Deretan Insiden Yang Tidak Dicover Asuransi
09
May
0 Comment Share Likes 76 View

Asuransi kendaraan sangat bermanfaat dalam meringankan beban risiko pada kendaraan bila terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Dengan asuransi, maka kerugian yang dialami pemilik kendaraan akan ditanggung pihak asuransi. Ada dua jenis asuransi yang bisa dipilih oleh pemilik mobil; Asuransi  comprehensive atau biasa diketahui orang dengan sebutan all risk  dan TLO.

Untuk asuransi comprehensive ini, pihak perusahaan akan membayar klaim untuk segala jenis kerusakan, mulai dari kerusakan ringan, rusak berat hingga kehilangan. Contoh Kasus; mobil terserempet oleh angkutan umum, kerusakannya minor yang membuat mobil kurang nyaman untuk dipandang. Dalam kasus ini, klaim bisa dilakukan apabila asuransi yang dimiliki ialah asuransi comprehensive.

Sedangkan asuransi TLO atau Total Lost Only (TLO) adalah istilah yang dikenal dalam asuransi kendaraan. Meski pakai embel-embel loss (hilang), tapi risiko yang ditanggung bukan sekadar kehilangan kendaraan karena aksi criminal tapi juga kerusakan. Cuma, kerusakan yang ditanggung dalam asuransi TLO ini sekurang-kurangnya 75 persen. Kerusakan 75 persen itu sengaja jadi patokan karena bisa dipastikan kendaraan itu dalam kondisi rusak parah yang tak mungkin lagi digunakan. 

Pada pokoknya, asuransi kendaraan jenis TLO adalah jenis pertanggungan asuransi kendaraan yang menjamin kerugian bila kendaraan mengalami kecelakaan dengan kerusakan di atas 75 persen, kendaraan terbakar, hilang akibat dicuri maupun perampasan paksa.

 Artinya, bila kendaraan yang diasuransikan dengan jenis perlindungan TLO mengalami kerusakan minor seperti baret di bodi, spion patah, atau kerusakan kecil lain, maka si pemilik tidak bisa klaim asuransi. Beda kasus jika mobilnya ringsek tak berbentuk akibat musibah tabrakan di mana kerusakannya di atas 75 persen maka silakan klaim.

Walaupun Anda sudah menggunakan asuransi comprehensive Anda tetap harus berhati-hati di jalan. Karena ada kondisi dimana klaim Anda tidak bisa di tanggung oleh pihak asuransi, walaupun Anda menggunakan asuransi comprehensive. Berikut beberapa di antaranya:

Kelebihan Muatan Penumpang

Selalu menaati dan memperhatikan spesifikasi mobil dalam membawa muatan penumpang. Misalnya sebuah Toyota Avanza yang didesain mengangkut 7 penumpang malah dipakai untuk membawa 10 penumpang dan terjadi kecelakaan maka tidak bisa ditanggung asuransi.

Ikut Pawai, Lomba, Karnaval dll

Jika Anda mengikut sertakan mobil Anda dalam sebuah acara pawai, karnaval atau sejenisnya dan ditengah acara terjadi kejadian yang membuat mobil rusak maka pihak asuransi tak akan menanggungnya.

Penggelapan atau Hipnotis

Penggelapan, penipuan, hipnotis dan sejenisnya. Tidak dapat ditanggung oleh pihak asuransi karena jika dilihat dari tingkat risikonya sangat tinggi dan penggelapan itu berada dalam penguasaan sang pelaku.

Pengemudi di bawah pengaruh alkohol dan komponen kendaraan aus

Penyebab kecelakaan lain seperti pengaruh alkohol atau sifat material kendaraan yang aus juga tidak bisa ditanggung pihak asuransi. Untuk sifat material kendaraan yang aus misalnya kanvas rem yang aus.

Pengemudi tidak memiliki SIM/SIM habis masa berlakunya

Pengendara yang tidak memiliki SIM juga tidak bisa mengklaim asuransi. Begitu juga pengendara yang masa berlaku SIM-nya sudah habis.

