Begini Akibatnya Beli Ferrari Bukan di Diler Resminya
10
Jan
0 Comment Share Likes 365 View

Bermimpi punya mobil mewah, sekalinya lihat ada yang jual dengan harga yang bisa dijangkau, langsung gak pikir panjang lagi untuk membelinya. Walaupun yang menjual bukan diler resmi yang memiliki sertifikasi, bro.

Seperti yang terjadi pada Hamid Adeli, ketika dia membeli Ferrari F430 di diler Mercedes-Benz bernama Superior Automotive Group di Arkansas, Amerika Serikat. Hamid membeli mobil asal Italia ini setelah berkomunikasi via telepon, pesan singkat, dan video chat. Tanpa mendatangi langsung diler tersebut dan melihat kondisi mobilnya.

Setelah perbincangan panjang, akhirnya transaksi pun dilakukan. Hamid membayar US$ 90.000 atau sekitar Rp 1,29 milyar untuk Ferrari F430 yang diinginkannya. Diler Mercedes tersebut kemudian mengirim Ferrari F430 ke pre-purchase inspection di diler Ferrari di Texas, Amerika Serikat. Setelah semua beres, selanjutnya Ferrari tersebut dikapalkan ke Virginia, tempat tinggal Hamid.

Sesampainya Ferrari tersebut di rumahnya, Hamid pun langsung mengetes mobil tersebut. Di sinilah, baru Hamid menyadari ada keanehan pada mobil barunya tersebut, bro. Hamid mencium bau bensin dan bau yang semakin membusuk ketika mobilnya diparkir di garasi.

Setelah itu, Hamid pun langsung menderek Ferrari miliknya ke bengkel Ferrari. Setelah melakukan inspeksi sendiri bersama montir di bengkel tersebut, baru ketahuan bahwa ada kebocoran di pompa bahan bakarnya, suspensi bermasalah, dan knalpot yang pecah.

Superior Automotive Group pun menolak untuk membayar ganti rugi dan mengaku sudah menjual mobil seperti apa adanya. Akhirnya, Hamid pun membawa kasus ini ke pengadilan. Ketika di pengadilan, hakim fokus ke bagian knalpot. Mengapa diler Ferrari di Texas sampai bisa tidak menyadarinya? Menurut bon hasil inspeksi yang diterima Hamid, bagian tersebut bahkan tidak pernah diperiksa.

Hakim pun memutuskan bahwa Superior Automotive Group terbukti bersalah dan harus membayar denda sebesar US$ 5,8 juta atau sekitar Rp 83,6 milyar.

SAMPAIKAN KOMENTAR