebuah mobil yang menggunakan mesin diesel.

Ya memang system direct injection ini memang kerap digunakan pada mesin diesel, tapi bukan berarti mobil mobil yang menggunakan mesin bensin belum ada yang menggunakan system direct injection. Salah satu mesin yang telah menggunakan direct injection diantaranya adalah HR12DDR milik Nissan.

Penemuan system direct injection itu sendiri berawal dari adanya fenomena overlap camshaft. Overlap camshaft merupakan timing dimana katup masuk dan buang terbuka bersamaan. Artinya, ketika katup masuk sudah mulai terbuka, tapi katup buang belum menutup secara sempurna. Saat fenomena itu terjadi mengakibatkan bahan bakar yang masuk sebagian turut terbuang saat proses penyemburan bahan bakar tersebut terjadi.

Agar hal itu tak terjadi, beberapa produsen menerapkan teknologi direct injection di dapur pacu. Posisi injektor di dalam ruang bakar membuat kebutuhan bahan bakar dapat diprogram sepresisi mungkin. Baik dari segi jumlah bahan bakar yang disemprotkan, maupun waktu penyemprotannya.

Pada mesin yang telah dilengkapi turbo, hal ini semakin efektif lantaran tekanan turbo dapat dibuat setinggi mungkin tanpa takut terjadi gejala knocking. Namun, material injektor yang digunakan harus tahan terhadap kompresi mesin membuat biaya produksinya jauh lebih mahal ketimbang injektor yang diletakan di intake manifold.

Direct injection atau dalam bahasa indonesia artinya injeksi langsung adalah sistem dimana injektor/nozzle diletakan langsung didalam (bagian atas) ruang pembakaran. Sistem direct injection ini biasanya memiliki desain kepala silinder yang berbentuk mahkota untuk meningkatkan turbulensi saat terjadi pembakaran

Sedangkan indirect injection / injeksi tidak langsung adalah kondisi dimana injektor tidak diletakkan didalam ruang bakar seperti direct injection. Namun terdapat satu ruangan lagi dalam ruang bakar tersebut yang disebut swirl chamber. Swirl chamber adalah ruang dimana injektor ditempatkan di kepala silinder / head cylinder, sehingga saat piston melakukan langkah TMA (Titik Mati Atas) sebagian besar udara yang masuk lewat langkah hisap akan masuk ke dalam swirl chamber dan terjadilah pembakaran di swirl chamber tersebut dan menjadi sumber tenaga dalam mesin tersebut.

Keuntungan dari Direct Injection:

  • Saat mesin dingin lebih mudah dihidupkan
  • Lebih hemat dalam pemakaian bahan bakar
  • Ruang bakar yang lebih kecil membuat efisiensi panas menjadi lebih baik.

Kerugian dari Direct Injection:

  • Cederung suara mesin lebih kasar dan bising
  • Lebih rentan terhadap penyumbatan dalam injektor karena lubang injektor lebih kecil
  • Output tenaga yang cenderung lebih kecil
  • Turbulensi kecil pada kecepatan rendah

Keuntungan dari Indirect Injection:

  • Tingkat turbulen yang tetap tinggi di berbagai putaran mesin
  • Tidak memerlukan sistem injeksi yang tinggi
  • Kecil kemungkinan untuk terjadinya penyumbatan pada injektor

Kerugian dari Indirect Injection:

  • Konsumsi BBM yang kurang efisien dan perpindahan panas yang rendah
  • Rasio kompresi yang lebih tinggi dibutuhkan saat start

 

SAMPAIKAN KOMENTAR