Kerusakan ban/velg/dop

Kerusakan ban/pelek/dop tanpa kerusakan lain tidak dapat diklaim. Misalnya, dalam sebuah kecelakaan yang rusak hanya ban atau peleknya saja itu tidak dapat diganti.
Tetapi jika ban rusak, pelek rusak serangkaian dengan bodi mobil dalam satu kejadian itu dapat ditanggung pihak asuransi.

Pengendara di bawah umur

Jika pihak asuransi mengetahui bahwa pengemudi mobil yang mengalami kecelakaan adalah anak di bawah umur, maka jangan heran kalau klaim asuransi mobil bakal ditolak. Jelas sekali di Undang-Undang no  22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menjelaskan, anak di bawah 17 tahun dilarang mengemudikan kendaraan. Dan mereka yang boleh mengemudi, harus memiliki Surat Ijin Mengemudi. Hal itu pun di atur dalam Pasal 281.

Modifikasi

Beberapa orang mungkin pengin terlihat mobilnya keren agar asik kalau dipakai buat mejeng. Tapi, urusan modifikasi juga aturannya lho dan gak bisa sembarangan. Penambahan beberapa aksesori memang bisa menghanguskan asuransi, terutama aksesori yang menguras aki. Agar hal itu gak terjadi padamu, maka para modifikator seharusnya melaporkan adanya penambahan aksesori non-standar ke pihak asuransi. Ketika harga aksesorinya sudah di atas Rp 10 juta, biasanya bakal ada penambahan premi lho. Oleh karena itu, jangan asal pasang aksesori kalau gak mau rugi ya.

Menerjang banjir

Sekalipun kamu mengasuransikan mobilmu dengan asuransi all risk, belum tentu pihak asuransi sepakat untuk mengcover kerusakan karena kamu menerjang banjir. Kok gitu? Karena banyak asuransi yang memasukkan banjir dalam klausul force majeur atau bencana besar, yang gak bisa jadi dasar klaim pertanggungan.

Kerusakan karena huru-hara atau sabotase teroris

Kerusakan karena peristiwa ini juga terkadang gak dicantumkan dalam polis standar. Padahal kerugiannya bisa besar sekali, bisa jadi mobilmu rusak total atau sampai terbakar. Bila kamu mau hal ini masuk ke dalam pertanggungan, maka biasanya ada penambahan paket pertanggungan yang harus kamu lakukan. Dan ketika kamu ingin mengklaim, jangan lupa untuk menyertakan foto.

Telat saat Lapor Klaim

Salah satu kebiasaan buruk dari pemilik kendaraan adalah menunda klaim jika mengalami risiko kendaraan ringan seperti gores, baret-baret atau yang lainnya. Setelah luka pada body mobil mulai banyak baru melakukan klaim. Klaim seperti ini berisiko ditolak karena batas waktu pelaporan klaim maksimal 5 hari.

Secara ketentuan seperti yang terdapat dalam PSAKBI (Polis Standar Asuransi Kendaraan Bermotor) setiap kerusakann yang di alami mobil yang di tanggungkan, pemegang polis memiliki kewajiban melaporkan kepada asuransi maksimal 5 hari sejak terjadinya kerusakan.

Memberikan Informasi Palsu

Untuk klaim dengan nilai besar, pihak asuransi memiliki bagian investigasi tersendiri. Kadangkala saat terjadi kondisi menyimpang yang berpotensi klaim ditolak nasabah menyampaikan informasi palsu. Misalnya saja nasabah mengalami risiko kendaraannya kecelakaan berat dengan kerusakan diatas 75%, sedangkan yang mengendarai adalah anaknya yang belum memiliki SIM. Agar klaim bisa masuk, pemilik kendaraan membuat laporan kepolisian bahwa dia yang mengendarai saat terjadi kecelakaan.

Saat dilakukan investigasi dari perusahaan asuransi ternyata ditemukan fakta bahwa pengendara adalah anaknya yang belum memiliki SIM. Kondisi ini berakibat klaim ditolak dan merusak reputasi Anda sendiri.

 

SAMPAIKAN KOMENTAR