Dekotora, Modifikasi Unik dan Heboh Truk Pengangkut Ikan dari Jepang
24
Dec
0 Comment Share Likes 99 View

Negeri Jepang bisa dibilang sebagai kiblat perkembangan teknologi cangghi, termasuk di dalam dunia otomotif. Cukup dengan menyebut merek seperti Toyota, Lexus, Honda, Mazda, Suzuki hingga Nissan merupakan contoh konkrit perkembangan dan inovasi teknologi bidang otomotif di dunia.

Segudang terobosan dalam bidang otomotif tersebut, serta karakter yang kuat, merupakan hasil dari budaya Jepang sendiri yang dikenal sangat unik. Budaya ini pun merambah ke dunia modifikasi truk. Memang belum banyak yang tahu, tapi modifikasi truk ala Negeri Sakura ini betul adanya.

Dekotora adalah budaya atau tren di Jepang bagi para modifikator truk. Dekotora berasal dari dua kata; "Deko" dan "Tora". Deko sendiri merupakan kependekan dari kata "decoration", sedangkan Tora adalah kependekan dari kata torakku yang berarti truk dalam bahasa Jepang.

Dekotora ini awalnya mulai muncul pada dekade 1960-an. Awalnya kebiasaan ini dilakukan oleh para pengemudi truk yang membawa hasil tangkapan laut. Tujuan "menghiasi" truk tersebut juga bukan untuk sekedar 'nampang', namun untuk melindungi truk mereka dari karat lantaran kerap membawa hasil laut yang memiliki kadar garam tinggi. Bahan stainless stell pun akhirnya dipilih. Nah, karena warnanya yang mengkilap dan mencolok mata, maka material ini yang akhirnya menginspirasi generasi pengemudi truk berikutnya untuk membuat dekotora.

Para pengemudi truk pun dikenal sangat royal demi mendandani truk mereka. Biasanya modifikasi dilakukan dengan penambahan spoiler, lampu-lampu neon beraneka warna hingga gambar mural pada box pengangkut.

Jika beruntung, tidak sedikit truk yang dirombak dengan menggunakan lentera gantung, bumper pabrikan Cadillac, sisi-sisi truk berkilauan dengan nuansa chrome, bahkan pipa-pipa besi yang bermoncong ke depan seperti lubang bazooka.

Boom Dekotora

Boom dekotora itu sendiri dimulai pada 1970-an ketika NHK menyiarkan perlombaan dekotora. Sejak saat itu, dekotora berubah dari kebutuhan menjadi hobi. Banyak pengemudi truk membuat dekotora bukan untuk melindungi truknya, tapi semata-mata untuk alasan estetis belaka.

Stainless stell dekotora yang awalnya berfungsi untuk melindungi badan truk juga diganti dengan bahan lain yang tidak punya fungsi untuk melindungi. Saking booming-nya dekotora pada periode ini, Film berjudul Torakku Yarou pun muncul yang tak lain terinspirasi dari budaya dekotora sendiri.

Sayangnya, lantaran modifikasinya dianggap berbahaya, maka pada akhir 1970-an pihak kepolisian Jepang mengeluarkan aturan mengenai pembatasan modifikasi dekotora. Budaya modifikasi ini dianggap membahayakan pengguna jalan lain, karena tendensi "pelaku" dekotora lebih mementingkan tampilan truknya dibanding keamanannya.

Jika melihat ke berbagai gambar yang dihimpun dari berbagai sumber ini, modifikasi truk dekotora memang cukup ‘seronok’, ya? Dengan tampilan yang heboh, bukan cuma menyita perhatian mata tapi juga decak kagum khalayak. Pantas saja bisa dilarang, lampunya ramai begitu.

Oleh karena itu, sekitar tahun 1990-an, dekotora semakin memudar karena banyak perusahaan besar yang melarang pengemudinya membuat truknya dimodifikasi gaya dekotora.

Dekotora Model Plastik

Selain truk aslinya, seperti film dekotora yang muncul, budaya modifikasi ini pun merambah ke industri mainan. Mainan dekotora pun sering disebut Dekotora Plastic Model. Merunut kembali ke asal-usul nama dekotora, adalah perusahaan mainan Aoshima Bunka Kyozai yang memperkenalkan nama tersebut melalui produksi mainannya pada tahun 1976.

Demikian tadi sekilas mengenai budaya modifikasi truk asal Negeri Matahari Terbit, Dekotora. Mungkin, Indonesia juga sudah melakoni budaya modifikasi seperti ini. Tapi bukan di truk, melainkan odong-odong.

SAMPAIKAN KOMENTAR