Holden Torana SL 1972, Armada Taksi Pertama Blue Bird
13
Jul
0 Comment Share Likes 177 View

Siapa dari Pria Intersport di sini yang tidak kenal taksi Blue Bird? Pasti tahu semua dong. Pasalnya, Si Burung Biru merupakan perusahaan taksi, rental mobil, bus, minibus terbesar di Indonesia. Raihan perusahaan transportasi yang besar tersebut tidak dilalui dengan waktu yang singkat. Sejarah panjang Blue Bird menapaki perjalanan sebagai pionir perusahaan taksi di Indonesia dimulai sejak tahun 1972. Menjadi perusahaan transportasi yang besar, Blue Bird kini disebut memiliki 30.000 armada yang tersebar di seluruh Indonesia.

Tapi dari perjalanan panjang Blue Bird tentu menarik jika melihat unit pertama Blue Bird. Ya, Holden Torana lansiran tahun 1972 adalah jawabannya. Sedan kompak asal Amerika Serikat ini mengawali perjalanan perusahaan Blue Bird yang kini termasuk menggunakan Tesla X di taksi listriknya. Menarik? Yuk, kita simak profil Holden Torana yang kini mejeng menghiasi lobi markas pusat Blue Bird di Mampang, Jakarta dan Museum Transportasi ini.

Awal Mula Holden Torana Sebagai Armada Taksi

Holden Torana lansiran 1972 awalnya memang lebih menjadi pilihan karena saat itu, di awal pendirian Blue Bird, mobil asal Amerika Serikat lebih populer ketimbang Jepang. Dengan konfigurasi setir kanan, Holden Torana pun berhasil diimpor dari Australia melalui pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Saat itu tercatat ada 25 unit Torana yang digunakan sebagai kloter pertama taksi Burung Biru.

“Saya memulai usaha ini dengan 25 taksi. Saya masih ingat betapa gembira dan gugupnya saya ketika 25 taksi tiba dari Surabaya dan masuk ke depot pertama saya,” pesan almarhumah Mutiara Fatimah Djokosoetono, pendiri PT Blue Bird Taxi, seperti tertulis dalam situs resmi Blue Bird Group.

Sedan kompak ini kemudian menghiasi jalanan ibu kota Jakarta yang tentunya dulu masih sangat lengang. Sebagai gambaran, Torana lansiran tahun 1975 sempat muncul di film sepanjang masa, Warkop DKI - Mana Tahan (1979).

Ingat?

Lebih spesifik lagi, saat Indro berperan sebagai supir taksi.

Ingat?

Ya, itu yang akhirnya diserbu penumpang anak-anak kecil banyak banget. Nah, itu adalah Holden Torana, tapi keluaran 1975. Perbedaan yang kentara ada di bentuk lampu utamanya. Kalau tahun 1972 bentuknya bulat, kalau 1975 bentuknya kotak.

Spesifikasi Holden Torana 1972

Holden Torana 1972 yang terparkir menghiasi lobi kantor pusat Blue Bird, Mampang, Jakarta ini diketahui menggendong mesin berkapasitas 2.834 cc serta dilengkapi watercooled 4-stroke. Mesin ini diklaim mampu hasilkan daya sebesar 119 HP pada putaran 4.400 RPM serta torsi 226,8 Nm pada 2.000 RPM.

Memang, di Indonesia yang dijual hanya Holden Torana seri SL. Sementara Holden Torana SLX yang punya mesin lebih bertenaga dan liar tidak masuk ke Indonesia walau ada beberapa yang terdampar disini dengan jumlah yang sangat terbatas.

Torana versi Indonesia ini memakai mesin Holden red engine berkapasitas 2850cc atau 173cu. Mesin ini memiliki konfigurasi inline 6 silinder OHV 12 valve dengan karburator untuk pemasok bahan bakarnya. Dibandingkan dengan mesin red yang terpasang di Holden Kingswood, mesin Torana ini punya kopresi yang lebih rendah dan oleh sebab itu tenaga maksimalnya hanya 112Hp dan torsi 220Nm. Untuk menggerakkan roda belakangnya, digunakan transmisi manual 4 percepatan standar pada jaman itu.

Tampilan Eksterior Holden Torana 1972

Dari tampilan luarnya, Holden Torana memang sekilas terlihat layaknya muscle car. Lampu utamanya yang membulat dan sisi kiri dan kanan grille yang menjorok ke dalam menguatkan karakter mobil Amerika-nya. Di bagian bodi sampingnya terpampang logo lama Blue Bird hingga perhatian terarah ke spionnya. Sayang, spion kirinya raib entah kemana. Meskipun semua bagian diklaim masih orisinil, namun memang ada diakui ada perbaikan pada komponen-komponen karetnya yang rusak dimakan usia.

Layaknya mobil “jadul”, taksi Blue Bird pertama Holden Torana 1972 ini belum dilengkapi fitur power steering dan AC. Menariknya lagi, sistem hitung ongkos berdasarkan kilometer masih menggunakan alat mekanis. Selain itu sistem argo ini cukup populer hingga sekarang karena keunikannya. Argo tersebut diberi julukan "argo jewer". Karena memang untuk menggunakannya harus "dijewer" tuasnya.

Kenangan di Dalam Taksi Blue Bird Dulu

Menurut salah satu pegawai kantor Blue Bird, ada sesuatu yang paling diingat dari taksi ini, yaitu suara berisik di kabin yang tidak bisa dihindari. Suara berisik ini bukan datang dari luar, melainkan dari suara radio konvensional yang campur aduk saat perusahaan dan supir bertukar informasi. Namun setelah itu, era komunikasi tersebut pun mulai mengalami perbaikan. Blue Bird mulai mengadaptasi sistem komunikasi automated number identification sebelum akhirnya digitalisasi seperti yang digunakan taksi-taksi modern sekarang.

Tidak bisa dipungkiri memang, kenangan di dalam taksi Blue Bird tentu akan terus berubah seiring perkembangan zamannya. Seperti sekarang misalnya, dengan menggunakan aplikasi lewat smarphone, kadang ada chat-chat yang lucu lantaran salah ketik alias typo. Nah, hal-hal ini tentu akan berubah dan menjadi kenangan di masa depannya, bukan?

Masih Tetap Dirawat dan Dijaga Orisinalitasnya

Hingga sekarang, taksi lawas ini tetap terpelihara dengan baik. Pasalnya, salah satu staf Blue Bird mengatakan bahwa mobil ini akan dibawa keliling kantor dari lobi menuju pool armada yang terletak di belakang untuk mendapat perawatan berkala. Tak hanya itu, dilihat dari plat nomor kendaraannya, Holden Torana ini pun diketahui masih aktif hingga 2022.

Kini unit Torana Blue Bird hanya tinggal tersisa dua unit saja. Masing-masing ada di lobi Blue Bird pusat di Mampang dan Museum Transportasi milik Departemen Perhubungan, Jakarta Timur.

SAMPAIKAN KOMENTAR