Adu Banding Turbocharge VS Supercharge
05
Jul
0 Comment Share Likes 274 View

Turbocharge dan Supercharge memang bukan bagian yang menyatu dengan mesin. Namun saat ini, dari segi kemampuan sangat dilirik oleh Car Enthusiast. Kedua piranti ini mulai ‘menggusur’ anggapan mesin mobil ber CC kecil tidak dapat bersaing dengan mobil bertenaga besar. Seperti yang telah kami bahas pada artikel ‘Pakai Supercharge dan Turbo? Kenapa Ngga!

Namun tidak ada salahnya kami, me-refresh tentang informasi Turbocharge dan Supercharge pada para Pria Intersport. Pada dasarnya, kedua piranti ini memiliki kemampuan dalam meningkatkan pasokan udara yang dibutuhkan mesin dalam terjadinya proses pembakaran. Sistem kerja termudahnya adalah Turbocharge dan Supercharge sebagai kompresor turbin yang menghisap udara dari luar mesin dan memasukan melalui saluran intake manifold. Walau memiliki kinerja yang sama, tetapi keduanya memiliki perbedaan pada penggerak turbinnya.

Dengan menggunakan Turbocharge dan Supercharge, tenaga yang dihasilkan dapat meningkat secara signifikan. Bhakan dalam dunia balap, kedua piranti ini lebih sering dipercaya sebagai penambah tenaga. Agar lebih jelas, berikut tentang perbedaan sistem kerja dari Turbocharge dan Supercharge yang digunakan pada mobil.

 

Turbocharge

Turbocharger, diciptakan oleh Alfred Buchi - seorang Insinyur dari Swiss yang telah dipatenkan pada 1905. Awal penggunaannya pada Perang Dunia II, pengaplikasian pada mobil baru dilakukan pada 1960 dan berlanjut hingga saat ini dengan beragam inovasi.

Turbocharge atau turbo merupakan salah satu Forced Induction System atau ‘sistem induksi paksa’ yang bertujuan untuk meningkatkan tenaga atau power mesin secara instan. Hasil dari gas buang sebuang mobil yang dimanfaatkan oleh Turbocharge. Kuncinya sistem kerjanya adalah suplai udara lebih padat dan lebih banyak ke dalam ruang bakar sehingga peningkatan performa yang signifikan. Pada dasarnya turbo terbagi menjadi dua bagian, yaitu Turbine Housing (bagian yang akan dilewati oleh gas pembuangan (CO2)) dan Compressor Housing (lalui oleh udara (O2)) untuk masuk kedalam ruang bakar. Setiap housing terdiri dari sebilah kipas yang saling terhubung.

Dengan menggunakan Turbocharge, tenaga mobil dapat meningkat tetapi juga berpengaruh pada efisensi bahan bakar. Hal ini disebabkan suplai udara secara konsisten yang dihasilkan dari piranti Turbocharge.

Penjelasannya sebagai berikut: 


Prinsip kerja dari turbo sangatlah sederhana, gas buang yang dihasilkan oleh mesin menghasilkan sebuah daya dorong. Maka semakin tinggi putaran mesin (RPM) akan membuat semakin besar daya dorong yang dihasilkan. Daya dorong tersebut membuat kipas pada Turbine Housing berputar dan perputaran pada kipas Turbine Housing otomatis akan membuat bilah kipas pada Compressor Housing berputar. Saat kipas Compressor Housing berputar maka, turbo akan mengisap memadatkan udara dalam jumlah besar, kemudian dikirim pada ruang bakar dan pada saat itulah performa mesin dapat melonjak secara instan.

Suhu udara yang dihisap oleh turbo menjadi lebih panas, dan kita semua tahu bahwa udara yang panas memiliki kadar O2 yang lebih rendah dan dapat mengurangi kualitas pembakaran. Maka dari itu udara yang telah dipadatkan harus melewati Intercooler agar udara kembali dingin dan memilki kadar O2 yang cukup, sebelum masuk ke ruang bakar.

 

Turbocharger memiliki wastegate (sebuah perangkat yang mengatur tekanan di mana gas buang mengalir ke turbin dan membuka atau menutup ventilasi) sehingga piranti ini dapat menekan emisi.

