Bagaimana Sih Penilaian Formula Drift?
21
Sep
2019
0 Comment Share Likes 481 View

Pria Intersport pasti sudah sangat familiar sama kejuaraan Formula Drift, dong? Sudah sejauh mana tahu teknis kejuaraan ini, terutama soal cara penilaiannya? Artikel ini sekadar bentuk sharing saja, mungkin jika ada kesalahan bisa diwartakan di kolom komentar, kok.

Tanpa perlu menjelaskan panjang lebar soal drift atau drifting, kejuaraannya bisa dibilang masih asing di sebagian besar masyarakat. Kejuaraan drift berbeda dengan pertandingan balap mobil lainnya. Dalam kejuaraan drift, pebalap tidak beradu kecepatan untuk menuju garis finish. Bahkan bisa untuk trek balapnya sendiri sangat singkat. Ya, mungkin untuk sekali run atau satu pertandingan bisa di bawah satu menit, lah.

Serunya, kejuaraan drift dilakukan dengan sistem penilaian atau penjurian. Beberapa aspek kriteria akan dinilai oleh para juri dan pebalap dengan poin terbanyak akan dinyatakan sebagai pemenangnya. Dari sini saja sudah jelas perbedaannya, ya dengan ajang motorsport lainnya. Sebagai perbandingan, mungkin kejuraaan drift mirip-mirip sama kejuaraan skateboard atau freestyle motorcross, lah.

Salah satu kejuaraan drift yang paling populer dan bergengsi di dunia adalah Formula Drift. Kejuaraan ini terbilang masih baru dibandingkan kejuaraan mobil dunia lainnnya seperti Formula 1, Nascar, Le Mans, dan lainnya. Meskipun demikian, Formula Drift perlahan-lahan semakin populer di mata penggemar drift dunia maupun car enthusiat yang mulai tertarik dengan drift.

Penjurian Formula Drift

Seperti yang sudah disinggung di atas, kejuaraan drift menggunakan sistem penjurian demi menentukan pemenangnya. Umumnya, jumlah juri ada 3 orang. Juri-juri tersebut merupakan juri profesional dan veteran drifter. Para juri nantinya akan memberikan skor dengan mempertimbangkan kriteria penilaian yang sudah ditentukan. Biasanya skor tertinggi yang diberikan adalah 100 poin. Perlu disampaikan juga, pada beberapa kejuaraan drift lain, satu orang juri akan fokus untuk menilai satu jenis kriteria penilaian saja. Misalnya, juri A menilai line, juri B menilai angle, dst. Nah, skor dari seluruh juri kemudian diakumulasi dan dihitung rata-ratanya. Inilah skor akhir dari pebalap sebelum akhirnya ditentukan pemenangnya.

Pada kejuaraan Formula Drift, sistem scoring dilakukan dengan sistem kurasi skor berdasarkan kesalahan yang dilakukan oleh pebalapnya. Setiap pebalap memiliki skor 100 di awal pertandingan, kemudian skor akan berkurang seiring kesalahan yang dilakukan dengan kriteria tertentu. Semakin berat jenis kesalahan maka semakin besar juga skor yang berkurang.

Hasil skor setiap pertandingan akan langsung diputuskan dan ditampilkan secara live pada big screen di arena pertandingan. Tentunya, para juri akan diposisikan di tempat dengan pandangan jelas, mampu melihat seluruh area trek balap drift. Apabila tetap ada titik-titik yang rentan blindspot, maka juri akan memerintahkan panitia untuk menempatkan kamera. Instant replay akan digunakan dari kamera ini untuk menambah akurasi penilaian jadi lebih baik dan obyektif.

Kejuaraan yang menggunakan sistem penjurian terkadang rentan dengan keputusan yang rancu. Pada Formula Drift transparansi penilaian adalah hal yang penting. Setiap kerancuan akan segera diklarifikasi oleh para juri dengan langsung memberikan alasan dan analisis terhadap keputusan yang diambil.

Kriteria Penilaian

Line

Dalam dunia balap, sangat familiar tentang racing line yaitu garis imajiner pada balapan. Garis ini kemudian digunakan oleh para pebalap yang didapat saat latihan ketika cornering. Nah, line di sini memiliki pengertian yang hampir sama, hanya saja dioptimalkan untuk keperluan drifting. Selain itu, juri telah menentukan jalur atau garis lintasan mana saja yang harus dilalui oleh para pebalap.

Dalam racing line terdapat clipping points. Ini adalah titik-titik yang telah ditentukan dan harus didekati oleh pebalap sedekat mungkin. Titik-titik yang ditempatkan berupa pole, tiang atau marka (tanda) lainnya di sepanjang garis (line). Rear clipping point ditempatkan di luar trek dan harus didekati oleh bagian belakang mobil. Sebaliknya, front clipping point ditempatkan di dalam track dan harus didekati oleh bagian depan mobil.

Jadi, bisa disimpulkan ya Mas Bro, nge-drift enggak bisa sembarangan begitu saja. Tapi memang ada jalur dan titik-titik yang telah ditentukan untuk dilalui atau didekati.

Angle

Intinya, angle di sini artinya adalah besaran sudutnya. Semakin ‘kepot’ dari semakin besarnya angle juga akan mempengaruhi kecepatan mobil yang juga jadi kriteria penilaian lainnya. Nah, pebalap harus menemukan balance yang tepat antara keduanya, tuh.

Ketika menilai angle, para juri juga akan memperhatikan input steering dan kemulusan transisi di setiap corner. Ketika ‘kepot’ pembalap bisa mengoreksi besaran angle ini dengan mengubah steering input. Nah, di sinilah penilaian akan ditentukan. Semakin minimal koreksi yang dilakukan, semakin bagus penilaian.

Style

Kriteria ini memiliki beberapa sub-kategori aspek penilaian yaitu inisiasi, kestabilan, dan komitmen.

Inisiasi dilihat pada awal mobil ‘ngesot’ di setiap corner. Mobil manakah yang lebih cepat melakukan inisiasi untuk drift dengan angle besar dan koreksi minimal. Drift yang smooth dan minimum koreksi sepanjang lintasan trek memiliki penilaian kestabilan yang baik. Komitmen dinilai dari kestabilan akselarasi, kestabilan jarak dengan clipping points, kestabilan jarak dengan mobil lead (saat tandem).

Suara raungan mesin dan banyaknya kepulan asap ban juga bisa diperhitungkan pada kriteria style ini.

Speed

Speed sebenarnya masuk juga ke dalam beberapa kriteria penilaian di atas. Semakin cepat mobilnya sambil ‘ngesot’ maka penilaian akan semakin baik. Kecepatan juga diperhatikan pada konsistensi pebalap pada kecepatannya di setiap corner sepanjang lintasan.

Kecepatan pada corner pertama atau entry awal akan dipantau melalui alat speed trap. Kecepatan selanjutnya sampai akhir lintasan akan dinilai berdasarkan mata para juri secara subjektif.

 

SAMPAIKAN KOMENTAR