 

Kekurangan Turbocharge

Turbocharger baru dapat bekerja setelah mesin berputar pada rpm tertentu agar gas buang memiliki cukup tekanan untuk memutar turbin sekunder. Oleh karena itu ketika mesin merangkak dari rpm bawah hingga turbo bekerja optimal akan terasa ada 'hentakan' yang disebut sebagai 'turbolag'.

Demi mengatasi kendala tersebut, para perancang turbocharger telah menyiasati melalui teknologi bernama ‘variable turbine geometry’. Teknologi tersebut memiliki disain kisi-kisi turbin dengan kemiringan yang dapat diatur sesuai kebutuhan. Tujuannya saat berputar rendah, turbin utama sudah bisa memberikan tekanan yang cukup. Setelah putaran ideal tercapai, kisi-kisi tadi berubah ke posisi semula.

Putaran turbin turbocharger sangat cepat dapat mencapai 250.000 rpm sehingga membutuhkan pelumasan yang baik untuk menjaga poros turbin tak cepat aus. Terlebih perangkat ini dibuat sangat presisi. Umumnya turbo memanfaatkan pelumas mesin yang dipompakan pada perangkat turbo. Agar lebih awet, tidak dianjurkan mesin dengan piranti turbo untuk dimatikan langsung ketika habis digeber pada kecepatan tinggi. Hal ini untuk menghindari suplai oli terhenti karena pada saat itu turbo masih berputar cepat akibat gaya inersia yang masih tersimpan.



 

Supercharge

Pada Awalnya, Supercharge merupakan hasil karya dari kakak beradik Philander dan Francis Marion Roots dari Connersville, Indiana – Amerika Serikat pada 1860. Namun awalnya hanya digunakan untuk meniupkan angin pada tungku pembuat besi. Kinerja dari Supercharge pada dasarnya membutuhkan sumber putaran untuk menggerakkan komponen didalamnya yakni berupa sepasang Lobe dengan rongga (roots supercharge) atau berupa ulir (twin scroll supercharge).

Untuk Supercharge pada mesin mobil, sumber putarannya tentu diambil dari mesin mobil itu sendiri. Sekitar sepertiga dari daya mesin yang digunakan sehingga banyak pendapat mengatakan supercharge kurang efisien dibanding Turbocharge. Namun kemampuan yang diunggulkan dari Supercharge adalah lebih spontan karena dapat bekerja sejak rpm rendah. Peningkatan tenaga pun cukup halus karena putaran turbin sesuai dengan putaran mesin.

Pergerakan dari turbin diperoleh dari pulley Supercharge yang terhubung melalui belt pada crankshaft mesin. Putaran pulley yang terhubung pada turbin supercharger bertugas menghisap dan memampatkan udara. Kemudian udara yang telah terkompresi akan dialirkan ke ruang bakar sehingga meningkatkan tekanan di ruang bakar.

Kekurangan Supercharge

Sebagian supercharger adalah efisiensi adiabatik lebih rendah dibandingkan dengan turbocharger (terutama [[Supercharger model-akar]). Efisiensi adiabatik adalah ukuran kemampuan kompresor untuk memampatkan udara tanpa menambah panas tambahan ke udara tersebut. Proses kompresi selalu menghasilkan panas sebagai produk sampingan dari proses itu. Tetapi pada kompresor yang lebih efisien akan menghasilkan lebih sedikit panas berlebih.

Supercharger model-akar menghasilkan panas berlebih ke dalam udara daripada turbocharger. Hasilnya, dengan volume dan tekanan udara yang sama, udara turbocharger lebih dingin dan sebagai hasilnya lebih padat dengan mengandung molekul oksigen lebih banyak. Pada akhirnya tenaga potensial yang dihasilkan akan lebih besar daripada udara supercharger.

 

Jadi untuk memilih akan menggunakan Turbocharge atau Supercharge sangat tergantung mesin mobil. Tidak semua mesin mobil dapat menggunakan turbocharge, begitu pula sebaliknya. Supercharger mampu memberikan dorongan pada RPM rendah daripada turbocharger. Sementara turbocharger bekerja lebih baik pada putaran mesin tinggi. Sementara jika para Pria Intersport ingin keduanya diaplikasikan pada mobil kesayangan, Kombinasi turbocharger dan supercharger agar dapat menghilangkan kelemahan keduanya. Teknik ini disebut twincharger.

 

 

 

SAMPAIKAN KOMENTAR